Prayer and Human Flourishing

Prayer and Human Flourishing (Bagian 2)

Belum ada komentar 31 Views

SPIRITUAL DISTANCING
Pada umumnya, kita menginginkan Tuhan cukup berada di rumah ibadah, dan tidak menjadi Tuhan atas hidup kita, karena kita menolak untuk berubah! Kita ingin memegang kendali, sebab jika Tuhan berada di rumah ibadah, kita hanya mengunjungi-Nya saat kita memerlukan-Nya. Kita tidak ingin Tuhan membereskan kekacauan dalam diri kita, karena kita merasa baik-baik saja. Kita bagaikan berkata kepada Tuhan, “Don’t come near me! I will call you when I need you!” Kita menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang pekerjaan Nya cukup menyelesaikan masalah kita, alias help-desk. Kita tidak ingin Tuhan terlalu dekat dengan kita. Kita juga tidak ingin bersahabat dengan-Nya. Kita mencari-Nya hanya ketika kita merasa perlu. Ketika kita merasa tidak memerlukan-Nya, kita melupakan-Nya dan menyibukkan diri dengan banyak hal. Inilah yang dimaksud dengan spiritual-distancing.

Paulus berkata, “Supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing” (Kis. 17:27).

1 Tawarikh 16:11 mengatakan, “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” Maukah Anda mendekatkan dirimu kepada Nya? Mari mengambil waktu 10 menit (atur di timer Anda), berdiam diri, menutup mata dan berfokus pada kehadiran-Nya. Meskipun Anda merasa tidak mendapatkan apa-apa, jangan putus asa, lakukan lagi pada hari berikutnya dan seterusnya! Kiranya Tuhan menolong kita!

MENGAPA ANDA BERDOA?
Apa yang mendorong Anda berdoa? Apakah karena ingin mendapatkan apa yang Anda inginkan? This is a tricky question. Jika tujuan kita berdoa adalah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, atau agar agenda pribadi kita terlaksana, maka sudah pasti kita memiliki pengenalan yang salah terhadap Tuhan. Doa bukan media untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tuhan bukan jaminan kesuksesan diri kita. Doa justru merupakan media untuk mengenal Tuhan dan melalui-Nya, kita mengenal diri kita. Doa memberi cahaya untuk melihat diri kita dari sudut pandang yang baru, yaitu sudut pandang Kerajaan-Nya.

Apakah kita mau melibatkan Tuhan dalam hidup kita? Bersediakah Anda bertanya kepada Tuhan apa yang Dia kehendaki dari dirimu? Firman Tuhan mengatakan, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (Efesus 3:20). Tuhan ingin kita bekerja sama dengan Nya untuk menerima berkat yang melampaui apa yang kita doakan dan pikirkan. Tuhan ingin menjadikan kita “manusia baru” (2 Kor. 5:17).

MENCULIK MARIA!
Setelah berkali-kali meminta permainan XBox dari orangtuanya dan tidak mendapat respons, seorang anak berlutut di hadapan Tuhan untuk berdoa. “Tuhan, aku ingin membuat kontrak perjanjian dengan-Mu. Engkau memberikan aku XBox, dan aku bersikap baik selama 7 hari.” Namun ia kehilangan kesabaran pada adiknya yang mengganggunya. Karena itu pada malam kedua, ia kembali bersujud di hadapan Tuhan dan berdoa, “Tuhan, aku mau memperbarui kontrak kita. Engkau tetap memberikan aku X-Box, tetapi aku cukup bersikap baik selama 24 jam.” Ternyata, ia sudah kehilangan kesabaran sebelum 24 jam.

Pada malam itu, ketika semua orang sudah tidur, ia menyelinap keluar rumah, menyeberang jalan dan masuk ke sebuah gereja Katolik. Ia mengambil sebuah patung Bunda Maria yang kecil, membawanya pulang dan menyimpannya di dalam kamarnya. Lalu ia menulis di atas secarik kertas, “Tuhan, jika Engkau masih ingin berjumpa dengan Ibu-Mu, berikan aku XBox.”

