Merayakan Kerapuhan Dalam Kegembiraan untuk Menyelami Cinta Allah

Merayakan Kerapuhan Dalam Kegembiraan untuk Menyelami Cinta Allah

Belum ada komentar 40 Views

Setiap manusia menyadari keterbatasan dirinya dan keterbatasan orang lain, tetapi kesadaran itu tidak serta merta menciptakan sikap penerimaan dan keterbukaan terhadap keterbatasan tersebut. Ia justru berjuang menghadirkan kesempurnaan. Sekali pun hal itu merupakan kemustahilan, tapi ia tetap mengusahakannya, sehingga ia cenderung makin sulit dan tertutup untuk menerima keterbatasan dan kerapuhan. Allah pun dipahami sebagai pihak yang sempurna, yang tak mengenal kelemahan. Menariknya, di dalam cinta Nya, Allah memberikan diri Nya untuk menjadi rapuh— sama seperti manusia—dalam rupa Yesus. Pada saat manusia berjuang menyampingkan kerapuhannya, Allah hadir dalam cinta-Nya untuk menyerap semua keterbatasan dan kerapuhan manusia. Menerima kerapuhan di dalam cinta Allah mengajak kita untuk merayakan hidup dalam persekutuan, kehangatan, dan penerimaan. Merengkuh kerapuhan, tanpa perlu menjadi fatalistik.

Allah yang Menjadi Manusia
Allah dipahami sebagai pihak yang mampu melakukan apa pun, karena Ia sempurna. Ia memiliki kekuatan untuk mengatasi keterbatasan, dapat melakukan apa pun dan untuk siapa pun, dan tidak ada seorang pun yang dapat menyebabkan penderitaan kepada-Nya (Placher 1994, 3). Kita memahami bahwa di dalam rencana baik Allah bagi manusia, Ia menjadi manusia Yesus. Kita menerima kemanusiaan Yesus seutuhnya, dan menegaskan bahwa Yesus tidak menjadi setengah manusia. Injil pun menampilkan kemanusiaan Yesus yang seutuhnya. Itu artinya, Yesus menjadi manusia yang rapuh seperti manusia ciptaan-Nya. Ia memasuki kerapuhan manusia seutuhnya, hingga kematian menjadi tanda yang jelas dari kerapuhan-Nya. Banyak orang Kristen sulit menerima Allah yang rapuh, sebaliknya Ia dipahami sebagai Allah yang omnipotent (Maha Kuasa). Placher justru menuliskan bahwa Injil Kekristenan memproklamasikan Allah yang menyatakan diri dalam diri Yesus Kristus sebagai Allah yang berbeda, Allah yang rapuh,

The Christian gospel, however, proclaims the God self-revealed in Jesus Christ, and that God is very different—a God, in Leonardo Boff’s phrase, ‘weak in power but strong in love,’ a God willing to be vunerable to pain in freedom of love. (Placher 1994, 3)

Tindakan inkarnasi Allah dalam diri manusia Yesus adalah tindakan kasih yang sempurna. Tindakan yang merangkul ciptaan-Nya dalam keseluruhan cinta-Nya. Ia bersedia menjadi rapuh dan mengambil risiko untuk menderita, sebagai bukti kebebasan kasih-Nya (Placher 1994, 10). Cinta kasih-Nya dinyatakan secara merdeka, dan masuk dalam kerapuhan manusia dalam diri Yesus. Kerapuhan itu makin nyata lewat pengalaman hidup Yesus dan memuncak dalam peristiwa penyaliban. Yesus dapat menghindar dari semua perjalanan penderitaan menuju salib, tetapi Ia tetap melakukannya. Dalam ketaatan-Nya, dalam kebebasan-Nya, Ia mengambil segala risiko untuk menjadi rapuh. Dalam kisah Yesus, Ia menunjukkan bahwa Ia menjadi manusia seutuhnya—sama seperti manusia lainnya—yang hidup dalam kepatuhan penuh kepada Allah (Placher 1994, 15). Cinta Allah mewujud dalam karya dan kesediaan Nya mengalami kerapuhan dalam kehidupan manusia,

