Prayer and Human Flourishing

Prayer and Human Flourishing (Bagian 1)

Belum ada komentar 23 Views

MASUKLAH KE DALAM KAMAR ANDA!
William adalah seorang manajer korporasi internasional yang sangat dikagumi. Ia sering terbang di kelas bisnis ke Amerika, China dan Eropa. Ia juga seorang penatua yang sangat aktif dalam persekutuan doa, pendalaman Alkitab, paduan suara, pelawatan dan pembinaan pemuda.

Pandemi Covid-19 yang diumumkan WHO pada tanggal 11 Maret 2020 mengubah kehidupannya. William tidak dapat bepergian lagi. Seluruh kegiatan gereja juga ditiadakan dan sebagian diubah menjadi online. Sebagian staf beberapa departemen yang dipimpinnya harus dirumahkan. Ayahnya meninggal dunia karena Covid-19, dan ibunya dirawat di ruang isolasi dengan kondisi yang makin buruk.

William duduk diam di kantor pribadi rumahnya sambil merenungkan kesuksesan yang telah dicapainya. Apakah makna dan tujuan hidup manusia? Sesungguhnya manusia itu rapuh dan lemah. Dunia semestinya mengkaji kembali sistem ekonomi yang didorong oleh keegoisan dan keserakahan, yang melalaikan kemanusiaan. Selama ini, unjuk kekuatan dan pertahanan militer diprioritaskan dan pertahanan kesehatan diabaikan. Saatnya kini dunia berbenah dan serius memikirkan makna flourishing (pengembangan) yang sesungguhnya. Para ahli seperti Nicholas Wolterstorff dan Miroslav Volf sudah lama menyerukan pentingnya untuk kembali pada makna pengembangan manusia yang sesungguhnya (true human flourishing). Sambil meneguk kopi, William teringat keluhan selama ini, yaitu sangat sibuk dengan pekerjaan dan pelayanannya sehingga tidak punya waktu lagi untuk berdoa dan membenahi diri. Isolasi mandiri telah memaksa gereja untuk berdiam diri di dalam doa. Gereja didesak untuk melakukan perintah Yesus Kristus, “Tetapi jika engkau berdoa, MASUKLAH KE DALAM KAMARMU, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:6). Sekitar 700 tahun sebelum Kristus, Yesaya juga mengatakan, “Mari bangsaku, MASUKLAH KE DALAM KAMARMU, tutuplah pintumu sesudah engkau masuk, bersembunyilah barang sesaat lamanya, sampai amarah itu berlalu” (Yesaya 26:20).

Gereja juga dipaksa untuk memikirkan kembali prioritas pelayanannya. Gereja —yang selama ini sibuk dengan berbagai aktivitas dan ritus agama— kini harus berdiam diri dan merenungkan kembali apakah ia sudah sungguh-sungguh berada di dalam Tuhan. Relasi gereja dengan sesama berakar pada relasinya dengan Allah. Apakah gereja benar-benar mempunyai relasi yang dekat dengan Tuhan dalam mengusahakan shalom bagi dunia, atau hanya sibuk dengan program pelayanannya? Doa merupakan basis relasi dengan Tuhan. Tanpa doa, relasi dengan-Nya tidak mungkin terawat. Tanpa doa, gereja tidak mungkin dapat bermitra dengan-Nya.

Di satu sisi, kita mungkin telah menjadi budak perekonomian dunia. Hidup menjadi sangat lelah di dalam kesibukan yang tidak pernah berhenti. Tuntutan pelayanan juga sangat tinggi sehingga kita tidak punya waktu dan energi lagi untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Hidup menjadi terlalu mekanis dan teknis. Saatnya berdiam diri!

SWAKARANTINA 14 HARI
Menurut Kitab Imamat, jika seseorang termasuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) atau ketika ia memiliki gejala sakit kusta, ia harus mengarantina diri selama 14 hari (Imamat 13:4-5). Imam harus memeriksa kondisi yang bersangkutan pada hari ketujuh dan memeriksa kembali pada hari ke-14. Jika ternyata yang bersangkutan positif sakit kusta, ia akan dinyatakan najis. Jika pasien tersebut bepergian, ia harus berseru, “Najis, najis” (Im. 13:45) sebagai bentuk menjaga jarak alias physical distancing. Hal ini dilakukan demi melindungi orang lain.