IT IS NOT ABOUT US!
Pernahkah Anda kecewa, atau bahkan marah, karena Tuhan tidak memberikan apa yang Anda minta? Israel pernah memaksakan kehendak mereka kepada Tuhan ketika mereka ingin serupa dengan bangsa-bangsa lain yang mempunyai seorang raja. Samuel sangat sedih atas permintaan dan desakan rakyat itu, tetapi Tuhan berkata, “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Sam. 8:7).

Contoh lain adalah ketika raja Hizkia mendesak Tuhan untuk memperpanjang hidupnya setelah mengetahui bahwa dia akan segera mati (Yes. 38:1-8). Tuhan mengabulkan doanya dan memperpanjang hidupnya selama 15 tahun. Namun apa yang terjadi? Lebih baik dia mati saja! Dalam kebodohannya, Hizkia menunjukkan kekayaannya kepada Babel (Yes. 39:1-9) sehingga mengakibatkan kerajaan-Nya dirampok oleh kerajaan Babel. Ia memperoleh seorang anak, yang di kemudian hari dikenal sebagai raja Manasye. Anaknya ini menjadi raja yang sangat jahat dalam sejarah kerajaan Israel.

Terhadap kedegilan hati manusia yang selalu mendesak Tuhan untuk memenuhi keinginan mereka, pemazmur berkata, “Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka minta, dan didatangkan-Nya penyakit paru-paru di antara mereka” (Mazmur 106:15).

Doa bukan untuk memaksakan kehendak kita pada Tuhan. Yesus sudah memberikan teladan yang terbaik dalam hal ini. Meskipun merasa sangat berat, “seperti mau mati rasanya” (Mat. 26:38), Dia tunduk pada kehendak Bapa, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39). Yesus juga berkata, “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30).

Percaya kepada Tuhan bukan berarti percaya bahwa Dia pasti memberikan apa yang kita harapkan, melainkan percaya bahwa Dia pasti memberikan apa yang kita butuhkan. Percaya bahwa Tuhan adalah Gembala yang baik, berarti percaya bahwa Dia mengetahui apa yang terbaik bagimu. Trust means a complete trust.

MINTA APA SAJA! SERIOUSLY?
Perkataan Yesus, “Mintalah maka akan diberikan kepadamu”(Mat. 7:7) atau ”Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh. 14:14) sering dimanfaatkan sebagai dasar untuk meyakini bahwa kita bisa minta apa saja dari Tuhan dan Dia pasti akan memberikannya kepada kita. Yang terjadi kemudian adalah, banyak orang berhenti berdoa karena permintaan mereka tidak pernah dikabulkan. Atau sebagian orang merasa Tuhan tidak adil, atau bahkan jahat karena tidak mengabulkan permintaan mereka.

Ketika Yesus membicarakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu,” Dia menyuruh kita untuk meminta Roh Kudus dari Bapa (Luk. 11:13) yang pasti akan memberikan yang baik kepada kita (Mat. 7:11). Roh Kudus mengajar kita berdoa dan mendoakan kita (Roma 8:26). Dia juga memampukan kita untuk menyapa Tuhan sebagai Bapa (Gal. 4:6).

Ketika Yesus berkata tentang “minta sesuatu dalam nama-Ku” (Yoh. 14:14), Dia sedang membahas, “Sesungguhnya barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan pekerjaan yang Aku lakukan” (Yoh. 14:12). Jadi, Yesus tidak sedang berkata, “Minta apa saja!”, tetapi Dia meminta hal yang berkaitan dengan pekerjaan-Nya. Dengan kata lain, hati kita mesti terhubung dengan pekerjaan-Nya, sehingga kita memprioritaskan pekerjaan-Nya.

Tuhan bukan hamba kita. Dia tidak bekerja untuk kita. Kita bukan bos Nya. Jika Dia harus memberikan segala sesuatu yang kita minta, maka kita lebih tuhan daripada Dia. Tuhan adalah Pencipta, kita hanyalah debu. Siapakah kita sehingga Tuhan harus memenuhi semua keinginan kita? Ingat, bahwa Dia tidak berutang apa-apa pada kita. Justru kita yang sangat berutang pada Nya. Singkat kata, bukan Tuhan yang harus tunduk pada kehendak kita, tetapi kita yang harus tunduk pada kehendak-Nya! Very often, it is not because we do not know God’s will, but we do not want to know as it is against ours (Sering kali, kita bukannya tidak tahu kehendak Tuhan, melainkan tidak ingin tahu, karena hal itu bertentangan dengan kehendak kita).

