Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai. (Mazmur 100:1-2)
“Bahaya terbesar dari rutinitas bukanlah kebosanan, melainkan kehilangan makna dari apa yang kita lakukan.” Kalimat bijak ini mengingatkan kita bahwa bahaya terbesar dari rutinitas bukanlah rasa jenuh atau kebosanan, melainkan ketika kita kehilangan makna dari apa yang kita lakukan. Hal ini sangat relevan dengan ibadah kita. Ketika ibadah menjadi sekadar kebiasaan, kita kehilangan makna sejatinya, yaitu perjumpaan dengan Tuhan yang menumbuhkan spiritualitas kita.
Mazmur 100 adalah seruan sukacita bagi semua orang untuk datang ke hadapan TUHAN dengan hati yang bersyukur. Pemazmur mengajak kita bersorak-sorai bagi TUHAN, beribadah dengan sukacita, dan menyanyikan pujian syukur sebagai pengakuan bahwa Dialah Allah yang menciptakan dan memelihara kita. Ketika kita beribadah dengan kesadaran ini, ibadah kita akan menjadi sarana perjumpaan dengan Tuhan dan perayaan akan kasih-Nya dalam hidup kita.
Saat ibadah hanya menjadi rutinitas tanpa makna, kita hanya hadir secara fisik. Namun, ketika kita sadar bahwa “TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya” (ayat 5), ibadah yang kita lakukan akan dipenuhi sukacita dan menjadi ekspresi hati yang penuh syukur karena mengenal kasih serta kesetiaan Allah kepada kita. Mari melangkah keluar dari rutinitas dan masuk ke dalam hadirat-Nya dengan penuh sukacita! Selamat beribadah! [Pdt. Jotje H. Karuh]
DOA:
Tuhan, mampukan kami untuk beribadah dengan sukacita sehingga kami mengalami perjumpaan dengan-Mu yang mematangkan spiritualitas kami. Amin.
Ayat Pendukung: Yeh. 34:17-23; Mzm. 100; 1 Ptr. 5:1-5
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.