Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (Lukas 6:22)
Bahagia dan menderita adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Apakah mungkin keduanya disatukan? Apakah mungkin seseorang merasa bahagia ketika sedang menderita?
Salah satu pengajaran yang disampaikan oleh Yesus berisi ucapan yang menggunakan empat kata kerja yang terasa sangat getir, yaitu: membenci, mengucilkan, mencela, dan menolak. Semua itu terjadi karena keyakinan dan ketaatan kepada Anak Manusia. Namun, justru ketika mengalami hal-hal tersebut, Yesus berkata, “Berbahagialah kamu” atau “Diberkatilah kamu”. Setidaknya, ada dua alasan yang mendasari pernyataan tersebut. Pertama, karena itu berarti orang tersebut hidup dalam kebenaran. Tentu saja, lebih baik menderita karena kebenaran daripada menderita akibat kejahatan yang dilakukan. Kedua, menderita karena iman kepada Tuhan Yesus adalah sebuah karunia, sebagaimana Paulus juga mengamininya. Kata-kata Tuhan Yesus seharusnya tidak membuat pendengarnya merasa tawar hati, melainkan justru merasa dikuatkan karena apa yang mereka alami bukanlah sebuah kesia-siaan atau kekonyolan.
Bila kita saat ini mengalami penderitaan karena iman dan ketaatan kita kepada Tuhan, janganlah gentar. Jangan biarkan iman kita menjadi kendur. Tetaplah berpegang pada komitmen iman kita, karena sesungguhnya Tuhan— yang kepada-Nya kita setia—tidak pernah mengabaikan kita. la hadir dalam penderitaan kita dan akan memberikan pertolongan serta kekuatan kepada kita. [Pdt. Mungki A. Sasmita]
DOA:
Ya Tuhan, berikanlah keteguhan iman kepada kami, agar tetap setia pada komitmen iman kami dalam segala kondisi. Amin.
Ayat Pendukung: Rut 3:1-13; 4:13-22; Mzm. 37:1-17; Luk. 6:17-26
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.