MEMANIPULASI TUHAN
Saul adalah contoh orang yang memanipulasi Tuhan dengan praktik agamanya (1 Sam. 13). Samuel sampai sakit hati (1 Sam. 15:11) dan tidak mau bertemu dengannya hingga kematiannya (1 Sam. 15:35), sebab Saul hanya memedulikan reputasinya, kesuksesannya, dan penerimaan dari orang banyak. Ia tidak sungguh sungguh ingin melayani Tuhan, dan hanya mau melayani dirinya sendiri. Tuhan memperingatkan, “Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!” (Yer. 45:5).

Kita tidak dapat memaksa Tuhan berbicara. Kedegilan hati manusia berpotensi membuat-Nya menyembunyikan wajah-Nya (Yer. 33:5). Dia berkata, “Janganlah berdoa untuk bangsa ini, janganlah sampaikan seruan permohonan dan doa untuk mereka, dan janganlah desak Aku, sebab Aku tidak akan mendengarkan engkau” (Yer. 7:16). Dia menegaskan, “Aku tidak akan mendengarkan mereka” (Yer. 11:14). Apa perasaan Anda ketika berdoa buat seseorang dan tiba-tiba Tuhan berkata, “Jangan berdoa untuknya! Suruh dia berdoa sendiri”?

Doa bukan untuk memanipulasi Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Lagi pula kita tidak mungkin dapat memengaruhi-Nya atau memanipulasi Nya melalui doa kita.

MY PLAN!
Kita mungkin memiliki banyak rencana sehingga kita berkata, “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung” (Yak. 4:13). Atau kita seperti orang kaya dalam cerita Yesus, yang berkata, “Aku akan memperluas rumahku, memperbanyak pabrik dan gudangku, membuka cabang dan memperbanyak kekayaanku dan aku akan menikmatinya” (Luk.12:18-19). Namun Tuhan berfirman, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Luk. 12:20). Firman Tuhan juga mempertanyakan, “Apa arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yak. 4:14).

Tuhan tidak mengundang kita kepada-Nya dengan iming-iming hadiah undian. Dia berfirman, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu” (Yes. 55:8-9). Tidak mengherankan, ketika orang-orang kecewa dengan rancangan-Nya, mereka memilih meninggalkan-Nya. “Banyak murid Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (Yoh. 6:66). Mari menundukkan rencana kita kepada Tuhan. Firman-Nya mengatakan, “Commit to the LORD whatever you do, and he will establish your plans” (Amsal 16:3).

MY PLAN B
Bukan mendengarkan Tuhan, melainkan menaati perintah-Nyalah yang merupakan tujuan akhir kita. Tuhan rindu memproses dan mengundang kita untuk bergabung dengan-Nya (joint-activity). Abraham mendengarkan suara Tuhan mengenai janji-Nya. Namun ketika merasa bahwa Tuhan terlalu lama dan tidak efektif, dia menempuh jalannya sendiri.

Plan B Abraham yang pertama adalah mengadopsi anak. Plan B Abraham yang kedua adalah mengambil istri pengganti. Abraham dan Sara tidak sabar menunggu Tuhan yang mereka anggap terlalu lamban.

Kita tidak sabar mengikuti Tuhan. Setelah mendengarkan suara-Nya, dan ketika Dia terasa lambat dan tidak efektif, kita ingin segera menempuh jalan sendiri. Bersediakah Anda melepaskan Plan B dan berserah kepada-Nya?

KETIKA DOA KITA DIHENTIKAN TUHAN
Raja Israel, Yeroboam II, memenangkan sangat banyak peperangan dalam memperluas tanah pemerintahannya dan menjadi sangat kaya. Perekonomian saat itu digerakkan oleh keegoisan dan keserakahan. Mereka memperbudak orang-orang miskin dengan bunga utang yang sangat memberatkan.