Tahukah Anda mengapa Doa Harian disebut Saat Teduh atau Quiet Time? Tuhan merindukan Anda berjumpa dengan-Nya dalam keheningan. Dia bersabda, “DIAMLAH dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46:10). Kiranya Anda tidak mengabaikan Tuhan Yesus yang berdiri di depan pintu hatimu dan mengetuk (Wahyu 3:20).

Mengapa kita menolak berdiam diri meskipun sedang dalam isolasi mandiri? Sebab diam membuat kita gelisah. Diam membuat kita sengsara. Kita tidak dapat menjauh dari ponsel dan televisi kita karena kesendirian memaksa kita untuk berjumpa dengan diri kita. Kita takut menemui diri kita sendiri di dalam kesendirian. Oleh sebab itu, kita terus menyibukkan diri dengan banyak hal.

Yesus memberikan teladan untuk berdiam diri: “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat tempat yang SUNYI dan berdoa” (Luk. 5:16). Tahukah Anda bahwa setelah Yesus menerima berita kematian Yohanes Pembaptis, Dia mengundurkan Diri untuk berdoa? “Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak MENGASINGKAN DIRI dengan perahu ke tempat yang SUNYI” (Mat. 14:13a).

Bukankah selama ini Anda mengeluh “sibuk”? Bukankah selama ini Anda merasa terlalu sibuk untuk membaca Alkitab dan berdoa? Kini Tuhan memberimu waktu untuk berdiam dalam hadirat-Nya. Berdiam diri penting untuk menata dan membenahi diri serta memeriksa kembali prioritas hidup kita. Berdiam diri juga sangat penting untuk memulihkan berbagai luka batin di dalam diri kita. Dalam diam, kita dapat mencurahkan kepedihan hati kita kepada-Nya.

Mari kita menggunakan kesempatan ini untuk mendengarkan-Nya. “Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (Ratapan 3:25).

APAKAH DOA PENTING BAGI ANDA?
WHO mendeklarasikan sebuah emergency untuk melawan pandemi Covid-19. Apakah jiwa Anda juga mendeklarasikan emergency untuk berdoa? Pernahkah Anda, ketika sedang menikmati makanan, tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat penting yang harus Anda kerjakan sehingga meninggalkan makananmu?

Apakah doa sangat penting bagimu sehingga Anda sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk bercakap cakap dengan Tuhan? Apakah berelasi dengan-Nya penting bagimu? Jika suatu hari Anda menderita sakit, kemudian dokter berkata, “Anda harus minum satu pil obat setiap hari. Jika Anda tidak minum, Anda akan langsung meninggal,” akankah Anda lupa mengonsumsi obat tersebut? Anda pasti berusaha keras untuk mengingatnya.

Samuel berkata, “Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu” (1 Sam. 12:23a). Samuel merasa dirinya berdosa jika tidak berdoa. Doa orang-orang percaya digambarkan disimpan di dalam CAWAN EMAS (Why. 5:8), bukan cawan perak atau perunggu. Firman Tuhan menegaskan bahwa kita dikuduskan oleh FIRMAN Allah dan oleh DOA (1 Tim. 4:5). Doa sangat penting, sehingga Tuhan mengundang kita untuk mencari-Nya di dalam doa (Yer. 29:13).

Doa bukan sekadar kata-kata! Doa adalah hati yang terhubung dengan Tuhan. Doa adalah hati yang terarah kepada-Nya, rindu mencari-Nya, rindu dekat dengan-Nya dan diubahkan oleh-Nya. Doa merupakan media untuk bersahabat dengan Tuhan. Yang menarik, makin kita mencari-Nya dan berinteraksi dengan-Nya, makin mudah kita mengenal suara-Nya. Makin kita merindukan-Nya, makin mudah kita berinteraksi dengan-Nya. Makin mencintai-Nya, makin peka kita pada pekerjaan-Nya di dalam diri kita dan melalui kita. Tidak sulit untuk mengenali prioritas hidup kita. Hal yang paling banyak kita pikirkan dan kerjakan setiap hari, itulah prioritas kita. We spend most time doing what is important to us! Have we spent enough time alone with God?

