Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang ditetapkan-Nya bagi seribu generasi. (Mazmur 105:8)
Sore itu, di teras rumahnya, Nenek Siti duduk sambil menatap cucunya, Rio. Sesekali, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia teringat cerita-cerita dari masa mudanya; banyak suka dan duka telah ia lalui. Namun, selalu ada Allah yang menguatkan. “Bagaimana caranya agar Rio juga dapat merasakan penyertaan Allah saat dewasa nanti?” pikir Nenek Siti. la rindu menanamkan keyakinan yang sama di hati generasi selanjutnya.
Pemazmur memuji Allah yang setia pada janji-Nya. Dalam setiap musim kehidupan—suka dan duka, untung dan malang—Allah peduli. Bukan karena kebaikan umat-Nya, tetapi karena kasih setia-Nya. Generasi demi generasi dipelihara oleh firman, kasih, dan anugerah Allah. Pemazmur memegang keyakinan ini sebagai sejarah dan akar hidupnya. Ingatan akan kebaikan Allah berlanjut dengan komitmen imannya. Apa pun peristiwa yang dialami lintas generasi, kesetiaan Allah tetap terbukti.
Hidup yang mengingat kebaikan Allah adalah hidup yang tidak lupa diri. Setiap zaman dan generasi memiliki tantangan. Kita mesti menjaga komitmen iman lintas generasi. Tunjukkan keteladanan nilai hidup melampaui nasihat dan teori. Ceritakan pengalaman iman dengan tulus tanpa sungkan. Bangun tradisi kebersamaan untuk memperkuat persahabatan iman. Doa bersama adalah kekuatan kesatuan iman yang mendamaikan. Jangan lupa, Allah mengingat perjanjian-Nya untuk selama-lamanya. [Pdt. Essy Eisen]
REFLEKSI:
Apa yang akan kita lakukan supaya generasi berikut tetap mengingat kasih dan janji penyertaan Allah yang setia?
Ayat Pendukung: Kej. 29:1-8; Mzm. 105:1-11, 45b; 1 Kor. 4:14-20
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.