Amos bukan nabi, melainkan peternak (7:14) yang dipanggil Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya bahwa Dia akan menjatuhkan hukuman. Jika kita memerhatikan kota-kota yang disebut Amos, kita menemukan bahwa Amos bagaikan menggambarkan lingkaran dengan Israel di tengah. Ia menegur Israel yang dulunya diperbudak di Mesir, tapi kini memperbudak orang lain. Ia juga menegur kemunafikan kehidupan beragama mereka. Ia bernubuat bahwa Israel akan dihancurkan oleh Asyur, tetapi orang-orang tidak memercayainya. Sekitar 40 tahun kemudian, apa yang diperingatkan oleh Amos pun men jadi nyata.

Tuhan berfirman, “Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku” (1:3, 6,9,11,13; 2:1,6). “Aku tidak senang dengan perkumpulan rayamu” (5:21). “Aku telah melepaskan penyakit sampar ke antaramu” (4:10). Celakalah orang yang merasa aman dan merasa baik-baik saja bersembunyi di balik perlindungan yang palsu (6:1). Segala usaha perekonomian akan sia-sia (5:11b). Berulang kali Tuhan berkata, “Kamu tidak berbalik kepada-Ku” (4:6,8,11). Sering kali kita mengeraskan hati, meskipun sudah diperingatkan oleh Tuhan.

Dunia berinvestasi banyak dalam pertahanan militer, sipil, ekonomi, sosial, psikologis dan digital. Meskipun Bill Gates telah memperingatkan dunia pada tahun 2015, bahwa kita tidak siap menghadapi sebuah epidemi, apalagi pandemi, tetapi dunia tidak menghiraukannya. Wabah COVID-19 memperlihatkan betapa dunia telah melalaikan pertahanan kesehatan seperti yang Bill Gates ingatkan. Apakah kita sudah memelihara bumi ciptaan Tuhan dengan baik? Bukankah kita telah sangat merusak bumi ini? Bukankah perekonomian adalah perekonomian yang egois dan serakah? Wabah COVID-19 telah mengurangi polusi. Kicauan burung terdengar kembali. Manusia yang dulunya sangat sibuk, kini dapat berdiam diri untuk beristirahat dan memulihkan relasi dengan anggota keluarga. Bukankah dunia mesti memikirkan ulang sistem perekonomiannya?

Amos berseru, “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup” (5:14). “Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik” (5:15). Namun orang-orang menolak khotbahnya. Meskipun demikian, ia tetap mendoakan mereka, “Tuhan Allah, berikanlah kiranya pengampunan!” (7:2), “Tuhan Allah, hentikanlah kiranya! (7:5), sampai Tuhan menghentikan doanya dengan berkata, “Aku tidak akan memaafkannya lagi” (7:8b). Sudah sangat lama Dia memperingatkan mereka, tetapi mereka menolak untuk mendengar. “Sesungguhnya Tuhan Allah sudah mengamat-ngamati kerajaan yang berdosa ini!” (9:8).

Tuhan mendisiplin manusia karena kedegilan hati mereka. Namun setelah hukuman-Nya, Dia akan mendirikan kembali reruntuhannya, “Aku akan membangunnya kembali” (9:11).

PUTUS ASA
Doa yang terbaik adalah doa dalam keputusasaan. Ya, Anda tidak salah baca, doa dalam keputusasaan (desperate prayer). Sama halnya seperti Hana yang berdoa dalam tangisan dan berpuasa, Yosua sebelum memimpin bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, Daniel bersama tiga sahabatnya, Petrus yang hampir tenggelam saat mulai bimbang karena angin, atau Kristus di taman Getsemani.

Ruth Barton berkata, “As strange as it may sound, desperation is a really good thing in the spiritual life. Desperation causes us to be open to radical solu tions, willing to take all manner of risk in order to find what we are looking for. Desperate ones seek with an all consuming intensity, for they know that their life depends on it” (“Meskipun terdengar aneh, keputusasaan adalah hal yang sangat baik dalam kehidupan spiritual. Keputusasaan membuat kita terbuka terhadap solusi-solusi radikal, bersedia mengambil segala risiko untuk menemukan apa yang kita cari. Orang-orang yang putus asa mencari dengan sekuat tenaga, karena mereka tahu bahwa hidup mereka bergantung padanya”).