Love means a willingness to take risks, to care for the other in a way causes the other’s fate to affect one’s own, to give to the other at real cost to oneself, to chance rejection. In Barth’s words, God ‘does not forfeit anything by doing this… On the contrary,’ precisely in showing willingness and readiness ‘for this condescension, this act of extravagance, this far journey.’ (Placher 1994, 16)

Hal ini dinyatakan dalam Yohanes 3:16-17, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Cinta menggerakkan Allah berinkarnasi dalam diri Yesus. Cinta memerdekakan Yesus untuk menjalani kerapuhan-Nya. Cinta melegakan Yesus melewati jalan salib, dan bukan saja menghadapi peristiwa penderitaan, melainkan juga penolakan dan penghinaan. Menurut Placher, manusia mencari kekuatan (power) karena manusia takut pada kelemahan, takut pada apa yang akan terjadi jika ia menjadi rapuh. Itu sebabnya ia mencari kekuatan yang sepertinya menjadi ekspresi kemerdekaan sejati, tapi yang justru membuktikan perbudakan rasa takut menjadi rapuh.

Beyond that, God suffers because God is vunerable, and God is vunerable because God loves—and it is love, not suffering or even vunerability, that is finally the point. God can help because God acts out of love, and love risks suffering. (Placher 1994, 18) Only a God ‘weak in power but strong in love’ can be strong enough to take on all the world’s pain and die on a cross. (Placher 1994, 21)

Dalam cinta-Nya Yesus merasakan keterbatasan manusia. Yesus yang sungguh-sungguh manusia adalah Yesus yang terbatas. Di dalam persekutuan Allah Tritunggal, kerapuhan dirayakan dengan cinta kasih Allah yang utuh dan sempurna. Pendekatan tentang hal yang terbatas ini menolong kita untuk memahami Allah,

Similarly, this idea of limits is also relevant for our understandings of God. When we think of limits, we think of limit-ed. We tend to imagine that a God with limit (e.g a God with an impairment) is less (at best) or defective (at worst). If God has an impairment, we tend (from a limitedness perspective) to think God is not (a blind God can not see, a deaf God cannot hear). However, applying the limits model may instead give us a very different way to think of God. When we imagine an unlimited God, there is subtle implication that the more limits we have, the less we are like God. Imaging God as including limits has a number of positive benefits. The notion of limits as applied to God teaches us, for examples, that ‘disability does not mean incomplete and that difference is not dangerous.’ (Creamer 2009, 112)

Allah yang menjadi manusia merangkul kerapuhan manusia. Ia tidak menolaknya. Ia tidak mengubah kerapuhan kita menjadi kesempurnaan. Ia menerima kita apa adanya dan tetap mencintai kita dengan utuh. Kita bersyukur bahwaAllah kita adalah Allah yang bersedia menjadi rapuh dalam keterbatasan manusia, sehingga tidak ada lagi penghalang untuk merayakan hidup saat ini dan memaknainya dalam karya dan kebersamaan.

KEGEMBIRAAN DALAM KEBANGKITAN YESUS
Kegembiraan adalah sebuah anugerah yang Allah berikan ketika kita menghayati kisah kebangkitan Yesus. Penerimaan diri sebagai pribadi yang utuh dan dicintai telah ditunjukkan Allah kepada manusia lewat kebangkitan Yesus. Yesus, yang dengan segala cinta-Nya menanggung semua penderitaan dengan kemerdekaan mati di atas kayu salib, menunjukkan kerapuhan manusia yang paling besar. Kebangkitan Yesus pun menunjukkan penerimaan yang tidak berubah terhadap kerapuhan manusia. Yesus bangkit dengan tanda-tanda luka di tubuh-Nya dan tanda itu tidak menghalangi damai sejahtera dan kegembiraan yang dinyatakan-Nya di tengah persekutuan para murid yang ketakutan dan kehilangan kegembiraan. Dalam kebangkitan Nya, Allah tetap merangkul kerapuhan manusia agar manusia dapat merangkul kerapuhannya dan merayakannya dalam kegembiraan bersama Yesus yang bangkit.

