Melampaui Kegelapan, Mempertemukan Terang

Belum ada komentar 8 Views

Lima Pendaki Muda
Ini kisah nyata tentang lima pemuda yang mendaki gunung. Suatu hari mereka berangkat dari Jakarta menuju Gunung Gede di Bogor. Perjalanan ini biasanya ditempuh dalam waktu 8 jam, tetapi mereka menghabiskan 12 jam untuk sampai ke tujuan. Perjalanan terhambat 4 jam karena kurangnya sumber cahaya. Mereka tiba malam hari di kaki gunung dan beristirahat dalam tenda darurat. Tidak seperti pendaki umumnya yang mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, mereka pergi dengan perlengkapan seadanya.

Keesokan harinya, tiga dari mereka memutuskan untuk mendaki hingga puncak gunung sedangkan dua lainnya menunggu di tenda. Ketiganya berhasil sampai di puncak, tetapi mereka begitu kelelahan sehingga tertidur di rerumputan. Tak terasa, matahari mulai terbenam. Kegelapan perlahan lahan mengusir terang. Mereka terbangun dengan sangat panik karena tidak membawa senter dan segera turun dengan tergesa-gesa. Makin lama cahaya matahari tidak mampu menembus rimbunnya pepohonan. Terang perlahan-lahan lenyap.

Ketiga pemuda itu berteriak sembari memanggil dua pemuda lainnya yang menunggu di tenda. Mereka berharap ada seruan balik yang akan menuntun mereka kembali. Di tengah kegelapan itu, mereka berharap menemukan secercah terang. Perlahan-lahan mereka melihat titik api yang dibuat kedua teman mereka yang sedang memasak makanan. Akhirnya mereka berjumpa terang sehingga bisa sampai dengan selamat.

Kisah nyata ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan terang di dalam perjalanannya. Berjalan dalam kegelapan bisa saja membawa ketiga pemuda tersebut tersesat, bahkan berjumpa dengan maut. Kehadiran terang dari api yang dibuat dua pemuda lainnya telah menyelamatkan mereka. Secercah cahaya kecil telah menuntun mereka pada keselamatan.

Tuhan Yesus: Terang Hidup?
Pada tanggal 25 Desember, umat kristiani di seluruh dunia merayakan Natal, peristiwa lahirnya Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat. Lalu apakah hubungan Tuhan Yesus dengan terang? Mari kita lihat Yohanes.

Natal sangat berkaitan dengan hadirnya Sang Terang di dunia. Allah yang menjadi manusia, menjadi penuntun hidup di tengah kegelapan dunia, bahkan penyelamat bagi umat manusia. Unik sekali ketika di dalam Injil, Yohanes berkata bahwa, “… ia akan mempunyai terang hidup.” Kata “terang” melekat erat dengan makna kehidupan. Hal ini hendak menegaskan bahwa terang yang Tuhan Yesus hadirkan adalah terang yang menuntun manusia kepada kehidupan sejati, dan juga mengingatkan bahwa kelahiran Yesus merupakan bagian dari rencana dan karya keselamatan yang Allah anugerahkan kepada dunia. Namun, ketika kita berbicara tentang terang, maka kita akan menemukan sisi berseberangan darinya, yaitu kegelapan.

Apa pentingnya bagi seseorang untuk berjalan dalam terang? Tentu pertanyaan ini dapat kita jawab dengan mudah. Kegelapan menghasilkan kekacauan, kejahatan, dan hal-hal buruk lainnya. Alkitab sering kali menggambarkan terang sebagai keselamatan, dan gelap sebagai maut. Gelap berarti kita tidak hidup dalam tuntunan Firman Allah, seperti seseorang yang berjalan dalam kegelapan dan membutuhkan sumber cahaya. Terang bersifat tuntunan dan arahan kepada keselamatan. Setiap orang percaya yang menerima Tuhan Yesus sebagai terang akan merespons hal tersebut dengan menghidupi Firman Allah yang menuntunnya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Satu Lilin ke Lilin yang Lain
Perayaan Natal berkaitan erat dengan penyalaan lilin Natal. Sangat menarik untuk memahami bahwa perayaan Natal begitu dekat dengan pemaknaan terang. Umat percaya bersama-sama menyalakan lilin dengan membagikan nyala api kecil itu dari satu orang ke orang lainnya sehingga terang makin lama makin besar dan melampaui kegelapan. Dalam peristiwa ini terdapat dua hal yang bisa kita maknai.

Pertama, terang Kristus yang kita terima menjadikan kita aktif mempertemukan terang Kristus kepada dunia. Artinya, ketika kita tahu bahwa Allah penuh dengan kasih, maka kita pun mengasihi sesama. Ketika Allah mengampuni, maka kita mengampuni sesama. Ketika Allah menolong, maka kita menolong sesama. Juga ketika Allah peduli, maka kita peduli terhadap sesama. Layaknya terang lilin kecil, tetapi cahayanya merambat sampai ke sudut-sudut ruangan. Setiap orang seperti lilin yang bertanggung jawab untuk berperan aktif dan partisipatif dalam karya Allah di tengah dunia ini.

Kedua, lilin yang dibagikan melambangkan komunitas yang saling menerangi satu sama lain dalam melampaui kegelapan kehidupan. Hidup dengan terang Kristus berarti hidup bersama-sama secara dinamis melampaui segala pergumulan pribadi yang dilalui dari tahun ke tahun. Persahabatan dan belas kasihan sangatlah penting untuk saling menjaga nyala lilin kita.

Sudahkah Anda berjumpa dengan Sang Terang?•

|PDT. LUISYE SIA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Harta Paling Berharga
    “Harta yang paling berharga adalah keluarga…” Kalimat di atas adalah penggalan lagu sinetron ‘Keluarga Cemara’ yang pernah ditayangkan TVRI...
  • Bersyukur
    Oma Ra (bukan nama sebenarnya) adalah perempuan lansia yang telah berumur 83 tahun. Ia terbaring di tempat tidurnya karena...
  • Siapakah Sesamaku?
    Pertanyaan ini sangat familier kalau kita suka membaca kitab Injil. Para ahli Taurat pernah mengajukan hal itu kepada Tuhan...
  • Menyaksikan Kebaikan Tuhan
    Menyaksikan Kebaikan Tuhan
    Adalah seorang bapak yang bekerja sebagai karyawan dengan penghasilan terbatas. Sejak tahun 2017 ia terus didera keadaan yang sangat...
  • Semangat Baru, Harapan Baru
    Ketika Anda membaca tulisan ini, kita sudah berada di penghujung 2020. Tahun yang menghadirkan banyak pengalaman kurang menyenangkan bagi...