Facing The Giant

Facing The Giant

Belum ada komentar 8 Views

Facing The Giant Film ini berkisah tentang Grant Taylor, seorang pelatih tim football, yang tidak pernah membawa timnya meraih kemenangan selama 6 tahun kariernya. Kekalahan itu menjadi momok baginya. Kekalahan itu juga mengancam dirinya, karena pihak orangtua murid dan sekolah mendiskusikan agar ia dipecat. Namun dalam keadaan itu, Tuhan menyapanya dan memberikan kekuatan baru kepadanya. Ia harus menerima keadaan itu dan mulai berjuang, bukan untuk menang, tetapi memberikan yang terbaik dan pantang menyerah. Pokoknya melakukan terbaik yang dapat dilakukan. Jangan pikirkan kekalahan yang lalu. Terimalah itu! Jangan buat kekalahan yang lalu menjadi hantu dan monster yang menakutkan. Akhirnya, Grant Taylor dan timnya mampu berdamai dan menerima keadaan. Mereka bermain lebih lepas dan menarik, dan mampu meraih kemenangan yang diimpikan. Satu kalimat yang menarik dari film ini adalah, “Saat beban berat itu hadir, kamu hanya perlu terus berjalan.”

Pdt. Rudianto, dalam percakapan sederhana di sebuah pertemuan, pernah menyampaikan bahwa setiap orang punya monsternya masingmasing (baca: giant). Monster adalah trauma dan kecemasan—bahkan depresi yang berkepanjangan—yang lahir karena luka-luka di masa lalu, baik di keluarga maupun dalam ruang relasi dengan sesama dan diri sendiri. Ada banyak orang yang berhasil menerima diri, dan ada yang gagal. Ada yang berujung pada pemulihan, dan ada yang tetap meradang sampai akhir hayatnya.

Memang tidak mudah menghadapi monster ini. Kita bisa dibantu oleh tahapan duka dari Kubler-Ross untuk melihat proses bagaimana seseorang menghadapi monsternya. Saat monster itu datang, seseorang akan cenderung memulai tahapan dengan denial (penolakan) dan anger (kemarahan). Pada tahapan terendah, ia akan merasakan tekanan stres yang tinggi. Barulah perlahan-lahan, ketika ia mulai mampu lebih tenang, ia akan mulai bargain (tawar-menawar) lain untuk menemukan dan membantu perjalanannya. Kadangkala bantuan profesional juga perlu diperhatikan, selain dukungan rohani dari para imam.

Bagaimana dengan Saudara? Apakah Saudara sudah berdamai dengan monster-monster dalam hidupmu? Bagaimana Saudara mengelola kehadiran monster itu? Berhasilkah Saudara mengendalikannya? Mari menggumuli giant kita, menemukannya, dan mengelolanya. Kasih Allah beserta!•

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Tuhan Sumber Sukacitaku
    Tuhan Sumber Sukacitaku
    ‘Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!’ (Filipi 4:4) Surat Filipi dikenal sebagai ‘surat sukacita’. Ada banyak kata...
  • Damai Sejahtera Bagimu
    Damai Sejahtera Bagimu…!
    Setelah Maria Magdalena mengabarkan bahwa ia telah melihat Tuhan pada Minggu Kebangkitan, para murid berkumpul di sebuah ruangan yang...
  • encounter
    TITIK TEMU // The Encounter
    Dua puluh dua tahun yang lalu, sebuah mobil menabrak motor saya. seorang teman menelepon saya dan spontan bertanya, “ada...
  • tempat
    Adakah Tempat Bagi-Nya
    Hiruk pikuk perayaan Natal menjadi acara yang dinanti banyak orang. Tunjangan hari raya, liburan, hadiah, lagu indah, barang-barang baru,...
  • ruang
    Rangkullah Dan Beri Ruang
    Setiap pengalaman perjumpaan antar manusia selalu melahirkan beraneka ragam dinamika, penilaian, asumsi, dan ekspektasi. Pengalaman itu diolah oleh logika...
Kegiatan