burung pipit

Dua Ekor Burung Pipit Seduit

Belum ada komentar 388 Views

“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.” (Mat. 10:29)

Ingatan saya kembali ke beberapa tahun silam, ketika GKI Pondok Indah menyelenggarakan ibadah emeritasi bagi rekan dan sahabat saya, Pdt. Em. Agus Susanto. Kelima pendeta aktif, selain Pdt. Agus, bertugas bersama memberikan refleksi atau khotbah singkat. Semua memakai teks Matius 10:29 ini sebagai landasan. Setiap pendeta mendapatkan perspektif yang berbeda atas teks yang satu ini. Saya mendapat giliran terakhir. Nahas, pendeta yang berkhotbah sebelum saya, yang tidak usah saya sebutkan namanya, ternyata menyampaikan khotbah yang isinya sama dengan yang harus saya sampaikan. Alhasil, saya kebingungan hendak mengkhotbahkan apa lagi. Akhirnya, ketika tiba giliran saya, muncullah khotbah terpendek selama saya menjadi seorang pendeta. Dengan gagap namun gagah saya hanya berkata, “Apa yang harus saya sampaikan sudah disampaikan. Terpujilah Tuhan!” Dan saya pun duduk kembali. Anda pasti tidak pernah mendengarkan khotbah yang lebih pendek dari itu!

Di balik “bencana” itu, kami berlima bersepakat memakai teks itu justru karena kesederhanaannya yang luar biasa, kesederhanaan pemeliharaan Allah di tengah kompleksitas kehidupan. Dan karya-layan Pak Agus tampaknya menampilkan hal yang sama. Bayangkan! Dua ekor burung pipit dijual seduit. Satu duit sama nilainya dengan sepersepuluh dirham. Begitu murah. Itu pun si pembeli mendapatkan dua ekor. Namun Bapa kita tak pernah melupakan burung-burung pipit itu, apalagi kita! Maka, percayalah, kompleksitas kehidupan tak pernah mampu menenggelamkan simplisitas pemeliharaan ilahi dalam hidup Anda.

Izinkan saya menutup renungan ini dengan bait pertama kidung His Eye Is no the Sparrow, yang digubah oleh Civilla Durfee Martin (1866-1948), yang juga dinyanyikan di dalam ibadah emeritasi Pdt. Em. Agus Susanto:

Why should I feel discouraged, why should the shadows come,
Why should my heart be lonely, and long for heav’n and home,
When Jesus is my portion? My constant Friend is He:
His eye is on the sparrow, and I know He watches me;
His eye is on the sparrow, and I know He watches me.
Refrain:
I sing because I’m happy, I sing because I’m free,
For His eye is on the sparrow, and I know He watches me.

ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Luka di Hati, Bukan Prasasti
    Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46
    Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa...
  • Schooling Fish
    Yesaya 45:1-7; Mazmur 96:1-9; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
    Bayangkan saja kalau kita menjadi seekor ikan kecil. Kalau saja kita diberikan pilihan untuk hidup di akuarium atau di...
  • Rasa Haus
    Air menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak hal membutuhkan air. Mulai dari tubuh manusia sebagian besar terdiri...
  • Apa yang kita letakkan pertama?
    Yesaya 5:1-7; Mazmur 80:8-16; Filipi 3:4-14; Matius 21:33-46
    “Selalu ada yang pertama untuk segalanya.” Apa anda pernah mendengar kalimat tersebut? Ya, sebagian besar dari kita tentu akan...
  • Hidup Dalam Keramahan Dan Cinta
    Yehezkiel 18: 1-4, 25-32 Mazmur 25: 1-9 Filipi 2: 1-13. Matius 21: 23-32
    Perubahan ke arah yang lebih baik adalah dambaan semua orang. Saya yakin dan percaya bahwa semua orang, tanpa kecuali...
Kegiatan