Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan

Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan

Belum ada komentar 375 Views

Respon yang seringkali muncul ketika kita mendengar kabar yang merugikan atau keadaan yang menyulitkan kita adalah menolak. Hal ini wajar saja. Ketika Maria diberitahu akan mengandung sementara ia sendiri belum sah sebagai seorang istri, tentu saja membuat Maria merasa dirugikan. Ia bisa dicap sebagai perempuan sundal, dan sebagai perempuan sundal berarti dia harus rela disingkirkan dari “peradaban” sosial, harus rela direndahkan dan dilecehkan, harus rela selalu menjadi kambing hitam dalam permasalahan sosial. Kemudian bagaimana dengan”nasib” anak yang akan lahir nanti? Ia akan dicap sebagai anak sundal! Uuh, sungguh keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Tidak ada seorangpun yang mau diletakkan dalam posisi seperti itu.

Rangkaian pertanyaan dapat saja muncul dari Maria; mengapa malaikat tidak menyuruh agar menikah dulu secara sah dengan Yusuf dengan catatan tidak melakukan hubungan terlebih dahulu? Apakah Allah memang harus memilih aku untuk menempati posisi seperti itu? Tidak adakah orang lain? Seperti Maria, kita barangkali juga pernah ditempatkan pada posisi yang sulit. Saat ada PHK besar-besaran di tempat kita bekerja karena pailit dan harus mengurangi sebagian karyawannya, mungkin kita bertanya “Mengapa justru aku yang ‘kebagian’ PHK, sehingga statusku menjadi pengangguran dan aku jadi laki-laki yang menyengsarakan anak-istriku?” Begitu juga ketika mendapat tugas yang lebih sulit atau mengalami pergumulan hidup yang lebih berat dari orang lain, bagaimana respon kita?

Respon Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia tidak menolak atas keadaan yang dia alami, ia juga tidak berontak terhadap “keputusan” Allah terhadap hidupnya. Ia taat dan tunduk pada rencana Allah. Mengapa Maria dapat memberi respon seperti itu?:

  1. Maria menyadari sepenuhnya penyertaan Roh Kudus (ay.35).
  2. Maria telah melihat karya Allah yang telah terjadi di masa yang lalu(ay.36).
  3. Maria menyadari kemahakuasaan Allah di luar kuasanya sendiri (ay.37)

Siapkah kita menghadapi keadaan yang sulit dalam hidup kita dengan menyadari ketiga hal di atas, seperti Maria?

 

HK

 

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Luka di Hati, Bukan Prasasti
    Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46
    Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa...
  • Schooling Fish
    Yesaya 45:1-7; Mazmur 96:1-9; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
    Bayangkan saja kalau kita menjadi seekor ikan kecil. Kalau saja kita diberikan pilihan untuk hidup di akuarium atau di...
  • Rasa Haus
    Air menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak hal membutuhkan air. Mulai dari tubuh manusia sebagian besar terdiri...
  • Apa yang kita letakkan pertama?
    Yesaya 5:1-7; Mazmur 80:8-16; Filipi 3:4-14; Matius 21:33-46
    “Selalu ada yang pertama untuk segalanya.” Apa anda pernah mendengar kalimat tersebut? Ya, sebagian besar dari kita tentu akan...
  • Hidup Dalam Keramahan Dan Cinta
    Yehezkiel 18: 1-4, 25-32 Mazmur 25: 1-9 Filipi 2: 1-13. Matius 21: 23-32
    Perubahan ke arah yang lebih baik adalah dambaan semua orang. Saya yakin dan percaya bahwa semua orang, tanpa kecuali...
Kegiatan