Lukas 18:1-8 mengisahkan tentang doa seorang janda yang putus asa. Ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, sehingga ia terus mendatangi hakim yang lalim. Doa yang baik tidak dilakukan sesekali atau jika diperlukan! Yesus mau menegaskan bahwa berdoa itu harus tidak jemu jemu. Karena doa bersifat relasional, maka doa adalah hati kita yang senantiasa berelasi dengan-Nya.

Yesus menegaskan bahwa Tuhan tidak seperti hakim yang lalim itu. Dia tidak perlu merasa disusahkan, direpotkan atau terganggu karena permohonan yang tidak jemu-jemu. Yesus mau menegaskan melalui perumpamaan tersebut bahwa Tuhan peduli pada kita. Dia adalah Allah yang ingin selalu dekat dengan kita. Dia tidak seperti hakim lalim yang merasa disusahkan, melainkan Dia adalah Allah yang senang mendengarkan dan rindu berbicara denganmu.

BISAKAH KITA SALAH BERDOA?
Mungkin kita tidak merindukan Tuhan, hanya ingin agar Dia memenuhi keinginan kita. Kita tidak ingin menundukkan keinginan kita pada kehendak-Nya. Firman Tuhan mengatakan, “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak. 4:2-3). Dengan kata lain, kita tidak menerima apa-apa karena kita hanya berdoa untuk memuaskan ego kita.

Kita tidak bisa menghipnotis Tuhan dengan kata-kata yang banyak (Mat. 6:7), atau dengan kata-kata yang manis didengar. Sebab itu, ketika mengajar murid-murid-Nya berdoa, Kristus ber kata bahwa kita harus meminta Roh Kudus dari Bapa untuk menolong kita (Lukas. 11:13). Ingatlah bahwa, praying is not a media to get what we want, instead it is seeking partnership and shelter under His sovereignty (berdoa bukanlah sarana untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan mencari kemitraan dan perlindungan di bawah kedaulatan-Nya).

BISAKAH KITA SALAH MEMBACA ALKITAB?
Banyak ajaran menyesatkan di dunia ini, yang menyebarkan ajaran mereka dengan mengutip ayat Alkitab untuk mendukung pandangan mereka. Yang penting ada ayatnya! Kita perlu menyadari bahwa mengutip ayat Alkitab tidak menjadikan seseorang pengikut Kristus yang setia. Sebagai contoh, ketika orang-orang majusi mencari Sang Raja yang lahir dan hendak menyembah-Nya, para ahli Taurat dan orang Farisi memeriksa kitab suci dan menemukan bahwa Mesias akan dilahirkan di Betlehem. Ironisnya, mengapa mereka tidak ikut ke Betlehem?

Kepada orang-orang yang mempelajari Kitab-kitab suci, tetapi tidak memercayai-Nya, Yesus berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Namun tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah (Yoh. 5:39-42).

Jangan lupa bahwa ketika Iblis menggoda Yesus Kristus, dia juga menggunakan ayat-ayat Alkitab. Jika demikian, apakah kita harus berhenti mempelajari Alkitab? Justru, sebaliknya! Kita mesti sungguh sungguh mempelajari Alkitab untuk memperoleh pengetahuan yang benar dan pengenalan yang benar. Untuk memahami Alkitab kita perlu membaca dengan berfokus pada benang merahnya (Yoh. 5:39) di mana 66 kitab adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

BISAKAH KITA MENDENGARKAN SUARANYA?
Yesus memastikan bahwa setiap orang percaya dapat mendengarkan-Nya, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” Jadi, setiap pengikut Kristus secara alami dapat mendengarkan suara Tuhan (Mat. 13:14-17).

Kita selalu berpikir bahwa orang yang bisa mendengarkan suara Tuhan adalah orang yang luar biasa alias super rohani. Kita beranggapan bahwa pada umumnya orang memang tidak bisa mendengarkan suara-Nya. Sebenarnya, justru aneh jika seseorang tidak bisa mendengarkan suara Tuhan. Yesus sendiri menegaskan, “Domba domba-Ku mendengarkan suara Mu” (Yoh. 10:27). Dia mengajarkan bahwa sebenarnya orang-orang bisa mendengarkan suara-Nya (Mat. 13:9), jika tidak menolak untuk percaya atau mengeraskan hati (Mat. 13:19), atau hanya berfokus pada kenyamanan, keinginan dan ego pribadi (Mat. 13:20-22).

