Kerajaan Maut

Anugerah Keselamatan

Belum ada komentar 347 Views

Pak Pendeta yang budiman,
Saya sudah termasuk lansia dan dibaptis sekian puluh tahun yang lalu. Buku pedoman katekisasi yang dipakai waktu itu adalah Katekismus Heidelberg yang sekarang konon sudah tidak dipakai lagi atau sudah diperbarui. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, banyak hal dianggap ‘usang’ lalu dibuatlah perubahan-perubahan. Misalnya hal yang baru-baru ini dilakukan: Perjamuan Kudus yang tadinya hanya boleh diikuti oleh warga jemaat yang sudah sidi/mengaku percaya, sekarang melibatkan anak-anak.

Samakah istilah dan maksud kasih karunia dengan anugerah keselamatan? Mungkinkah Allah menarik kasih karunia-Nya? Bagaimana dengan anugerah keselamatan yang kita terima sewaktu sidi/mengaku percaya, apakah anugerah ini menjamin keselamatan kita untuk seterusnya sampai ajal kita? Atau bisa gugur di tengah perjalanan kehidupan kita sebagai musafir Kristen? Kalau saya tidak salah pengertian, banyak ayat Alkitab yang mendukung hal ini. Sebagai contoh, orang-orang Farisi yang sudah menjadi pejabat sinagoge masih dikritik oleh Yesus. Juga murid-Nya sendiri, Yudas Iskariot, yang tentunya diharapkan untuk setia, namun bisa apes dan mati mengenaskan.

Mohon pencerahan apa yang menjadi pegangan/ajaran sinode GKI pada umumnya dan GKI PI khususnya, mengenai anugerah keselamatan tersebut: sebagai jaminan yang kekal atau bisa gugur? Semoga jawaban Bapak bermanfaat bagi kita semua dan kita tetap tumbuh bersama dalam kebenaran-Nya. Terima kasih.

Salam kangen, bibitS.

Pak Bibit yang baik,
Allah adalah Allah yang penuh kasih karunia. Jadi, kasih karunia bersifat umum, berhubungan dengan sifat Allah sendiri. Salah satu perwujudan kasih karunia Allah adalah anugerah keselamatan yang Allah berikan kepada kita semua. Jadi, anugerah keselamatan bersifat spesifik, yang merupakan salah satu perwujudan kasih karunia Allah.

Nah, apakah anugerah keselamatan Allah itu bersifat kekal atau bisa gugur (hilang)? Amat bergantung dari sisi mana kita melihatnya. Dari sisi Allah, anugerah keselamatan adalah komitmen yang Allah berikan kepada kita. Melalui anugerah keselamatan, Allah ingin menjadi sahabat kita. Dan Allah tidak pernah bermain-main dengan komitmen persahabatan ini. Karena itu Allah akan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Melalui Injil Yohanes, Allah menegaskan bahwa anugerah keselamatan-Nya bersifat pasti. Dan ketika Allah yang menjaga komitmen-Nya untuk menjadi sahabat kita, siapa yang bisa menghalang-halangi kita untuk menjadi sahabat Allah? (“dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku – Yoh. 10:28). Bisa dikatakan bahwa komitmen Allah untuk menjadi sahabat kita (menyelamatkan kita) bersifat kekal.

Dari sisi manusia, hanya kita (bukan orang lain atau siapa pun) yang bisa menolak tawaran persahabatan Allah. Allah begitu mengasihi kita dan Dia mau menjadi sahabat kita serta menyelamatkan kita. Namun dalam kebebasan manusiawi kita, kita bisa menolak tawaran persahabatan Allah. Nah, dari sisi manusia, berarti anugerah keselamatan itu dapat gugur ketika kita menolaknya. Itulah sebabnya Injil Yohanes menegaskan bahwa ‘hukuman’ itu sejatinya bukanlah dari Allah, melainkan pilihan kita sendiri (“Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” – Yoh. 3:19)

Semoga membantu…

>> Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
  • upacara gereja
    Mengapa Tuhan Mengeraskan Hati Firaun?
    Bapak Pendeta Yth. Di dalam Keluaran 8-10, diceritakan tentang Tuhan yang mengeraskan hati Firaun. Mengapa Tuhan mengeraskan hati Firaun?...
Kegiatan