kehidupan

Buku Kehidupan

Wahyu 21:10, 22-22:5

Belum ada komentar 157 Views

Di dalam Wahyu 21:27 muncul sebuah ungkapan yang muncul di dalam Yudaisme dan Kekristenan, yaitu “Kitab Kehidupan.” Dalam bahasa Ibrani ia disebut Sefer HaChaim, sedang dalam bahasa Yunani disebut Biblion tēs Zōēs. Godaan terbesar kita dalam memaknai ungkapan ini adalah dengan memahami nasib tiap-tiap orang yang sudah ditakdirkan untuk selamat atau celaka. Akan tetapi pemahaman semacam itu tampaknya mudah sekali mengurangi makna utamanya, khususnya di dalam Wahyu 21 dan 22. Sebab, di dalam dua pasal ini, Kitab Kehidupan dipergunakan dalam konteks pewartaan mengenai Allah yang berkarya dan yang dengan inisiatif-Nya memperbarui seluruh ciptaan. Karya pembaruan itu memiliki beberapa watak yang gamblang. Pertama, ia adalah inisiatif sepenuhnya dari Allah. Kedua, ia bersifat menyeluruh dan paripurna. Tidak ada realitas baru apa pun yang berlawanan dengan kehendak Allah. Ketiga, realitas tersebut berpusat pada relasi yang intim antara Pencipta dan ciptaan. Tidak ada realitas baru yang berada di luar Allah.

Ketiga watak dasar itu dengan sangat indah dipaparkan di dalam bacaan kita. Kita sebagai ciptaan diundang untuk mempercayainya dan menerima saja apa yang telah, sedang, dan akan Allah kerjakan. Mempercayai dan menerima karya ilahi tersebut melampaui batas-batas keagamaan dan gerejawi. Artinya, kita diperkenankan merasakan keselamatan penuh itu bukan karena kita beragama. Itu sebabnya, di dalam realitas baru itu, agama atau gereja tak dibutuhkan lagi. Simaklah, misalnya, kesaksian Wahyu 21:22, “Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnnya; sebab Allah, Tuhan yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.”

Dalam konteks semacam itulah “Kitab Kehidupan” muncul, bukan sebagai sebuah kitab kesombongan bagi mereka yang mampu menyelamatkan diri, atau kitab ketakutan bagi mereka yang merasa tak dapat terselamatkan. Ia adalah sebuah kitab kegembiraan, bahwa Allah yang memperbarui seluruh ciptaan secara paripurna itu adalah Allahku secara personal. Aku tidak luput dari rengkuhan cinta Allah. Itu sebabnya, namaku ada di dalam Kitab Kehidupan.

Ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Berjumpa SANG RAJA dalam Kehinaan
    Yehezkiel 34:11-16, 20-24; Mazmur 95:1-7; Efesus 1:15-23; Matius 25: 31-46
    Skenarionya, bukan saya mengerti apa yang saya lakukan, melainkan saya melakukan suatu perbuatan itu -baik atau jahat- sebagai sesuatu...
  • Kepercayaan Dan Tanggung Jawab
    MATIUS 25: 14-30
    “Wenn Gott einmal bei der Arbeit erwischt hat, dem schickt er zur Strafe immer wieder neue.” (Sekali Tuhan mendapati...
  • