TIGA PRAKTIK MORAL

Yesaya 58:1-12; Mazmur 112; 1Kor.2:1-16; Mat.5:13-20

Belum ada komentar 28 Views

Bertindak secara moral benar kerap kali ditekankan menjadi tanggung jawab pribadi semata. Pertobatan, perubahan sikap dan perilaku pun ditujukan kepada pribadi. Nasihat yang kerap kita dengar pun mengarahkan kita untuk mengabaikan reaksi orang lain, selama kita fokus pada usaha diri menjadi lebih baik. “Tidak perlu terganggu dengan apa yang orang lain katakan, yang penting kamu melakukan yang baik.” Ketika komunitas memburuk, usaha setiap pribadi untuk menjadi lebih baik, sampai di ujung kelelahan dan keputusasaan.

Kita tidak perlu memisahkan usaha pribadi dan usaha komunitas untuk memperjuangkan praktik moral sebagai dua hal yang tidak terhubung. Penekanan di satu sisi hanya akan melemahkan perjuangan kita untuk menghadirkan kebaikan, keadilan dan cinta kasih. Pertobatan pribadi akan berakhir pada keputusasaan tanpa pertobatan komunitas. Pertobatan komunitas tidak akan terjadi tanpa pertobatan pribadi. Dengan demikian kita melihat keduanya menjadi sama penting dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain.

Kota yang terletak di atas gunung dapat menjadi sumber cahaya bukan karena hanya satu rumah yang menyalakan pelita namun ketika seluruh sistem kota dirancang dengan baik dan setiap rumah berkorban menyalakan pelita, maka terang kota di atas gunung menjadi pemandu langkah.

Praktik moral bukan sekadar upaya personal namun pertumbuhan sosial, dan gerakan komunitas. Kekristenan adalah komunitas yang diberi hikmat sorgawi agar terjadi perubahan dalam kehidupan sosial. Kritik yang disampaikan kepada Israel adalah kritik sosial. Umat dituntut untuk mempraktikan tindakan belaskasihan dalam hidup bersama.

Pertumbuhan komunitas membuat kita saling mendukung bukan saling menunjuk. Saling mendoakan bukan saling membicarakan. Saling menguatkan bukan saling melemahkan. Pertumbuhan akan menjadi lahan subur ketika kita berada di tengah komunitas yang mau bertumbuh. Dalam pendidikan iman anak, disebutkan; “It takes a village to raise a child”. Pernyataan ini menyatakan bahwa pendidikan karakter satu individu melibatkan seluruh komunitas. Hal-hal yang membangun, menguatkan, menopang, kita latih dalam perjumpaan bersama. Hal-hal yang melemahkan, menghakimi dan melukai kita tinggalkan, mari berkontribusi karena hadirmu selalu bermakna bagi pertumbuhanku dan sebaliknya hadirku menjadi berkat bagi pertumbuhanmu. Kota bersinar, dan kemuliaan Tuhan terpancar. Amin (DVA)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...
  • MENGAMPUNI TANPA KENDALI
    Matius18:21-35
    “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan...