Tuhan Sumber Sukascitaku

Tuhan Sumber Sukascitaku

Belum ada komentar 19 Views

Sukacita adalah hal mendasar bagi keberadaan dan kesejahteraan manusia. Sukacita juga merupakan fondasi agama dan praktik-praktiknya. Dari laman faith. yale.edu, penulis mengutip bahwa acap kali dalam refleksi dan praktik berteologi dan keagamaan modern, Theology of Joy, gagasan tentang sukacita diabaikan dan telah hilang. Dalam mayoritas kesempatan, kehidupan keagamaan lebih menyentuh sisi logika, pengetahuan, dan perbincangan ilmu ketimbang memberikan sentuhan rasa yang membidani sukacita.

Sukacita lahir dari kehidupan yang baik dan berkualitas antara tindakan, pikiran, rasa, dan pemahaman yang positif tentang dunia. Namun pada saat yang sama, sukacita juga mampu melahirkan kehidupan yang baik. Seperti telur dan ayam, bukan? Masing masing saling memengaruhi dan tidak terpisahkan. Itu sebabnya sukacita merupakan bagian yang sangat penting ditumbuhkan dalam lingkungan ke agamaan dan praktik-praktiknya. Panggilan gereja dan umat Tuhan sepanjang abad dan tempat dalam rangka memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan, nurturing¸pemberdayaan, pembebasan, dan sebagainya, bukankah salah satu nya diarahkan pada good life and joy?

Sukacita yang Sulit dan Mahal
Ada banyak orang yang melihat bahwa bersukacita itu mudah. Banyak orang berpikir hanya membutuhkan Roh Kudus yang menyapa roh manusia, dan semuanya beres. Benarkah begitu? Bagi penulis, benar. Mengapa? Roh Kudus memang sangat kita perlukan karena Dia adalah Roh Penolong yang membantu manusia membangun etika kehidupan (pertimbangan, perimbangan, dan pengambilan keputusan kehidupan). Sumber dari sukacita adalah Allah sendiri yang menari dalam tarian kudus melalui gerak dinamis Roh Kudus bersama dengan Bapa dan Kristus. Sukacita yang sejati dan abadi meluap dari karya agung Allah. Tidak diragukan lagi, sukacita yang sesungguhnya terpancar dan bersumber dari Allah. Namun pada kenyataannya, sukacita yang terpancar itu tidaklah mudah diterima oleh manusia. Sukacita yang terus terpancar itu kadang-kadang terpental, terserap tapi terbuang, dan timbul tenggelam dalam roh manusia.

Roh, dalam bahasa Ibrani menggunakan kata ( חורru’ach), dan dalam bahasa Yunani menggunakan kata πνεῦμα (pneu’ma). Roh dan tubuh (σῶμα)-lah yang membuat manusia membangun kehidupan yang berkualitas. Persoalannya terletak di roh manusia. Penulis tidak sepakat dengan paham dualisme tentang keterpisahan roh dan tubuh, tetapi sangat yakin bahwa roh dan tubuh itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketika penulis mengatakan persoalan sukacita adalah roh manusia, harus dipahami kemelekatannya dengan tubuh. Roh dalam Alkitab dapat diartikan sebagai ‘daya hidup’ dan ‘daya dorong berperilaku dan berkata’. Ketika Roh Allah terus meluapkan sukacita itu, tetapi manusia tidak menyerap dan membuatnya sebagai ‘bahan bakar’ rohnya, sukacita itu tidak tinggal (μένω, meno: menetap).

