CARPE DIEM

sebuah strategi menghindari kesia-siaan dalam singkatnya kehidupan

Belum ada komentar 27 Views

Kesia-siaan
Kitab Pengkhotbah sering dianggap sebagai kitab yang menyuarakan keputusasaan, ketiadaan harapan, serta kesia siaan hidup, seperti yang tersurat di Pengkhotbah 1:2 – “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia,” dan diulang lagi dalam Pengkhotbah 12: 8 – “Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.” Sepertinya kesia-siaan adalah tema sentral dalam Kitab ini.

Kesadaran bahwa hidup adalah kesia-siaan sebenarnya tersebar luas dalam seluruh Alkitab. Perhatikan ungkapan tentang kesia-siaan itu dalam ayat-ayat berikut: “Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya? Manusia sama seperti angin [la-hevel] , hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat” (Mzm. 144:3-4) dan juga yang terdapat dalam Yakobus 4:14: “… sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Betapa rapuh, lemah, dan sia-sianya hidup manusia.

Namun demikian, pemahaman dan kesadaran tentang kesia-siaan hidup ini mengental di dalam kitab Pengkhotbah. Sedemikian seriusnya sang Qohelet memberi penekanan pada kesia siaan yang dimaksudkan hingga ia memberi istilah pada kesia siaan itu sebagai םיִלָבֲה לֵבֲה havel havalim. Frasa yang berarti ‘sampah’ ini adalah gaya superlatif dari ungkapan yang menjelaskan secara tepat makna sia-sia yang dimaksudkan, yakni, kesia siaan dari yang paling sia-sia, kesia siaan di atas kesia-siaan, kesia-siaan tertinggi dari suatu kesia-siaan, vanity of vanities, vanitas vanitatum, vapor of vapors.

Memahami sia-sia (havel) berarti memahami napas (havel). Sia-sia itu digambarkan seperti napas pada musim dingin yang tampak sebentar keluar dari mulut dan tiba-tiba hilang begitu saja. Havel juga mengingatkan pada Habel yang hidupnya sangat singkat seperti embusan napas di musim dingin tadi. Ungkapan dalam bahasa Jawa yang mengiaskan kesementaraan hidup adalah: Urip mung saderma mampir ngombe – hidup itu ibarat hanya sekadar/sejenak mampir minum.

Kosmologi Israel Kuno
Upaya untuk memahami kosmologi menurut Israel kuno (Perjanjian Lama) memberikan gambaran bahwa manusia hidup di bawah kubah yang di dalamnya ada matahari, bulan, bintang, dan benda-benda langit yang lain, serta bumi dan lautan beserta isinya. Di atas kubah, dan di atas air yang melingkupinya, adalah tempat tahta Tuhan dalam alam surgawi, sedangkan yang ada di kedalaman bawah bumi adalah alam kematian, tempat tujuan akhir semua manusia.

Dan Qohelet memberikan predikat havel havalim tadi pada semua yang berada di bawah matahari, artinya, semua hal dan peristiwa yang berlaku di alam kehidupan, di mana manusia hidup dan bertindak, adalah kesia siaan belaka. Mengapa demikian? Karena semua orang pada akhirnya akan mati dan pergi ke sheol, alam kematian, serta berakhir secara abadi di sana. Teologi pada waktu itu memang memahami bahwa kematian adalah akhir dari perjalanan kehidupan seseorang. Tidak ada pemahaman kehidupan sesudah kematian, sehingga ketika manusia mati maka segenap upaya dalam hidupnya untuk mengumpulkan kekayaan, ketenaran, kehormatan, berketurunan adalah seperti upaya menjaring angin. Tidak berguna dan sia-sia. Havel havalim.

Nihilism
Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama, baik orang orang yang benar maupun yang fasik, orang yang baik maupun yang jahat, orang yang tahir maupun yang najis, orang yang tidak mempersembahkan korban maupun yang mempersembahkan korban, orang yang baik maupun yang berdosa, orang yang bersumpah maupun yang takut untuk bersumpah ….. semuanya akan mati. Semuanya akan berakhir di sheol. Semuanya tidak akan bisa berbuat apa pun. Semuanya tidak akan diingat lagi dan dilupakan begitu saja. Lebih celaka lagi ketika dikatakan: “Hati anak anak manusia pun [ben Adam] penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.” Dilahirkan secara percuma, menjalani kehidupan secara sia-sia, dan selanjutnya berakhir tanpa makna. Sungguh sebuah kesia-siaan yang teramat sia-sia.

Namun benarkah sedemikian sia sianya kehidupan manusia dan semua yang berada di bawah matahari? Sedemikian tak berharapankah semuanya sehingga menjadi pembenar bagi kaum nihilisme untuk mengatakan: “Ngapain kita merancang rancang keberhasilan, bahkan sekadar kebaikan? Toh kita akan mati. Karena itu mari hidup seenaknya saja, hidup serampangan saja, toh pada akhirnya kita akan mati.” Demikiankah yang dikehendaki Tuhan bagi kehidupan manusia? Karena semua toh berakhir dengan kematian maka kita bebas bertindak tanpa memerhatikan norma kehidupan yang sia-sia, bahkan bebas pula bertindak jahat. Beranggapan bahwa karena pada akhirnya semua akan mati maka tidak masalah jika bertindak jahat. Memberikan pembenaran pada sebuah kenyataan bahwa ‘bukan kejahatan yang menuntun pada kematian; melainkan kematianlah yang membuat orang hidup jahat.’

