Antara Pak Badu dan Yudas

Belum ada komentar 21 Views

“Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat Agung dan mengenang kematian Yesus di kayu salib. Yudas si pengkhianat dalam pandangan kita.

Namun mungkinkah kita mengatakan kalimat tadi kepada ibunya Yudas? Bayangkan saat Yudas dilahirkan. Bayi kecil yang lucu itu ditimang-timang. Tidak seorang pun tahu bahwa kalau ia besar nanti, ia bakal mengkhianati Guru terhebat sepanjang masa, Sang Mesias. Bayangkan juga saat awal Yesus memilih Yudas. Seorang pria biasa yang punya kemampuan mengelola keuangan dipilih Yesus, Sang Tabib Agung yang menyembuhkan banyak orang sakit. Mungkin pikir Yudas, “Sungguh pengalaman luar biasa bagiku untuk dipilih Yesus dari Nazaret. Banyak yang bisa kuceritakan kepada keluargaku di rumah.”

Yudas juga ikut melayani bersama para murid lainnya (Kis. 1:18). Saat mereka mengusir setan, Yudas ikut. Saat mereka melakukan mukjizat dalam nama Tuhan Yesus, Yudas ikut. Namun ada yang tidak mereka ketahui. Dari luar Yudas kelihatan sangat saleh, salah seorang dari dua belas murid yang terdekat dengan Yesus, tapi aslinya ia seorang pencuri. Ia mencintai uang (Yoh. 12:6). Selama tiga tahun menjadi bendahara Yesus dan murid-murid-Nya, Yudas luar biasa licik menyembunyikan kebiasaannya mencuri. Sampai pada akhirnya, ia melakukan kejahatan yang paling spektakuler, yaitu menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi demi 30 keping uang perak.

Yesus mempunyai dua belas murid, namun ada satu yang bukan murid-Nya (Yoh. 6:70). Namun, mengapa Yesus dulu memilih Yudas? Rencana Tuhan sulit kita pahami, namun marilah kita coba pelajari.

Pertama, untuk memperingatkan kita. Bahwa kita bisa sangat dekat dengan Yesus, menghabiskan waktu bersama-Nya, mendengarkan dan hafal seluruh firman-Nya. Kita bisa menjadi orang yang dipandang suci. Namun sesungguhnya, pada saat yang sama, kita tersesat. Yudas bukan tipe jemaat cuek yang datang paling akhir di gereja, pas kata “Amin” diucapkan pendeta sebagai penutup kata berkat, lalu langsung pulang lagi. Ia tipe orang yang sangat aktif di gereja. Ia bisa jadi seperti guru Sekolah Minggu, aktivis Baksos, aktivis pemuda, bahkan penatua gereja.

Namun Yudas, tanpa diketahui seorang pun, ketika ada celah yang terbuka di hatinya—karena cintanya kepada Yesus terbagi dengan cintanya kepada uang—memberi jalan masuk bagi Iblis. Dan saat Iblis berhasil masuk, ia menguasai hati. Yudas yang dipandang saleh itu, akhirnya menyerahkan Yesus kepada para prajurit dengan sebuah ciuman. Yesus menegurnya dengan sangat lembut, namun juga sangat keras, “Hai, teman untuk itukah engkau datang?” (Mat. 26:50). Yesus menilik hati. Dia tahu bahwa hati Yudas telah dikuasai Iblis. Yesus pun tahu hati kita semua. Segala perbuatan baik yang kita perbuat, marilah kita lakukan dengan sepenuh hati, semata-mata untuk Tuhan. Karena Dia mungkin saja mempertanyakan kebaikan kita, “Hai, teman untuk itukah engkau datang?”

Kedua, untuk memberi tahu kita tentang cinta dan usaha-Nya. Yesus tidak akan menggagalkan rencana-Nya untuk mati di kayu salib. Tiga tahun sebelum pelayanan-Nya, Iblis bermaksud menggagalkan rencana penyelamatan manusia dengan peristiwa pencobaan di padang gurun. Saat itu ia gagal. Ia tahu, bahwa rencana Yesus untuk mati di kayu salib tidak akan gagal. Oleh karena itu ia bermaksud membuat proses menuju kematian ini sesakit mungkin, yaitu dengan memilih salah seorang yang terdekat dengan Yesus, murid-Nya sendiri, untuk mengkhianati-Nya.

Peristiwa salib adalah peristiwa yang sangat kelam. Bukan saja secara fisik, melainkan juga secara emosional. Bayangkan jika kita mempunyai beberapa murid. Ada yang menjadi pengkhianat, ada yang menyangkal, dan yang lain tercerai berai. Meskipun demikian, Yesus tetap bersedia melalui semua penderitaan-Nya demi kita. Yesus tahu bahwa Yudas pengkhianat. Dia menegurnya saat Yudas menanyakan tentang minyak narwastu (Yoh. 12:7). Dia menyatakannya saat perjamuan malam terakhir (Yoh. 13:27). Dia mendoakan Yudas sebelum Dia ditangkap (Yoh. 17:12).