Oleh karenanya sangat diperlukan ‘roh yang sehat’ untuk menerima sukacita kekal Allah dan memakainya sebagai daya dorong dan daya hidup. Roh yang sehat bekerja sama dengan tubuh untuk menciptakan kehidupan yang berkualitas dan meluapkan sukacita. Sedangkan ‘roh yang sakit’ akan mengubah tubuh (σῶμα) menjadi mayat dan melahirkan daging/kedagingan/sarx (σάρξ) (bdk. Galatia 5 tentang buah roh dan kedagingan). Roh yang sehat terhubung dengan Roh Kudus dan Roh Allah, dan senantiasa menerima transfer sukacita. Bayangkanlah relasi bulan dan matahari. Roh yang sehat seperti bulan yang senantiasa menerima dari matahari (Roh Allah) lalu memancarkan kembali cahaya itu kepada lingkungan sekitarnya, termasuk tampak indah dari bumi kita.

Sukacita itu Apa?
Sebelum membahas bagaimana menciptakan ‘roh yang sehat’, ada baiknya kita mendalami dahulu sukacita. Sukacita–menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia–adalah suka hati, kegirangan, girang hati. Bagi beberapa orang, sukacita diartikan sebagai rasa gembira. Apakah Alkitab memiliki definisi yang sama?

Dalam Alkitab edisi Indonesia terjemahan baru ada 254 kata sukacita. ( הָחְמִׂשIbr. Simkha), χαρά (Yun. Chara), dan ἀγαλλίασις (Yun. Aggalliasis) digunakan dalam Alkitab. Browning menjelaskan sukacita sebagai berikut.

Sukacita lebih dari sekadar emosi. Sukacita adalah perasaan bahagia bercampur perasaan diberkati. Dalam PL hal ini ditandai dengan kegembiraan luar biasa pada saat-saat perayaan (Ul. 12:6 dst.) dan dengan perasaan lega ketika seseorang dapat membawa keluh kesahnya ke Bait Allah untuk mendapatkan penyelesaian (Mzm. 43:4). Dalam PB nada kesukacitaan sangat menonjol pada Injil Lukas (Luk. 2:10; 19:37) dan Kisah Para Rasul (Kis. 13:52). Kesukacitaan merupakan karunia Roh yang khas (Kis. 8:39; Gal. 5:22).

Menurut hemat penulis, sukacita bukan sekadar perasaan gembira atau senang. Sukacita bukan hanya seperti perasaan senang ketika bisa makan enak. Sukacita bukan hanya seperti perasaan gembira ketika seseorang memiliki rumah baru atau mendapatkan hal-hal itu. Sukacita tidak bergantung pada hal-hal remeh temeh tatkala keinginan dan harapan terkabul. Sukacita itu bahkan dapat meluap saat kesulitan hidup mendera. Lalu apa itu sukacita bila bukan sekadar perasaan?

Sukacita adalah sebuah sikap hidup dan sikap iman. Sukacita lahir dari pengenalan diri sendiri yang baik, pengenalan akan lingkungan (sesama dan alam semesta), serta pengenalan akan Allah Sang Sumber Sukacita itu sendiri. Hal ini selaras dengan hukum kasih yang mendaraskan relasi unik dalam kelindan yang rumit antara Allah, sesama, dan diri sendiri. Ketiganya tidak dapat terpisahkan dan saling terhubung satu dengan yang lainnya serta saling memengaruhi. Gambaran diri, gambar lingkungan, dan gambaran tentang Allah menentukan seberapa besar dan dalam sukacita itu akan dilahirkan dan berdampak.

Self Talk
Gambar diri memengaruhi seseorang memandang Allah dan lingkungannya. Gambar diri seperti sebuah kacamata. Ketika mengenakan kacamata hijau, maka seluruh dunia akan tampak hijau. Gambar diri adalah bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.

Ketika seseorang memandang dirinya tidak berharga, produk gagal cacat, bodoh, dan penuh dengan ketidakmampuan, maka ia akan cenderung penuh dengan penyesalan dan mencari kambing hitam mengapa ia dilahirkan dan salah siapa. Ia akan meratapi diri dan kehilangan daya hidup dan sikap iman yang tepat.

