Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Sebab itu, aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi, katakan saja sepatah kata, dan hambaku itu akan sembuh. (Lukas 7:6c-7)
Seseorang dapat merasa tidak layak dalam dua makna. Pertama, ia merasa superior, sehingga merasa tidak perlu menanggapi orang yang dianggapnya lebih rendah. Atau sebaliknya, kedua, ia merasa berada di posisi yang lebih rendah sehingga merasa tidak sepantasnya orang lain menjumpainya—ia merasa inferior.
Kedua sikap ini tampak dalam kisah perjumpaan Yesus dengan seorang perwira Romawi. Situasinya sungguh menarik. Secara sosial, Yesus hanyalah seorang rabi pengajar Yahudi yang miskin, sedangkan perwira tersebut adalah seorang terhormat dan berpangkat tinggi dalam masyarakat, menduduki strata sosial yang tinggi. Namun, ketika Yesus mendatangi perwira itu untuk menyembuhkan hambanya, perwira tersebut menyatakan bahwa Yesus terlalu terhormat untuk dijumpai. Ia merasa dirinya terlalu hina untuk menerima kehadiran Yesus. Ini merupakan suatu kerendahan hati yang luar biasa dari seseorang yang berkedudukan tinggi di mata masyarakat.
Demikianlah seharusnya sikap seseorang ketika berhadapan dengan Tuhan. Seberapa pun hebat diri kita, sebesar apa pun keberhasilan yang kita capai, sesungguhnya kita teramat kecil di hadapan Tuhan. Sebenarnya, dalam kemahakuasaan-Nya, Tuhan tidaklah wajib menemui kita. Kita pun tidak layak sama sekali untuk menjumpai-Nya. Maka, apabila Ia berkenan menjumpai kita, tiada ungkapan lain yang patut selain syukur yang tak terperikan. [Pdt. Mungki A. Sasmita]
DOA:
Sungguh, ya Tuhan, jikalau Engkau senantiasa berkenan menemui kami, hati kami dipenuhi dengan keharuan dan rasa bersyukur yang tak dapat kami gambarkan dengan kata-kata. Amin.
Ayat Pendukung: Yes. 51:4-8; Mzm. 121; Luk. 7:1-10
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.


Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.