Penderitaan dan kematian menyatukan Yesus dengan kerapuhan manusia. Ia telah mengalami segala bentuk kerapuhan manusia: ditolak, dihina dan disiksa. Ia—yang bergumul dengan penderitaan—merasakan semua penurunan dan kehilangan kemampuan tubuh yang akhirnya merengkuh kematian. Bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai kesempurnaan cinta yang ditunjukkan Nya. Ia memahami dengan sungguh apa itu kerapuhan, penderitaan, dan keterbatasan manusia,

Because of sin, God’s willingness to risk suffering led in fact to suffering, and such is love that God does not regret the risk. Christians even celebrate the wonder of redemptive suffering, but, still, the suffering as suffering in not a good.(Placher 1994, 116) Suffering, then, is not itself a good but one of the risks of the kind of vulnerable love that is good. Moreover-a second point even Christ’s suffering on the cross is the suffering of someone out to win in the struggle with evil, not the suffering of a passive victim only enduring suffering for the sake of the purported virtue of passive endurance. (Placher 1994, 117)

Penderitaan Yesus berubah menjadi kabar kegembiraan lewat peristiwa kebangkitan-Nya. Peristiwa kebangkitan tidak saja menyapa sekelompok orang, tetapi semua orang tanpa batas. Keterbatasan adalah milik manusia, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemanusiaan. Keterbatasan—dan bukan kesempurnaan—adalah cara kita merayakan persekutuan bersama Allah Tritunggal. Kegembiraan ini memampukan orang untuk merdeka dari prasangka dan penghakiman, serta menempatkan dirinya sebagai pribadi utuh yang dipanggil untuk melengkapi kehidupan. Kegembiraan mendorong komunitas dengan penuh sukacita melawan ketakutan, kecanggungan dan kecurigaan, dan memberi ruang bersama untuk merayakan keterbatasan. Kegembiraan tidak perlu dicari dalam kesenangan duniawi yang bersifat hedonis, pemuasan keinginan hasrat diri untuk menjadi sempurna, dan berpusat pada diri sendiri. Kegembiraan sejati ada di dalam cinta Allah yang bersedia menjadi rapuh bersama manusia. Oleh karena itu, manusia pun tidak perlu berjuang untuk menjadi sempurna agar dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Menjadi diri sendiri, menerima diri sebagai pribadi yang dicintai, mendatangkan kegembiraan dalam hidup, dan kegembiraan mendatangkan kebahagiaan. Kebahagiaan itu kemudian dirayakan dengan penerimaan sesama dalam kerapuhan mereka, dalam keterbatasan mereka. Kita membebaskan pihak lain dari segala tuntutan untuk menjadi sempurna. Sumber kegembiraan adalah kesediaan untuk diperlengkapi pihak lain, sehingga kehadiran saya dan orang lain menjadi berarti untuk menghadirkan karya dalam kehidupan yang dipercayakan kepada kita.

| PDT. D. VERA ARUAN
*) Tulisan ini adalah bagian kecil dari tulisan saya yang berjudul “Teologi Kegembiraan”.

Daftar Acuan

  • Creamer, Deborah Beth. 2009. Disability and christian theology, embodied limits and constructive possibilities. New York: Oxford University Press.
  • Placher, William C. 1994. Narrative of a vulnerable God: Christ, theology, and Scripture. Kentucky: Westminster John Knox Press.
  • ______. 2001. Made for happiness: Discovering the meaning of life with Aristotle. Canada: Darton. Longman+Todd.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
Kegiatan