Sang Wadah

Mewadahi Sang Wadah?

Sebuah Refleksi Atas Natal Yesus Dan Inkarnasi Kristus

Belum ada komentar 61 Views

“Adakah Tempat Bagi-Nya?”

Kita tentu sudah sering mendengar pertanyaan sejenis pada masa-masa Natal di masa silam. Ia menantang kita untuk memastikan bahwa memang kita menerima Yesus yang lahir di Betlehem itu ke dalam hidup kita, kini dan di sini. Lantas, kisah ditolaknya Maria, Bunda Yesus, sesaat sebelum melahirkan Yesus (Luk. 2:7), menjadi kisah yang kerap menggambarkan penolakan kita pada Yesus itu sendiri. Bahkan, Injil Yohanes menunjukkan bahwa penolakan terhadap Yesus secara ironis dilakukan oleh bangsa Israel sendiri; padahal Ia datang kepada mereka (Yoh. 1:11). Pada ayat 12, penulis Injil Yohanes kemudian menegaskan, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Jadi, terhadap Yesus yang datang ke dunia, seluruh manusia terbagi menjadi dua, yaitu mereka yang menerima-Nya dan mereka yang menolak-Nya.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah sikap Allah akan ditentukan oleh penerimaan atau penolakan manusia terhadap Yesus, Sang Anak Allah? Apakah Allah hanya akan menerima mereka yang menerima Yesus dan menolak mereka yang menolak Yesus? Cara berpikir ini tentu saja logis, namun menyimpan sebuah persoalan yang sangat serius. Jika demikian halnya, Allah tampil sebagai Allah yang reaktif—Allah yang sikap Nya dikemudikan oleh sikap manusia yang muncul sebelumnya.

Kristus Sang “Ya” Allah

Mungkin, kita perlu mundur sejenak, bukan pada titik penerimaan atau penolakan manusia, tapi pada titik keputusan Allah untuk datang ke dunia sebagai manusia di dalam diri Yesus Kristus. Keputusan itu di dalam tradisi Kristen disebut inkarnasi, yang artinya adalah “menjadi daging” (Yoh. 1:14). Terdapat dua tradisi besar di dalam kekristenan yang berusaha menjawab mengapa Allah memutuskan untuk berinkarnasi di dalam Sang Anak. Tradisi pertama paling kerap kita dengar, yaitu inkarnasi dimaksudkan sebagai jawaban Allah atas dosa manusia. Tradisi kedua menandaskan bahwa inkarnasi adalah pola dasar Allah dalam mencintai dunia, terlepas ada atau tidak adanya dosa manusia. Kita perlu menyikapi perbedaan pandangan ini secara dewasa sebagai kekayaan iman Kristen.

Akan tetapi, apa yang lebih menarik perhatian saya melalui tulisan ini adalah bahwa kedatangan Sang Anak di dalam Yesus mendahului penerimaan atau penolakan manusia yang berdosa. Ia adalah inisiatif Allah yang mewujud dalam anugerah. Ia mendahului dan mengatasi penerimaan atau penolakan manusia tersebut. Paulus mengungkapkan hal ini di dalam 2 Korintus 1. Pada saat jemaat Korintus meragukan komitmen kerasulan Paulus, ia berkata, “Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak ‘ya’ dan ‘tidak’. Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah ‘ya’ dan ‘tidak’, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada ‘ya’. Sebab Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan ‘Amin’ untuk memuliakan Allah.” (2Kor. 1:18-20).

Jadi, bagi Paulus, di dalam Allah tidak ada kemenduaan sikap berdasarkan dua sikap manusia. Di dalam Allah hanya ada “Ya!” yang agung, yang kita saksikan di dalam Yesus Kristus. Seluruh gerak sejarah sebenarnya men cerminkan “Ya!” ilahi yang konstan dan setia. Allah kita mencurahkan anugerah pada ciptaan-Nya tidak secara fluktuatif atau naik-turun; satu kali “ya,” kali lainnya “tidak.” Ia selalu “Ya!”

Kristus Sang Wadah Semesta

Kesaksian Paulus ini menggetarkan hati saya. Tiba-tiba saya disadarkan bahwa kesetiaan Allah di dalam Kristus yang tidak fluktuatif itu melampaui sikap mendua manusia yang fluktuatif. Keyakinan iman semacam ini menuntun kita lebih jauh untuk memahami bahwa dunia ini memang diikat di dalam janji setia Allah melalui Kristus. Bagaimana caranya? Yaitu dengan menciptakan seluruh dunia ini di dalam Kristus, bahkan sebelum inkarnasi-Nya menjadi manusia! Lagi-lagi, Paulus mengungkapkan hal ini dengan berkata, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” (Kol. 1:15- 17). Indah, bukan?

