TATAP DAN SIMAKLAH, Tuhan Sedang Melakukan Kebaikan

TATAP DAN SIMAKLAH, Tuhan Sedang Melakukan Kebaikan

Belum ada komentar 35 Views

Tahun 2009 baru saja kita tinggalkan, tentu saja bersama dengan segala kenangan yang manis dan pahit, yang menggetarkan dan menentramkan, yang mendorong dan menghentikan, yang memberi peluang dan jalan keluar tapi juga sekaligus memojokkan kita dalam kondisi stagnasi. Marilah melakukan refleksi sejenak, bagaimana seharusnya memahami peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita? Apakah peristiwa itu sendiri yang disebut dengan pengalaman? Aldous Huxley mengatakan bahwa: “Pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada seseorang melainkan apa yang dilakukan orang yang bersangkutan terhadap apa yang terjadi kepadanya.”

Suatu hari, seorang anak muda bernama W Mitchell mengendarai sepeda motor dengan kecepatan enam puluh lima mil per jam. Sesuatu di tepi jalan sejenak menarik perhatiannya, dan ketika ia kembali memandang ke depan, ia hanya punya waktu satu detik untuk memberikan respons. Nyaris terlambat! Truk Mack di depannya tiba—tiba saja berhenti. Seketika itu juga, dalam upaya menyelamatkan nyawanya, ia menjatuhkan motornya dan membiarkan motornya menggelincir di bawah truk tersebut. Tutup tangkinya terbuka, dan terjadilah hal yang sangat buruk; bensinnya tumpah dan beberapa saat kemudian berkobar kebakaran hebat. Begitu ia siuman, ia sudah berada di tempat tidur rumah sakit, sangat kesakitan, tak dapat bergerak dan takut untuk bernapas. Tiga per empat tubuhnya penuh luka bakar stadium tiga. Toh ia pantang menyerah. Ia berjuang terus untuk mengembalikan hidupnya, dan akhirnya ia berhasil melanjutkan karir bisnisnya. Namun musibah yang dialaminya tidak berhenti di situ saja. Beberapa waktu kemudian, ia mendapat kecelakaan pesawat yang membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah, seumur hidup.

Semenjak kecelakaan motornya yang mengerikan itu, ia mengenyam sukses dan sukacita lebih besar daripada kebanyakan orang lainnya. Ia mengembangkan hubungan-hubungan pribadi yang fenomenal dengan beberapa orang paling berpengaruh di Amerika. Ia menjadi jutawan dalam bisnis. la bahkan sempat mencalonkan diri dalam Kongres, terlepas dari fakta bahwa wajahnya cacat.

Bagaimana orang yang seharusnya mengalami depresi dan frustrasi ini bisa bangkit kembali? Ketika W Mitchell mengetahui bahwa tiga perempat tubuhnya menderita luka bakar stadium tiga, ia harus menentukan pilihan. Kejadian itu bisa menjadi alasan baginya untuk mati, berkabung atau patah hati. Tetapi ia memilih untuk terus—menerus berkomunikasi dengan dirinya sendiri, bahwa pengalaman itu terjadi bukan tanpa maksud. juga, bahwa peristiwa itu suatu hari nanti akan memberi manfaat yang bahkan lebih besar baginya untuk menghasilkan perbedaan di dunia. Berkat komunikasi seperti itu dengan dirinya sendiri, ia membangun rasa percaya diri dan nilai—nilai yang terus mengarahkan hidupnya ke posisi diuntungkan daripada dirugikan—bahkan setelah ia lumpuh.

Pada tahun 2010 ini, pasti akan banyak peristiwa yang kita alami, namun yang penting bagi kita bukanlah apa yang akan terjadi nanti, tetapi bagaimana kesiapan kita untuk menghadapi dan menanggapinya. Masalah-masalah yang kita hadapi selalu memberi pilihan kepada kita, apakah masalah—masalah tersebut akan mengalahkan kita atau sebaliknya malah mengembangkan daya juang kita. Semua tergantung dari cara kita menyikapinya.

Dalam Roma 8: 28, Rasul Paulus begitu yakin menuliskan, ”Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Namun dalam kenyataan, banyak 0rang tidak mampu dan tidak mau melihat bagaimana Tuhan ingin menggunakan masalah yang dihadapi mereka itu untuk kebaikan dalam hidup mereka. Orang sering kali bereaksi negatif dan bahkan membenci masalah yang muncul dalam hidupnya, padahal sebenarnya masalah itu merupakan sarana agar hidupnya semakin diberkati.

Ingatlah! Satu—satunya saat ketika orang tidak punya masalah lagi ialah ketika ia sudah dikubur. Dalam hidup ini, Tuhan menggunakan masalah untuk mengarahkan kita. Terkadang Tuhan perlu menyalakan api di bawah kita agar kita mulai bergerak, terkadang dibutuhkan situasi yang menyakitkan untuk membuat kita mengubah cara kita.

Seperti layaknya “teh celup” yang dimasukkan ke dalam air panas di gelas, demikian juga Tuhan perlu memasukkan kiia ke dalam masalah yang panas untuk mengetahui sampai sejauh mana iman kita kepada—Nya. Karena itu belajarlah bersuka cita ketika menghadapi masalah, karena di dalamnya ada Tuhan yang akan memberikan kesabaran.

Tuhan juga menggunakan masalah agar semakin hari karakter kita semakin terbentuk menyerupai karakter Kristus. Karena itu Tuhan jauh lebih tertarik pada sesuatu yang dapat mengubah karakter kita daripada yang dapat memberikan kemapanan dan kenyamanan semata.

Lihat dan simaklah, Tuhan sedang melakukan sesuatu di dalam segala hal yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita. Karena itu bersandarlah kepada—Nya dan nantikanlah Dia sebab “0rang—0rang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)

Pdt. Tumpal Tobing

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Allah hadir bagi kita
    Biarkanlah, biarkanlah itu datang, ya Tuhan. Kami berdoa pada-Mu, biarkanlah hujan berkat turun. Kami menanti, kami menanti. Oh hidupkanlah...
  • MENCINTA DENGAN SEDERHANA
    Aku Ingin Aku ingin mencintaimu ciengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...
  • SULUNG DALAM PALUNGAN
    Persekutuan Perempuan Jumat, 9 Desember yang lalu, temanya adalah “Cinta dalam Kesederhanaan”. Saya jadi ingat puisi Sapardi Djoko Damono,...
  • MELAYANI ITU INDAH
    Ketika kita berbicara tentang “melayani” maka hal ini sangat dekat dengan kehidupan Kristiani. Melayani (Yunani: diakoneo artinya to be...