IT IS ABOUT FRIENDSHIP!
Doa bukan sebuah kegiatan agama, melainkan sebuah relasi. Tuhan tidak ingin kita menjadi seperti orang Farisi atau ahli-ahli Taurat yang giat mempelajari kitab Suci tetapi menolak berelasi dengan-Nya. Yesus berkata, “Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya…firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki kitab-kitab Suci…namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk mem peroleh hidup itu” (Yoh. 5:37-40).

Tuhan rindu bersahabat dengan kita (1 Yoh. 1:3). Orang-orang seperti Abraham (2 Taw. 20:7; Yak. 2:23), dan Musa (Kel. 33:11) disebut sebagai sahabat Allah. Persahabatan dengan Tuhan menguatkan Abraham dalam menghadapi bencana kelaparan dan masa depan yang tidak jelas; Musa dalam menghadapi penolakan baik dari orang Mesir maupun dari orang Israel; Daud dalam menghadapi banyak peristiwa yang membahayakan hidupnya; Daniel dalam menghadapi kehidupan yang berat di tanah asing bersama tiga sahabatnya hingga akhirnya seorang diri.

Tuhan tidak ingin menjadi Allah yang jauh. Dia ingin selalu dekat dengan kita. Dia ingin kita tinggal di dalam Dia (Yoh. 15:1-8) dan menikmati persekutuan yang dekat-akrab dengan-Nya. Persahabatan dengan Allah bukanlah hasil perjuangan kita, melainkan sebuah hadiah istimewa dari-Nya.

Jika Anda bersahabat dekat dengan kawanmu, Anda dengan mudah dapat mengenal suaranya dan memahami maksudnya. Begitu juga relasi Anda dengan Tuhan. Makin dekat dengan Nya, makin Anda mengenal dan peka terhadap suara dan maksud-Nya. Dalam persahabatan dengan-Nya, Tuhan mengundang Anda keluar dari kebisingan, kesibukan dan kekhawatiran agar jiwamu menikmati peristirahatan di dalam Dia. Maukah Anda menjadi sahabat Kristus?

Anda dapat memulainya dengan berdiam diri selama 10 menit secara pribadi di hadapan Tuhan untuk menikmati hadirat-Nya. Saya menyebutnya dengan wordless prayer, alias doa tanpa kata-kata atau less words prayer, doa dengan sedikit kata kata, dan lebih banyak berdiam diri di hadirat-Nya.

UNDANGAN TUHAN! APAKAH JAWABAN ANDA?
Pernahkah Anda bersedih karena tidak diundang? Karena merasa dilupakan? Atau Anda pernah diundang ke sebuah acara tertentu, tetapi Anda tidak ingin menghadirinya? Saat ini, Tuhan mengundang Anda untuk berjumpa dengan-Nya. Apakah jawaban Anda?

Dia mengundang kita, “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yer. 29:12-13). “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu” (Yak. 4:8).“Rumah-Ku akan disebut rumah doa” (Mat. 21:13; Mark. 11:17). Akankah Anda merespons undangan-Nya dengan berdiam diri dan berdoa kepada-Nya?

Ada yang mendatangi ruang doa pada waktu makan siang untuk mencurahkan hatinya kepada Tuhan. Ada yang—karena tidak mempunyai tempat untuk berdoa—terpaksa berdoa di dalam mobilnya. Ada yang mengambil cuti untuk berdoa di tepi pantai. Ada juga yang sengaja masuk kantor lebih awal sebelum koleganya tiba, untuk berdoa. Ada yang membaca buku tentang doa untuk belajar bagaimana berdoa. Ada yang menuangkan doanya dalam bentuk tulisan agar dirinya lebih peka terhadap pekerjaan Tuhan dalam hidupnya. Bagaimana dengan Anda?

BAGAIMANA ANDA BISA BERDOA JIKA TIDAK PERCAYA?
Ketika kita berbicara tentang doa, kita sedang membicarakan sebuah relasi dan komunikasi dengan Yang Mahatinggi. Kita tidak mungkin mau berdoa jika kita tidak percaya kepada Nya. Apa yang dimaksud dengan percaya? Percaya adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi tidak dapat dipalsukan. Percaya kepada Tuhan berarti percaya bahwa Dia lebih peduli diri kita daripada kita sendiri. Percaya bahwa Dia lebih mencintai anggota keluarga kita melebihi cinta kita kepada mereka.