Bagi Paulus, “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu.” Lokasi seluruh ciptaan berada di dalam Kristus. Koordinat semesta ditemukan di dalam, bukan di luar, Dia! Para pembaca sekalian mungkin harus mulai membiasakan diri untuk melengkapi imajinasi mengenai Yesus, yang selama ini sekadar tertuju pada manusia Yesus dari Nazaret itu, dengan imajinasi yang lebih bersifat kosmik! Artinya, setiap kali berbicara mengenai Yesus Kristus—Allah sejati dan manusia sejati—kita tidak saja berbicara mengenai Yesus dari Nazaret yang ada dalam sejarah itu, tapi juga mengenai Kristus sebelum inkarnasi, yang di dalam-Nya segala sesuatu dijadikan. Pandangan ini kerap disebut doktrin “Kristus kosmik” atau “Kristus universal.”

Di dalam sebuah gereja, yang disebut “Gereja Khora,” di Istanbul, Turki, ditemukan dua buah lukisan besar di langit-langit atapnya. Lukisan pertama menggambarkan Yesus sebagai penguasa semesta (pantokrator) dengan sebuah inskripsi berbahasa Yunani, bahwa Yesus adalah he khora ton zonton. Artinya: “Wadah dari semua yang hidup.” Kalimat ini menggemakan kesaksian Paulus di dalam Kolose 1, yaitu bahwa “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu“ (ay. 16) dan bahwa “segala sesuatu ada di dalam Dia” (ay. 17). Yesus adalah Sang Wadah bagi seluruh semesta. Di sampingnya, terdapat sebuah ikon lain yang menggambarkan Maria, Bunda Yesus, yang mengandung dan melahirkan Yesus. Inskripsi di sampingnya berbunyi he khora tou akhoritou, yang artinya, Maria adalah “wadah dari Dia yang tak dapat diwadahi.” Tentu saja yang dimaksud dengan “Dia yang tak dapat diwadahi” adalah Kristus, sebab Ialah Sang Wadah itu sendiri. Tidak ada ciptaan yang sebenarnya dapat mewadahi Kristus, sebab segenap ciptaan diwadahi oleh-Nya. Namun, misteri inkarnasi berkata lain. Sang Wadah (Kristus) kini diwadahi oleh dia (Maria) yang sebenarnya Dia wadahi.

Jadi, setiap kali kita berbicara mengenai Maria, kita mengingat rahim perempuan yang di dalamnya kehidupan Yesus sebagai manusia dimulai. Namun, setiap kali berbicara mengenai Kristus, kita harus ingat bahwa Dialah Sang Rahim Allah itu sendiri. Sebab, semua ciptaan memperoleh kehidupan berkat keberadaannya di dalam Kristus. Tidak heran jika memiliki kosakata indah, seperti “rahmat.” Kata rahmat memiliki akar kata yang sama dengan rahim. Kerahiman Allah ditampilkan secara sempurna di dalam Kristus, yang di dalam-Nya semua ciptaan hadir dan hidup.

Jadi, mungkin, sebelum kita berusaha menjawab pertanyaan awal, “Adakah Tempat Bagi-Nya?” kita perlu menjawab pertanyaan yang lebih penting: “Adakah Tempat Bagiku di dalam-Nya?” Pertanyaan ini lebih penting dan lebih mendasar, sebab ia menuntun kita pada kisah kasih Allah yang mendahului keberdosaan kita. Namun, pertanyaan ini tentu secara imani akan lebih mudah kita jawab: Ya, akan selalu ada tempat bagiku di dalam Allah, yaitu di dalam Kristus. Sebab, “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu.“ Sebab, “di dalam Dia hanya ada ‘ya’ .. Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah.” Jika demikian halnya, masih mungkinkah kita bertindak bodoh dengan menolak Kristus yang membuktikan betapa besar kasih Allah bagi dunia itu?•

»PDT. DR. Joas Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
  • Prayer and Human Flourishing
    Prayer and Human Flourishing (Bagian 1)
    MASUKLAH KE DALAM KAMAR ANDA! William adalah seorang manajer korporasi internasional yang sangat dikagumi. Ia sering terbang di kelas...
  • Tuhan Sumber Sukascitaku
    Tuhan Sumber Sukascitaku
    Sukacita adalah hal mendasar bagi keberadaan dan kesejahteraan manusia. Sukacita juga merupakan fondasi agama dan praktik-praktiknya. Dari laman faith....
  • Budaya
  • universal
    Keselamatan: Universal atau Partikular?
    Lukas 16:1-9
    Fokus kita pada khotbah perenungan ini diambil dari 1 Timotius 2:1-7:  Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan...
  • Hadapan
    PRIORITAS: Kaya Di Hadapan Allah
    A. APA PRIORITAS HIDUPMU? Saudara, pernahkah seseorang mendatangi Anda dan memohon, “Saya butuh bantuan, bisakah kaukatakan kepada pacarku untuk...
Kegiatan