Kekecewaan yang Yesus rasakan karena Yudas mengkhianati-Nya dan memilih untuk menjual-Nya kepada imam-imam dan tua-tua Yahudi, pasti amatlah besar. Yesus mungkin depresi, namun Dia lalui semuanya. Segala proses penderitaan emosi dari pengkhianatan tersebut, dijalani-Nya demi mencapai tujuan yang lebih besar: keselamatan manusia. Salib menjadi lambang cinta kasih Yesus, yang rela melalui penderitaan fisik dan emosi.

Ketiga, untuk memberi tahu kita tentang kuasa-Nya. Bahwa di balik kejahatan yang semua orang lakukan di dunia ini, ada rencana indah. Di balik kelamnya pengkhianatan, kematian dan salib, ada anugerah keselamatan untuk semua orang. Sebuah ilustrasi menggambarkannya.

Ada seorang bijak bernama Pak Badu. Ia memiliki rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Halaman itu ditanaminya dengan pohon-pohon. Setiap hari, ia menyapa pohon-pohon itu dan menyiraminya dengan air, karena baginya pohon-pohon itu amat berharga.

Pak Badu mempunyai seorang tetangga yang iri kepadanya. Tetangganya ini membenci kesuksesan dan kebaikan Pak Badu, sehingga berencana untuk memotong salah satu pohonnya. Suatu malam, tetangga ini menjalankan rencananya. Ia melompati pagar, lalu mengendap-endap mencari pohon yang paling berharga. Ia melihat sebatang pohon besar di sebidang tanah yang lebih luas dari yang lain, dan memutuskan untuk menebangnya. Sesudah mengayunkan kapaknya berkali-kali, pohon itu hampir roboh. Namun, si tetangga itu berlari ke arah yang salah, sehingga ia tertimpa batang pohon itu. Ia berusaha keluar, namun tidak kuat karena batang pohon itu menindih badannya. Walau demikian, ia tetap puas, karena sudah menebang pohon Pak Badu.

Malam berlalu datanglah pagi. Seperti biasa Pak Badu hendak menyapa pohon-pohonnya, namun hari ini ia berjalan dengan seorang pria. Ia melihat pohon yang roboh itu dan menghampirinya, dan pria di sampingnya pun mengikutinya. Si tetangga yang masih tertindih pohon menyapanya, “Selamat pagi, Pak Badu. Hehehe. Terus terang saja, saya sudah lama membenci Anda. Kini lihatlah, saya sudah menebang pohon kesayangan Anda. Silakan saja Anda menghukum saya, tapi pohon ini sudah terlanjur mati. Hehehehe.”

Jawab Pak Badu, “Selamat pagi, Pak. Sebelumnya saya ingin mengenalkan Anda kepada pria ini. Dia seorang kontraktor yang akan membangun rumah kedua saya. Rencananya, rumah ini akan diletakkan di sebidang tanah ini. Walau tidak rela, saya sudah merencanakan untuk menebang pohon ini. Anda telah melakukan sebagian besar pekerjaan yang harus saya lakukan.”

Kekelaman perjalanan salib berakhir dengan amat suram ketika Yesus mengembuskan napas-Nya yang terakhir. Namun tiga hari kemudian, kekelaman itu berubah menjadi berita sukacita yang amat besar bagi seluruh umat manusia. Yesus bangkit! Segala rencana jahat dan usaha penyiksaan si Iblis telah berhasil dilewati-Nya dan Yesus menang. Seperti pohon Pak Badu yang telah roboh, ternyata semua bisa berubah menjadi baik. Betapa besarnya kasih Yesus mau melalui semua proses jalan salib itu demi kita!

Namun, bagaimana kelanjutan Yudas? Ketika Yesus dijatuhi hukuman mati, Yudas begitu menyesal (Mat. 27:4). Ia bermaksud mengembalikan 30 keping perak itu, namun nasi telah menjadi bubur, Yesus sudah dihukum mati. Lalu Yudas tidak lagi berpikir rasional dan ia pergi menggantung diri. Sungguh sayang, Yudas terintimidasi oleh dosanya. Jika ia menyesal, mengakui dosanya dan bertobat, apakah Yesus akan mengampuninya? Tentu, Yesus pasti akan mengampuninya.

Yudas telah melakukan dosa yang paling spektakuler. Namun, anugerah keselamatan dari Allah melalui Anak-Nya lebih spektakuler lagi. Bagaimana kelanjutan Pak Badu dan tetangganya? Si tetangga akhirnya berhasil dikeluarkan dari tindihan pohon. Pak Badu memaafkannya dan tidak menuntut apapun. Tetangga itu menjadi malu, dan mereka pun akhirnya hidup akur. Bagaimana kelanjutan si kontraktor? Ia membereskan pohon itu dan menghitung anggaran untuk pembangunan rumah baru Pak Badu.•

» Samuel Sebastian

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • kejahatan
  • Jangan Menyerah
    Bacaan: Lukas 18:1-8
    “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari...
  • Kejujuran, Kesantunan & Etika MAKIN PUDAR
    Jujur, santun dan beretika adalah tiga kata yang sangat menentukan dalam peringkat kehidupan seseorang atau sebuah bangsa. Negara-negara tanpa...
  • masuk kotak
    Masuk Kotak
    John mempunyai seorang nenek yang jago bermain Monopoli. Setiap kali John bermain Monopoli dengan neneknya, pada akhir permainan, sang...
Kegiatan