Ketika Berkat Tidak Terlihat

Lukas 6:20

Belum ada komentar 65 Views

“Berbahagialah hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah”. Ketika anda mendengar ucapan bahagia seperti itu, apa reaksi anda? Teman saya langsung mengatakan, ‘memang orang kaya belum tentu bahagia, tetapi orang miskin, pasti tidak bahagia’. Banyak orang berpendapat bahwa ajaran Yesus ini tidak masuk akal dan tidak realistis, apalagi dalam konteks kita sekarang ini, lalu …. bagaimana memaknainya ?

Dalam hal ini Yesus memang tidak sedang meromantisasi kemiskinan, tetapi Dia juga tidak sedang memuja kemiskinan, orang miskinpun tidak otomatis masuk surga. Sebaliknya, Yesus tidak anti orang kaya, sekalipun Yesus pernah berkata, “alangkah sulitnya orang kaya masuk kedalam Kerajaan Surga”

Pada hakekatnya kemiskinan atau kekayaan itu tidak serta merta membuat orang bahagia, tetapi bagi si miskin tidak usah merasa rendah diri dan si kaya jangan mengagung-agungkan kekayaan, keduanya sama-sama punya harga diri, oleh karena itu yang mesti dimiliki keduanya adalah sikap “rendah hati”. Mereka disebut bahagia bukan karena miskin, kemiskinan tidak otomatis membawa mereka pada kebahagiaan atau penderitaan. Yesus mengatakan mereka bahagia karena memiliki Kerajaan Allah, ini “kata kuncinya”.

Itulah paradigma Yesus atau paradigma Kerajaan Allah, sepertinya hal ini adalah penjungkir-balikan yang lazim; kebahagiaan adalah ketika memiliki Kerajaan Allah, bukan ketika memiliki kekayaan limpah ruah, atau bukan pula ketika memiliki gereja yang gedungnya aduhai.

Inilah kritik Yesus yang keras terhadap kecenderungan manusia pada zaman Yesus maupun zaman now dimana materialisme, hedonisme, konsumerisme menjadi gaya hidup keseharian dan sudah melampaui ambang batas, seolah itu menjadi sumber Bahagia.

Pemeliharaan dan berkat-Nya tidak selalu dalam wujud kelimpahan secara material yang kasat mata, tetapi dalam segala aspek dan terkadang tidak terlihat oleh kasat mata, tetapi ketika kita bergantung penuh kepada Allah Sang Pemelihara, disitulah kebahagiaan itu dirasakan. (AS)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...
  • MENGAMPUNI TANPA KENDALI
    Matius18:21-35
    “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Sebuah pertanyaan...