Ingatkah kita akan pertanyaan banyak orang mengapa seorang anak terlahir buta? Yesus tidak pernah mau menarik diri-Nya pada kesimpulan yang membuat si anak ini memiliki gambar diri negatif. Ia enggan menyalahkan orangtuanya yang penuh dosa. Ia bahkan tidak menyalahkan Allah, sebagai Pencipta. Ia justru mengajak orang banyak itu untuk melihat secara positif keadaan itu dengan menjawab, “Agar Allah dimuliakan!”

Yesus tidak pula membuat anak ini besar kepala. Dengan menjawab agar Allah dimuliakan, Yesus mengajak si anak untuk tidak merasa inferior dan sebagai produk gagal, sekaligus Ia mengajak si anak menemukan peran yang tepat dalam komunitas dengan tujuan memuliakan Allah. Pada saat yang sama, komunitas diajak untuk memberi ruang dan menerima yang bersangkutan sebagai manusia yang utuh.

Yesus mengajak setiap orang untuk tidak terjebak pada perasaan dirinya yang kurang, atau sebagai manusia super. Perasaan kurang membawa gambar diri yang negatif, membangkitan iri hati, dan terus menggerutu. Perasaan super membuat seseorang merasa jauh lebih hebat dari orang lain dan jatuh pada sikap negatif lainnya, yaitu sombong dan tinggi hati. Yesus mengajak setiap manusia memahami bahwa dirinya dan dunia diciptakan ‘sungguh amat baik’ (bdk. Kej. 1). Dalam setiap kelemahan maupun kekuatannya, manusia dan dunia diciptakan penuh dan sempurna.

Dalam pemahaman ini, perasaan sempurna dan penuh akan menolong setiap orang memiliki gambar yang positif terhadap dirinya. Bahkan segala ancaman, kecemasan, kekurangan, dan kelemahan adalah bagian dari kesempurnaan yang tidak perlu disesali dan diratapi. Pada titik inilah muncul penerimaan diri yang luar biasa. Acceptance ini akan menolong seseorang mendapatkan kesukacitaan yang penuh menjalani kehidupan personalnya.

Catatan: Ketika Saudara membaca bacaan ini, saat sampai di titik ini, berhentilah sejenak. Pakailah waktu bukan untuk mencerna secara kognitif saja, melainkan manfaatkan waktu yang cukup secara afektif untuk merenung sejenak. Dalam situasi sekarang ini dan dinamikanya, apakah Saudara masih memandang diri sendiri sebagai ciptaan yang penuh dan utuh? Ciptaan yang kesempurnaannya justru lahir dalam segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki? Mengapa Saudara berpikir kurang, penuh, atau super? Teroponglah diri Saudara sendiri. Pakailah waktu yang cukup untuk membangun acceptance, dan contentment (rasa cukup), dan rasakan sukacita itu mengalir dalam diri Saudara sebelum lanjut membaca.

Gambar Lingkungan
Pernyataan Yesus tentang orang buta itu, menggugah seseorang untuk tidak saja melihat dirinya sendiri penuh dan sempurna, tetapi juga memandang sesama dan dunia di sekitarnya sebagai ciptaan yang penuh (tidak cacat) dan sempurna.

Relasi dengan sesama dan dunia acap kali melahirkan begitu banyak luka dalam hidup. Apakah kita mengizinkan luka itu hadir dalam diri kita? Luka itu lahir tergantung dari cara pandang kita, bukan? Katakanlah tentang seorang yang menyebalkan. Dari mana lahirnya cap ‘menyebalkan’? Bukankah dari diri kita sendiri? Mengapa kita memberi cap ‘menyebalkan’ pada orang itu? Coba hayati dan pahami, luka itu kadang-kadang lahir bukan karena orang yang ada di sekitar kita, melainkan karena cara kita memandang orang itu. Kita selalu punya pilihan untuk memandang positif atau negatif tentang sesama dan dunia. Kita memiliki pilihan untuk mengubah cap ‘menyebalkan’ menjadi ‘unik’ dalam kerangka yang lebih positif. Bagaimana caranya?