Makin nyatalah bahwa apa yang dilakukan manusia di bawah matahari apabila diupayakan menurut kekuatan dan hikmatnya sendiri—tanpa campur tangan, penyertaan, serta perkenan Tuhan—akan berakhir dengan sia-sia.

Perspektif Allah
Namun apabila menyorot yang ‘di bawah matahari’ dari perspektif Allah yang ‘di atas matahari’, sebenarnya ada banyak kesempatan yang dapat diupayakan manusia—dengan perkenan Allah—untuk melepaskannya dari ‘kutuk’ kesia-siaan itu. Hidup memang berlangsung sangat singkat, tapi justru karena singkat, hidup itu menjadi penting. Dalam singkatnya waktu itu, manusia diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memberi arti pada hidupnya sebelum kematian datang menjemput. Jabatan, kekayaan, keturunan, kehormatan, serta berbagai status dan materi lain—yang bisa didapat dari sebuah warisan—saat pemiliknya mati tidaklah punya arti apa-apa jika selama hidupnya tidak berupaya mengisinya dengan kemuliaan perbuatan-perbuatan yang berarti dan meninggalkan legasi bagi kehidupan sesudah kematiannya. Kesederhanaan, bahkan kehinaan, dalam sepi ―yang tidak membuat pelaku dikenal banyak orang― tapi mampu menghasilkan kebaikan melalui upaya mengisi dan memberi arti bagi kehidupan, jauh lebih baik dan berarti daripada contoh sebelumnya. Dikiaskan dengan ‘anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati.’ Singkatnya: Kunci kehidupan adalah bagaimana menikmatinya dengan bijaksana selama masih hidup, yaitu menyelaraskan kehidupan dengan kehendak Allah dan menemukan Allah di dalam keseharian.

Choon-Leong Seow memberikan komentar: Bagi Pengkhotbah, orang tidak punya pilihan selain hidup—hidup sampai mereka mati. Kontras antara kehidupan dan kematian bukanlah antara kebaikan dan kejahatan, atau berkat dan kutukan. Sebaliknya, kontras itu adalah perbedaan antara kemungkinan dan kemustahilan. Bagi orang mati, hanya ada kemustahilan. Tidak ada lagi hadiah dan reputasi. Dalam kematian semua lenyap … Orang mati tidak akan pernah lagi mendapat bagian, yaitu apapun yang ditawarkan kehidupan. Namun bagi yang hidup, masih ada beberapa kemungkinan, tidak pasti, betapa pun sulitnya, betapa pun tidak memuaskannya. Masih ada kemungkinan untuk menikmati kehidupan.

Carpe Diem!
Sebenarnyalah Allah telah menyilakan—dan bukan sekadar memberi pilihan—bagi manusia yang diperkenan perbuatannya, untuk menikmati sukacita yang baik dalam hidupnya melalui makanan dan minuman yang dikaruniakan kepadanya dengan senang hati dan perasaan penuh ketenangan serta syukur yang melimpah. Allah juga mengaruniakan kenikmatan dan kebahagiaan melalui hubungan baik bersama pasangan yang dikasihi seumur hidup. Juga melalui pekerjaan dan segala usaha yang dilakukan melalui jerih payah dengan sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana semua orang akan pergi. Intinya: Allah menyediakan kesempatan, bersama-Nya, bagi semua manusia yang tidak ingin menyia-nyiakan hidup singkatnya di dunia dengan memiliki persekutuan yang benar dengan-Nya sehingga hidup manusia, meskipun singkat, tetap bisa dinikmati serta dirasakan makna dan keindahannya. Nikmatilah hidup. Isilah dengan sesuatu yang berarti. Berbahagialah. Carpe diem!

Carpe diem, adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang artinya adalah ‘petiklah hari’ (Horatius). ‘Petiklah hari’ dapat diartikan sebagai himbauan untuk menikmati waktu-waktu/hari dalam hidup, mengisinya dengan hal hal yang memberi arti/makna padanya, membuat kenangan manis dalam hari hari itu, atau memenuhinya dengan kebahagiaan. Bila mengacu pada kalimat lengkap dari ungkapan ini: “carpe diem, quam minimum credula postero” yang berarti: ‘petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok’ dapat dimaknai sebagai sebuah nasihat untuk benar-benar fokus menikmati hari ini —dalam arti memberi makna, mengisinya dengan hal-hal berarti yang menyenangkan, serta meninggalkan legasi bagi kehidupan selanjutnya. Intinya, tidak membuat waktu singkat itu sebagai sebuah kesia-siaan, dan tidak terlalu terpengaruh pada apa yang akan terjadi esok sehingga mengganggu dan mengurangi kebahagiaan hari ini. Itulah kunci kesuksesan untuk menghindari kesia-siaan dalam hidup yang singkat ini: mempunyai persekutuan yang benar dengan Allah. •

|SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
  • Mengasihi Sesamaku
    Mengasihi Sesamaku
    Siapakah yang pernah membayangkan bahwa kehadiran pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) ternyata telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat?...
  • Tuhan itu Baik
    Tuhan itu Baik
    Setiap orang pasti ingin merasakan kebaikan di dalam hidupnya, meski kalau ia ditanya, “Apa baik itu?” “Kebaikan seperti apa...
  • Harapan yang Membawa Sukacita
    Harapan yang Membawa Sukacita
    Setiap orang selalu mengharapkan hal yang baik terjadi dalam hidupnya. Rasanya tidak ada yang dalam keadaan stabil mengharapkan sesuatu...
  • Merayakan Kerapuhan Dalam Kegembiraan untuk Menyelami Cinta Allah
  • Kecemasan Sakral