Yang menjadi pertanyaan adalah “Seberapa kuat kerinduan Anda untuk berdoa?” Apakah bagaikan rusa merindukan air? Seberapa rindu Anda untuk hidup dalam kasih karunia dan terang Allah? Seberapa dalam Anda merindukan Allah bekerja mentransformasi dirimu? Beberapa penyebab kita tidak bisa mendengarkan suara-Nya:

Tidak Percaya
Kita tidak percaya bahwa Tuhan berbicara, kita tidak percaya pada Immanuel, Allah beserta kita. Kita tidak percaya pada Roh Kudus yang diam di dalam diri kita, yang mengajar kita berdoa, yang menegur dan menginsafkan kita akan dosa-doa kita.

Mengeraskan Hati
Seperti orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang terlalu tuli untuk men dengar. Sering kali Tuhan diam karena Dia ingin kita memeriksa hati kita. Dia ingin kita berhenti memelihara dosa tertentu. Dia ingin menggunakan sikap “diam” untuk memaksa kita melakukan introspeksi diri.

Motivasi yang Salah
Ketika tujuan mendengarkan suara Tuhan adalah untuk memperoleh keistimewaan spiritual, ingin memamerkan kehebatan spiritual di depan orang banyak, ingin mengetahui peta kehidupan masa depan kita. Ingat bahwa Tuhan ingin kita bersandar pada-Nya, bukan pada rancangan-Nya.

Terlalu Berfokus Pada Diri Sendiri – Kesibukan, Kekhawatiran, Kecemasan!
Kita tidak dapat mendengarkan suara Tuhan apabila hati kita tertuju pada diri kita sendiri (Yer. 29:12-13).

Selalu Terburu-buru! (Have not Spent Enough Time with God!)
Tidak sabar! Ingin Tuhan berbicara secepat mungkin! Memaksa-Nya untuk berbicara!

Enggan Mengintrospeksi Diri Kita
Terkadang Tuhan “diam” karena Dia ingin Anda menunggu dengan sabar dan beriman pada-Nya. Ketika Marta dan Maria memohon Tuhan Yesus untuk menyembuhkan adik mereka, Lazarus yang sedang sakit keras, Tuhan “diam” dan menunda kedatangan-Nya (Yoh. 11).

Yesus menggunakan perumpanaan 4 jenis kondisi tanah sebagai contoh 4 jenis penerima firman-Nya (Matius 13:1-23). Jadi, apakah kita dapat mendengarkan suara-Nya sangat bergantung kondisi “tanah” (hati) kita.

Sebenarnya yang paling sulit, bukanlah mendengarkan suara-Nya, melainkan melakukan perintah-Nya. Sebab ketika Tuhan berbicara kepada kita, sering kali Dia mengoreksi pertanyaan kita jika kita salah bertanya. Dia ingin kita percaya kepada-Nya, tetapi kita cenderung mengkhawatirkan banyak hal. Dia ingin agar kita tidak takut, tetapi kita sering mencemaskan keadaan sekitar kita. Dia sering mengoreksi motivasi kita yang terdalam, sehingga membuat kita merasa tidak nyaman. Karena hal-hal demikian, kita tidak mau mendengarkan suara-Nya.

Sering kali kita ingin mendengarkan suara-Nya, apakah kita akan menikahi Susi pada bulan Mei tahun ini atau tahun depan, sarapan lontong atau gado-gado, menerima lamaran William atau Dicky, bekerja di perusahaan Rizki atau Fernando. Tuhan tidak berbicara kepada kita berdasarkan apa yang kita inginkan, tetapi berdasarkan apa yang Dia kehendaki terhadap kita. Kita tidak bisa memaksa-Nya berbicara tentang hal-hal yang ingin kita dengar. Kecuali kita ingin menghubungkan hati kita dengan hati-Nya, kita akan sulit mendengarkan suara-Nya. God speaks to us according to His terms, not ours (Tuhan berbicara kepada kita berdasarkan syarat-syarat-Nya, bukan syarat-syarat kita).•

| PASTOR LAN YONG XING

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
Kegiatan