Yosua bin Nun dengan diam-diam mengutus dari Sitim dua orang pengintai, katanya, “Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan Kota Yerikho.” Meraka pun pergi dan sampai di rumah seorang pelacur bernama Rahab lalu menginap di situ. (Yosua 2:1)
Ada kecenderungan dalam diri sebagian orang untuk memberi stigma atau label negatif kepada orang-orang tertentu. Orang-orang yang dilekati label negatif ini dipandang hina, direndahkan, bahkan dianggap sebagai “sampah masyarakat”. Salah satu kelompok yang sering menerima stigma tersebut adalah para pelacur.
Langkah awal yang diambil Yosua ketika akan membawa umat Israel masuk ke Negeri Perjanjian adalah dengan mengirim dua orang pengintai ke Yerikho. Mereka menginap di rumah Rahab, seorang pelacur. Ketika raja Yerikho mendengar tentang keberadaan para pengintai itu dan memerintahkan agar mereka diserahkan, Rahab justru melindungi mereka. la berbohong dengan mengatakan bahwa para pengintai itu sudah pergi, lalu membantu mereka melarikan diri. Rahab, seorang pelacur Kanaan yang dipandang hina, ternyata dipakai Allah dalam rencana keselamatan-Nya. Dalam silsilah Yesus Kristus yang tercatat di Injil Matius 1:5, nama Rahab disebut sebagai salah satu leluhur Yesus. la menikah dengan Salmon dan melahirkan Boas, yang merupakan kakek buyut Raja Daud.
Melalui kisah Rahab, kita belajar bahwa Allah berkenan mengikutsertakan siapa saja dalam misi-Nya untuk menyelamatkan dan mewujudkan damai sejahtera di bumi ini. Mungkin ada di antara kita yang merasa tidak layak ketika diminta melakukan pelayanan tertentu. Ingatlah, Allah yang melayakkan Rahab adalah Allah yang sama yang kini memanggil kita. [Pdt. Em. Ronny Nathanael]
DOA:
Ya Allah, kuduskan kami yang tidak layak ini agar dapat menjadi hamba-hamba-Mu yang setia. Amin.
Ayat Pendukung: Yos. 2:1-14; Mzm. 107:1-7, 33-37; 2 Ptr. 2:1-3
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.