Harta Paling Berharga

Belum ada komentar 0 View

“Harta yang paling berharga adalah keluarga…” Kalimat di atas adalah penggalan lagu sinetron ‘Keluarga Cemara’ yang pernah ditayangkan TVRI sekitar tahun 1996. Sinetron ini menjadi tontonan favorit saat itu karena kontennya yang mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Kisahnya tentang sebuah keluarga sederhana yang jauh dari glamour tetapi hidup dalam harmoni, meskipun tidak sepi dari tantangan dan kesulitan hidup.

Namun ketika dihubungkan dengan zaman now, sepertinya gambaran hidup Keluarga Cemara ini tidak lagi relevan, karena prioritas dan nilai-nilai sudah bergeser, terutama dalam hal-hal yang bersifat material. Terlebih lagi masa kini, ketika hampir dua tahun belakangan ini dunia dilanda pandemi global yang mengerikan dan yang masih berlangsung, entah kapan berakhir.

Diakui atau tidak, sadar atau tidak sadar, kenyataan ini telah mengguncang dan menggoyahkan sendi-sendi kehidupan keluarga, mulai dari merosotnya penghasilan keluarga sampai kehilangan anggota keluarga yang menjadi penopang kehidupan. Imbasnya ialah munculnya prahara keluarga yang sebenarnya tidak diinginkan. Setiap anggota keluarga menjadi sensitif, mudah tersinggung. Dalam kondisi seperti ini, sering kali bangunan iman’ yang sudah kita miliki selama ini (sebagai pribadi maupun keluarga) seolah-olah runtuh. Ketekunan kita beribadah, aktivitas kita dalam pelayanan ini dan itu, tak lagi ada pengaruhnya, seperti hilang tanpa bekas dan yang tersisa hanya rasa khawatir dan keputusasaan yang mewarnai hari-hari yang gelap. Memang tidak semua kita seperti itu, tetapi banyak yang mengalaminya. Selama pandemi ini, banyak keluhan, kekecewaan, sampai keputusasaan yang disampaikan kepada saya.

Belum lama ini, seorang ibu mengeluh sedemikian rupa dan sampai mengatakan keputusasaannya kepada saya: “Rasanya pingin malam ini tidur dan tidak bangun lagi untuk selamanya.” Hal ini diucapkan ketika suaminya berencana menceraikannya, padahal sebelumnya ia giat beraktivitas di gereja, menjadi anggota beberapa kelompok paduan suara, rajin PA, dll.

Di sinilah kita disadarkan bahwa setiap “masalah” selalu menghadirkan dua sudut pandang yang berbeda, yaitu sisi negatif dan positif, yang sangat bergantung dari bagaimana kita melihat dan menyikapinya. Dalam hal ini mungkin Anda bertanya, di mana sisi positif yang bisa kita lihat dalam menghadapi situasi yang tidak kondusif seperti sekarang ini? Inilah tantangan buat kita untuk tetap mengimani bahwa Tuhan tidak berubah, sekalipun kondisi kita selalu berubah, Yakobus 1:4 mengatakan: “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

“Tekun” itulah kata kuncinya, yaitu tekun bersandar kepada Tangan Yang Mahakuasa, dan itu berarti bahwa ada proses yang mesti kita lewati bersama Tuhan dan dengan menyadari bahwa jadwal kita sering berbeda dengan jadwal-Nya. Kita selalu mau buru-buru dan kalau bisa serba instan mengatasi masalah, tetapi berbeda dengan Tuhan yang tidak pernah terlalu cepat, tetapi juga tidak pernah terlambat bertindak. Karena itu, dalam perjalanan proses itu terkadang Dia membiarkan kita melewati jalan yang ‘naik turun’ untuk menguji ketekunan kita. Adakalanya Tuhan seolah-olah membiarkan kita terpuruk dan nyaris putus asa untuk membawa kita pada kesadaran bahwa kita ini “nothing” sehingga kita benar benar pasrah penuh kepada-Nya.

Pasrah dalam pengertian bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Pasrah di sini justru merupakan ungkapan iman, bukan karena putus asa, melainkan karena kita yakin bahwa Dia sanggup dan bisa melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Ef. 3:20). Inilah harta yang berharga itu dan modal utama bagi kita untuk terus melangkah bersama keluarga dan anggota keluarga Allah lainnya. Di satu sisi kita sadar penuh bahwa kita “lemah” (cuma debu tanah), tetapi di sisi lain kita berjalan bersama Tuhan yang kuat dan yang empunya kuasa di bumi dan di surga. Tuhan memberkati kita untuk terus WALKING BY FAITH NOT BY SIGHT.•

|PDT. EM. AGUS SUSANTO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Bersyukur
    Oma Ra (bukan nama sebenarnya) adalah perempuan lansia yang telah berumur 83 tahun. Ia terbaring di tempat tidurnya karena...
  • Siapakah Sesamaku?
    Pertanyaan ini sangat familier kalau kita suka membaca kitab Injil. Para ahli Taurat pernah mengajukan hal itu kepada Tuhan...
  • Menyaksikan Kebaikan Tuhan
    Menyaksikan Kebaikan Tuhan
    Adalah seorang bapak yang bekerja sebagai karyawan dengan penghasilan terbatas. Sejak tahun 2017 ia terus didera keadaan yang sangat...
  • Semangat Baru, Harapan Baru
    Ketika Anda membaca tulisan ini, kita sudah berada di penghujung 2020. Tahun yang menghadirkan banyak pengalaman kurang menyenangkan bagi...
  • Spiritualitas Keluarga Di Masa Pandemi
    Spiritualitas Keluarga Di Masa Pandemi
    Alkisah, saat wabah global melanda di mana-mana, terjadilah percakapan antara malaikat dan iblis: Malaikat: Apa yang sebenarnya sedang kaulakukan,...