Banyak orang yang, karena takut ditolak atau takut merasa malu, mengaku percaya. Banyak yang berkata, “Aku percaya”, tetapi sesungguhnya tidak percaya kepada Tuhan. “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yes. 29:13). Yesus berkata, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Mat. 15:8).

Kita tidak dapat mengatakan, “Aku sedikit percaya” atau “Aku percaya sebagian.” Percaya pasti berserah sepenuhnya. Yesus sering mengajukan pertanyaan, “Percayakah engkau?” (Yoh. 9:39; 11:26), “Mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?” (Yoh. 8:46). Menyadari kelemahan kita sangatlah penting, sehingga kita dapat memohon, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini” (Markus 9:24). Percaya bersifat relasional. Kita belum benar-benar percaya, bila kita tidak berelasi dengan Tuhan. Berelasi dengan-Nya memperdalam pengenalan kita kepada-Nya. Makin berelasi dengan-Nya, makin kita percaya kepada-Nya. Dalam relasi kita dengan Tuhan, kita tidak saja mengenal kuasa Nya, tetapi juga kebaikan-Nya. Percaya kepada Tuhan mempersiapkan kita, sekalipun harus menerima kematian kita sendiri. Percaya kepada-Nya juga berarti percaya bahwa Dia pasti akan memelihara orang-orang yang kita tinggalkan. Percayakah Saudara meskipun Tuhan mendatangkan kesengsaraan, Dia juga sangat menyayangi umat-Nya (Rat. 3:32)? Percayakah Anda kepada-Nya?

MENOLAK BERDOA
Terkadang kita mengeraskan hati untuk berdoa. Yesaya berkata, “Mereka tidak mencari Tuhan semesta alam” (9:12). Ketika Tuhan memanggil raja Ahaz untuk berdoa, ia menolak (Yes. 7:10- 12). Ia memilih untuk mengandalkan kemampuannya sendiri dan bersandar pada kerajaan Asyur (2 Raj. 16:7). Tuhan pernah menegur Saul yang tidak berdoa, tetapi Saul bersikeras bahwa ia sudah berdoa (1 Sam. 15:19-20, 22-23).

Tuhan berkata “sakit hati-Ku” (Yer. 8:19b) karena “mereka tidak mendengarkan suara-Ku dan tidak mengikutinya, melainkan mengikuti kedegilan hatinya” (Yer. 9:13-14). Yesus berkata, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, TETAPI KAMU TIDAK MAU (Mat. 23:37).

Sering kali kita merasa bahwa kita sudah berdoa padahal kita belum berdoa. Karena ketika kita berdoa, kita hanya mengucapkan kata-kata yang bersifat rutinitas saja dan hati kita belum tertuju kepada-Nya. Ketika hatinya sangat sedih, Hana menghadap Tuhan dan mencurahkan hatinya (1 Samuel 1). Pemazmur berkata, “Aku mengasihi Tuhan, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya” (Mazmur 116:1-2).

Sudahkah Anda benar-benar berdoa?•

| PASTOR LAN YONG XING

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
  • Prayer and Human Flourishing
  • Tuhan Sumber Sukascitaku
    Tuhan Sumber Sukascitaku
    Sukacita adalah hal mendasar bagi keberadaan dan kesejahteraan manusia. Sukacita juga merupakan fondasi agama dan praktik-praktiknya. Dari laman faith....
  • Budaya
  • Sang Wadah
    Mewadahi Sang Wadah?
    Sebuah Refleksi Atas Natal Yesus Dan Inkarnasi Kristus
    “Adakah Tempat Bagi-Nya?” Kita tentu sudah sering mendengar pertanyaan sejenis pada masa-masa Natal di masa silam. Ia menantang kita...
  • universal
    Keselamatan: Universal atau Partikular?
    Lukas 16:1-9
    Fokus kita pada khotbah perenungan ini diambil dari 1 Timotius 2:1-7:  Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan...
Kegiatan