126 Detik

126 Detik

Belum ada komentar 10 Views

Di dalam Laws of the game, “kitab suci” sepakbola, dikatakan bahwa sepakbola berlangsung 2 x 45 menit. Namun jangan percaya! Dari berbagai drama di lapangan hijau, kita tahu bahwa sepakbola lebih dari 90 menit. Setelah 90 menit, waktu itu dinamakan injury time atau added time. Tambahan waktu itu diberikan karena ada waktu yang hilang saat pemain cedera, dirawat dan ditandu ke luar lapangan, termasuk karena pergantian pemain. Apa pun istilahnya, lamanya waktu tambahan tersebut adalah kebijaksanaan wasit.

Pelatih Fulham, Martin Jol, bertestimoni bahwa pelatih Tottenham Hotspurs, Harry Redknapp, memberi tahu kepadanya bahwa Manchester United (MU) pasti akan menjadi juara Liga Primer Inggris (BPL). Kemudian Jol ke ruang ganti, dan di sana seseorang memberitahukan kepadanya bahwa Manchester City (City) merebut kejuaraan itu. Mana yang benar? Ternyata memang City-lah juaranya. Perubahan juara BPL hanya terjadi dalam hitungan detik.

Sulit dipercaya, aneh tapi nyata. Dalam rentang 126 detik, sepertinya berpacu melawan kematian, detik demi detik, para pemain City merebut piala Liga Inggris yang ketiga setelah menunggu selama 44 tahun. Penulis di dalam kamar hotel di kota Solo ikut menjadi saksi, bagaimana menegangkannya pertandingan tersebut pada saat kedudukan 1-2 untuk Queens Park Ranger (QPR). Dzeko, pemain City ―striker yang berasal dari Bosnia-Herzegovina― menyundul bola dan membuat gol ketika papan waktu menunjuk angka 91:14 dan kedudukan imbang 2-2. Pada detik itu piala masih dalam pelukan MU yang menang 1-0 atas Sunderland, melalui gol Wayne Rooney.

Waktu pun berjalan, detik demi detik. Menjelang detik-detik terakhir dan waktu menunjukkan 93:20, tendangan pemain City, Sergio ‘Kun’ Aguero, menjebol gawang QPR, sehingga skor berubah menjadi 3-2 untuk kemenangan City, dan piala BPL pun direbut City dari pelukan MU. Hanya 126’ seratus dua puluh enam detik MU memeluk piala itu. Tawa menjadi tangis untuk penggemar MU, termasuk saya, dan tangis menjadi tawa untuk City. Akhir drama sepakbola BPL. “Ini akhir yang gila dalam musim yang gila,” teriak pelatih City, Roberto Mancini.

Dua gol Dzeko dan Kun Aguero ―menantu Maradona― mengingatkan kita pada dua gol yang dibuat oleh pemain pengganti Teddy Sheringham pada menit ke-91, dan Gunnar Solskjaer pada menit ke 93, saat MU memukul Bayern Muenchen 2-1 pada final Liga Champions tahun 1999 di Nou Camp, Barcelona, Spanyol. Dua gol dramatis yang membawa MU juara Eropa untuk kali kedua setelah 1968.

“Football, bloody hell,” ucapan terkenal Alex Ferguson, pelatih MU yang biasa dipanggil Fergie, kala itu. Hak cipta peristiwa drama dua gol menit-menit injury time itu seolah-olah milik Ferguson hingga muncul istilah “Fergie time.” Kini hak cipta atas peristiwa seperti itu juga berhak disandang oleh Mancini. Dua gol City ke gawang QPR mungkin bisa lebih mempunyai daya kejut, andai hal itu menandai awal era baru di Manchester, dan kebangkitan City.

Drama sepakbola ini seakan-akan menyorotkan suatu pandangan religius-ekskatologis tentang datangnya akhir zaman yang tak terduga, mengerikan, tetapi juga penuh rachmat. Oleh karena itu orang beriman harus selalu berjaga-jaga dan mengejar tujuan imannya sampai akhir hayat. Jangan menyerah sampai pertandingan berakhir. “Kompetisi berakhir pada saat ia berakhir,” kata Ricky Jo, host pertandingan sepakbola di sebuah stasiun TV swasta.

Pesan Rasul Paulus kepada Timotius, anak didiknya, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7). Pesan ini cukup jelas, bahwa untuk menang, orang harus memelihara iman. Apalagi di dunia yang bukan semakin baik, tetapi semakin jahat. Memang tidak gampang mempertahankan iman di tengah masyarakat yang tidak kondusif. Perlu keteguhan hati dalam menghadapi tantangan zaman.

Walaupun begitu, sebagai orang percaya seharusnya kita berjuang sampai garis akhir, jangan lengah sedikit pun, karena jika kalah pada menit–menit terakhir, kita menyia-nyiakan perjuangan iman kita selama hidup. Jangan menyerah, bertahanlah sampai kita menerima mahkota kehidupan. Selamat berjuang!

 

Eddy Nugroho

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan