keberagaman

Menghidupi Keberagaman

Belum ada komentar 65 Views

Kemajemukan, dalam sejarahnya, telah menjadi mimpi besar para bapa gereja Gereja Kristen Indonesia (GKI). GKI semula (secara mayoritas) adalah perkumpulan gereja-gereja Tionghoa (Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee). Dalam perjalanannya, gereja-gereja Tionghoa ini menggumulkan posisi mereka di Indonesia ini. Dalam kesepakatan bersama, kemudian mereka mengubah nama menjadi Gereja Kristen Indonesia. Atribut suku bangsa tertentu diubah menjadi atribut keindonesiaan, yang secara perlahan namun pasti membuka diri terhadap masuknya suku bangsa lain dalam kehidupan bergereja.

Dari sedikit kisah manis GKI ini, kita saat ini perlu terus menerus membuka diri terhadap keberagaman, tanpa kehilangan identitas unik ajaran dan tradisi gerejawinya. Lagu ‘Yesus Cinta S’gala Bangsa’ bukan hanya menjadi ‘lagu wajib’ anak-anak Sekolah Minggu, melainkan juga harus menjadi lagu wajib seluruh warga GKI, baik anggota maupun simpatisan. Mengapa? Kemauan menerima orang lain yang berbeda dalam GKI adalah modal utama memelihara GKI tetap mengindonesia. Kemauan ini menolong warga GKI untuk tidak mudah terjebak membangun tirani kelompok-kelompok elite berdasarkan pendidikan, ekonomi, kesamaan suku, dan sebagainya, sekaligus menghindari dominasi kelompok-kelompok yang merasa termarginalisasi di gereja. Bahaya pengelompokan adalah perpecahan. Saat perpecahan mulai mengambil peran, energi komunitas akan terkuras di dalam. Akhirnya, panggilan gereja sebagai ekklesia (dipanggil keluar) tidak optimal dilakukan.

Inilah juga yang kemudian dihidupi dalam model kepemimpinan GKI, kolektif kolegial. Kepemimpinan bersama. Bahkan pemimpin gerejawi yang ada di GKI dipahami sebagai umat dengan fungsi tertentu, bukan hierarkis. Dengan pemahaman ini, GKI mengedepankan komunikasi. Komunikasi yang demikian mengedepankan ‘audi alteram partem’ (dengarkan sisi lain atau semua perlu didengar). Artinya, siapa pun terhisab pada kesatuan dalam Kristus, dalam kesetaraan, serta dalam harkat dan martabat sebagai anak-anak Allah. Tanpa komunikasi yang sehat dan dalam kesetaraan, GKI akan kehilangan makna menjadi gereja yang menerima semuanya (all are welcome). Selamat meng-GKI!

>> Pdt. Bonnie Andreas

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Tuhan Sumber Sukacitaku
    Tuhan Sumber Sukacitaku
    ‘Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!’ (Filipi 4:4) Surat Filipi dikenal sebagai ‘surat sukacita’. Ada banyak kata...
  • Damai Sejahtera Bagimu
    Damai Sejahtera Bagimu…!
    Setelah Maria Magdalena mengabarkan bahwa ia telah melihat Tuhan pada Minggu Kebangkitan, para murid berkumpul di sebuah ruangan yang...
  • encounter
    TITIK TEMU // The Encounter
    Dua puluh dua tahun yang lalu, sebuah mobil menabrak motor saya. seorang teman menelepon saya dan spontan bertanya, “ada...
  • tempat
    Adakah Tempat Bagi-Nya
    Hiruk pikuk perayaan Natal menjadi acara yang dinanti banyak orang. Tunjangan hari raya, liburan, hadiah, lagu indah, barang-barang baru,...
  • ruang
    Rangkullah Dan Beri Ruang
    Setiap pengalaman perjumpaan antar manusia selalu melahirkan beraneka ragam dinamika, penilaian, asumsi, dan ekspektasi. Pengalaman itu diolah oleh logika...
Kegiatan