Kita perlu melihat bahwa Allah menciptakan semua, ya semua, ‘sungguh amat baik’. Maka kita perlu belajar memandang lingkungan kita dengan cara pandang Allah memandang semesta sebagai sungguh amat baik. Konflik dan kemajemukan perlu diletakkan pada sudut pandang Allah bahwa semua itu dihadirkan Nya untuk saling melengkapi dan membangun keindahan dunia. Semua orang lain di sekitar kita dan dunia ini adalah ciptaan yang baik. Katakan pada diri sendiri, semua baik setiap saat, setiap waktu, dan di tempat mana pun. Kepenuhan dan kesempurnaan sesama dan dunia di sekitar kita adalah dalam satu paket kekurangan dan kelebihan serta kelemahan dan kekuatan mereka.

Jangan mudah menyingkirkan orang lain dan membenci mereka! Yesus sendiri pun berujar, “Kasihilah musuhmu dan doakanlah mereka yang menganiaya kamu!” Artinya, ketika kita mengasihi musuh, lalu siapa yang disebut musuh? Tidak ada musuh lagi, bukan? Semua menjadi kawan dan sahabat. Akhir dari itu semua adalah kita akan mampu untuk memiliki sukacita.

Catatan: Berhentilah sejenak untuk melanjutkan membaca bagian berikutnya. Teduhkanlah diri Saudara. Cari kembali siapa saja yang pernah Saudara rendahkan, cari kembali siapa yang Saudara anggap musuh! Apakah cap yang Saudara berikan itu menolong hidup Saudara untuk berbahagia dan bersukacita? Teroponglah diri Saudara sendiri dan carilah jalan bagaimana Saudara memotivasi diri melihat semua orang dan dunia, sama seperti Saudara, diciptakan dengan amat baik dan sempurna. Beranikah Saudara berdamai dengan kekurangan dan kelemahan orang lain di sekitar Saudara? Bila Saudara melakukannya, rasakan sukacita itu meruak dalam diri Saudara.

Gambar Allah
Nah, yang terakhir adalah tentang gambar Allah. Allah seperti apa yang Saudara gambarkan? Allah yang baik atau jahat, Allah yang otoriter atau penuh dengan semangat persahabatan? Ini juga tergantung bagaimana kacamata Saudara. Cara kita memandang Allah juga memengaruhi cara kita memandang diri sendiri, sesama dan dunia ini. Ketika kita memandang Allah sebagai Allah yang kaku dan otoriter, output sikap kita sesehari akan dipengaruhi dengan pendekatan ini. Ketika kita memandang Allah sebagai Allah yang jahat dan tidak adil, kita akan mudah meluapkan kemarahan dan ketidakadilan melalui sikap kita, serta kita akan mudah memandang orang lain dan dunia dalam kerangka ketidakadilan yang sama.

Allah dalam Alkitab kita adalah Allah Persahabatan. Allah yang bahkan memandang kita sahabat dan kawan sekerja. Allah yang dinamis dan yang menciptakan segala sesuatu untuk tujuan baik (Ef. 2). Citra Allah persahabatan ini akan menolong kita untuk selalu memiliki semangat berteman dan bekerja sama dengan semua tanpa terkecuali. Citra Allah yang mencipta dengan sempurna, akan menolong kita untuk berbahagia melihat segala kelemahan dan kekurangan diri sendiri, orang lain, maupun dunia ini. Bahkan Allah adalah Allah yang tetap bersukacita dan mengasihi umat-Nya yang bandel bandel seperti kita.

Allah Sumber Sukacita
Akhirnya, hanya hikmat Allah sajalah yang memampukan kita membangun gambar-gambar yang positif dan menentukan pilihan untuk berbahagia dan sukacita. Pertanyaannya sebenarnya cukup sederhana bagi kita semua. Bukan mampu atau tidak mampu! Akan tetapi, apakah Saudara dan saya mau memulai dituntun oleh hikmat Allah Sang Sumber Sukacita?• Pastori Puspita 29 Mei 2020

| PDT. BONNIE ANDREAS

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
Kegiatan