Hal Yang Paling Ditakuti Dalam Proses Penuaan

Hal Yang Paling Ditakuti Dalam Proses Penuaan

Gampang Sakit & Jadi Beban Keluarga

Belum ada komentar 10 Views

Setiap manusia pasti menyadari bahwa ia akan mengalami proses penuaan. Hal ini merupakan proses alami pada kehidupan setiap makhluk yang tidak dapat dihindari, dan hanya dapat diperlambat. Menjadi tua atau degenerasi dialami di tingkat sel, organ vital, sendi dan tulang, serta seluruh bagian tubuh. Salah satu dampaknya, terjadi keterbatasan fisik dan mental, sehingga pada periode tertentu dapat menimbulkan rasa cemas dan khawatir, bukan hanya berkenaan dengan masalah kesehatan, melainkan juga kemandirian dan tersedianya biaya hidup. Usia terus bertambah dan tubuh manusia berkembang menjadi orang yang berbeda.

Seorang pakar filsafat yang juga menekuni ilmu astrologi dari Austria—Rudolf Steiner— melakukan penelitian dan menyimpulkan teori 7 tahunan perubahan pada tubuh dan mental manusia. Tahap perubahan ini adalah sebagai berikut:

• Usia 0-7 tahun: Bayi meniru contoh yang dilihatnya, pada umumnya dari orangtuanya. Secara sadar, moralitas sosial dan pandangan kehidupan dunia mulai terbentuk.

• Usia 7-14 tahun: Mulai terbentuk ide dan konsep kehidupan. Orangtua tidak menjadi figur yang ditirunya, tetapi berubah menjadi otoritas. Dengan adanya pergaulan dengan orang lain, kebiasaan hidup mulai dipilih dan dibentuk.

• Usia 14-21 tahun: Mulai adanya cara berpikir yang lebih tinggi saat masa remaja/ pubertas. Terjadi perubahan nyata pada fisik dan mental. Mulai mengenal seksualitas/ dorongan seks dengan batas batasnya dan mencari berbagai aspek kebenaran yang akan menentukan jati dirinya: “Siapa aku?”

• Usia 21-28 tahun: Beranjak dewasa, terjadi perubahan mental dan emosional. Pemenuhan ego menjadi fokus dan mulai mencoba memenuhi tiga fase: jiwa makhluk hidup, jiwa intelektual, dan jiwa kesadaran. Fase jiwa makhluk hidup menimbulkan lebih banyak gejolak dalam kehidupan sehari hari.

• Usia 28-35 tahun: Kenyataan yang ada mulai bertumbuh dengan menerima konsep bahwa manusia bersifat individualistis dan sosial. Pada fase ini, proses kreatif bertumbuh, emosi lebih halus, dan mulai menyeimbangkan sisi maskulin dengan feminin dalam meniti karier dan hubungan antar manusia.

• Usia 35-42 tahun: Mempertajam hal-hal yang telah dilakukan dengan mengevaluasi semua kegiatan yang telah dilakukan. Timbul masa stres, kesendirian, dan mulai percaya diri jika mengalami berbagai kegagalan.

• Usia 42-49 tahun: Timbul fase titik balik/krisis eksistensi dengan memunculkan semangat, memperkuat kepercayaan kepada diri sendiri dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan di masyarakat yang kurang berkenan baginya.

• Usia 49-56 tahun: Melakukan pembaruan dalam kehidupannya dan mulai memerhatikan kesehatan, karena mulai muncul gejala kemampuan fisik dan mental yang berkurang. Pada fase ini muncul depresi bagi yang belum menyadari siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya.

• Usia 56-63 tahun: Bagi yang normal dan menerima apa adanya, mulai fase kedamaian. Namun bagi yang belum siap/sadar, timbul rasa kekosongan, emosi menjadi labil, dan bagian-bagian tubuh mulai kaku.

• Usia 63-70 tahun: Kehidupan balik ke awal, kreativitas meninggi, mulai meninggalkan hal-hal yang berbau duniawi; mulai sadar akan datangnya kematian.

• Usia 70-77 tahun: Rata-rata harapan hidup adalah 72 tahun dan bagi yang telah berusia lebih dari itu, sudah tidak merasa menyesal lagi, kecuali belum merasakan cinta yang abadi.

• Usia 77-84 tahun: Kehidupan kembali menjadi baru, kembali ke siklus pertama, tetapi dengan tubuh renta dan harus bersiap menerima kematian yang tidak menyakitkan.

