“Kamu adalah domba-domba-Ku, domba gembalaan-Ku, dan Aku adalah Allahmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yehezkiel 34:31)
Kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa banyak orang mengikutimu, tetapi tentang seberapa banyak hidup yang kau ubah menjadi versi terbaik dari dirinya. Kepemimpinan bukanlah soal kekuasaan atau pengaruh yang menjadikan orang lain sebagai alat untuk kepentingan diri sendiri, melainkan soal kapasitas untuk memampukan dan membimbing orang lain bertumbuh, berkembang, dan menjadi berkat. Pemimpin sejati adalah dia yang memberdayakan, bukan memperdayakan.
Yehezkiel 34:23-31 memperlihatkan bagaimana TUHAN menegur para pemimpin Israel yang telah memperdaya umat-Nya. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, menyalahgunakan kuasa, dan membiarkan umat seperti domba tanpa gembala. Allah berjanji mengangkat seorang pemimpin yang akan membawa pemulihan, keamanan, dan berkat bagi umat-Nya (ayat 25-30). TUHAN berkata, “Kamu adalah domba- domba-Ku, domba gembalaan-Ku, dan Aku adalah Allahmu.” Hal ini menunjukkan adanya relasi intim antara Allah dan umat- Nya. Pemimpin yang memberdayakan akan menuntun orang lain kepada Allah, bukan kepada dirinya. la tidak menjadikan orang lain bergantung padanya, melainkan membantu mereka mengenal penyertaan Allah dan bertumbuh dalam iman.
Bagaimana dengan kita? Kita semua dipanggil untuk memimpin. Apakah kehadiran kita di keluarga, gereja, dan masyarakat, menjadi saluran berkat yang memberdayakan? Atau menghambat orang lain dalam mengalami kasih Allah dan pengembangan dirinya? [Pdt. Jotje H. Karuh]
DOA:
Tuhan, jadikanlah kami pemimpin yang menggembalakan seperti Engkau: penuh kasih, adil, dan membangun hidup sesama. Amin.
Ayat Pendukung: Yeh. 34:23-31; Mzm. 100; Ibr. 13:20-21
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.