Teori Steiner ini berdasarkan pengaruh astrologi. Apakah dapat diterima oleh jenis pengetahuan lain? Apakah benar demikian?

Terserah kepada masing-masing pembaca. Namun pada masa pensiun, timbulnya kekosongan, emosi labil dan kreativitas tinggi dapat menimbulkan kegaduhan kegaduhan sosial-politik dan/atau membuat orang stres, frustrasi, bahkan depresi, karena ingin tetap di-“wongke”. Hal ini banyak terjadi pada orang-orang yang belum sadar bahwa justru pada fase-fase ini regenerasi tidak dapat dihindari. Saatnya dengan ihklas meninggalkan jabatan/posisi duniawi dan beralih bekerja sebagai hamba yang melayani Allah.

Herbalife Nutrition Asia Pacific Healthy Aging 2020” telah meneliti 5500 responden dari negara-negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Hasilnya: hanya 3 dari 10 responden mampu menua dengan sehat. Untuk Indonesia: 39% responden menyatakan bahwa mereka paling takut kalau jatuh sakit saat tua. 19% responden khawatir dengan perubahan penampilan saat tua. 15% takut menjadi beban keluarga. Hal yang umumnya (53%) paling ditakuti ketika menjadi tua adalah masalah tulang dan sendi, sedangkan yang takut menderita gangguan otak (42%), mata (40%), dan jantung (26%).

Penduduk Indonesia ternyata yang terbaik di antara penduduk Asia Pasifik dalam hal percaya diri dan yakin akan menjadi tua dengan sehat, artinya tidak sakit parah hingga usia tua dan tidak menjadi beban keluarga. Yang tua dan tetap aktif—termasuk mencari nafkah sendiri di Indonesia—mencapai 49%. Hal ini “terpaksa” dilakukan, karena tidak tersentuh dengan jaminan sosial hari tua. Umumnya saat usia tua terlihat perubahan kulit, tulang dan otak. Elastisitas kulit berkurang, kulit menjadi kendur dan mengerut. Saluran pencernaan menjadi kaku dan sulit berkontraksi. Tulang akan menjadi rapuh dan menipis, sedangkan kerusakan sistem syaraf otak menyebabkan refleksi berkurang dan demensia.

Agar tetap sehat saat tua kita harus hidup dan makan sehat serta berusaha untuk terus berolahraga, termasuk angkat beban. Ada beberapa kiat agar tetap bugar pada saat usia lanjut. Banyak berjalan/bergerak dan berusaha untuk tetap membaca agar tulang sehat, kemampuan otak terasah, dan relaksasi baik. Jaga pola makan dan perbanyak frekuensi makan dengan porsi yang lebih kecil. Menu harus kaya serat, rendah lemak, bebas kolesterol. Jauhi makanan siap saji, alkohol dan merokok. Jaga kesehatan gigi yang lapisan luarnya terkikis dan menipis, agar mengurangi gigi berlubang dan tahan terhadap sakit gusi. Usahakan cukup istirahat dan tidur berkualitas. Selain takut sakit saat usia lanjut, ada banyak pula yang takut mati, atau lebih tepatnya sakit menahun sebelum kematian.

Kita semua tidak tahu berapa lama lagi kita akan hidup dalam kondisi sehat atau sakit. Kita juga tidak tahu apa yang akan kita hadapi seiring dengan pertambahan usia. Namun bagi orang beriman, ada satu hal yang pasti: Allah akan memelihara seumur hidup kita. Ingatlah sabda Nya: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (Yesaya 46:4).

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Senior
  • banyak senior
    Senior, Banyak Didata Namun Minim Ditata
    Akhir-akhir ini bermunculan kembali isu kekhawatiran tentang melonjaknya jumlah kaum senior di Indonesia dan di dunia. Tahun 2018 tercatat...
  • keluarga
    Keluarga, Pilar Utama Gereja Dan Negara
    Berdasarkan Undang-undang no. 10/1992 dan no. 52/2009, “Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat dan terdiri atas kepala keluarga dan...
  • lingkungan
  • StoryTelling
    Kenapa Cucu Saya Ngga Nyambung ya?
    Masalah cukup sulit yang kita hadapi akhir-akhir ini adalah dalam berelasi, khususnya berkomunikasi. Dalam dunia GrandParenting, cucu-cucu jadi sulit...
  • Ungkapan Perasaan Hati Para Senior
    Rumah asri yang saat ini kami huni, telah mengenal kehidupan keluarga selama 30 tahun. Awalnya lingkungan masih sepi, tapi...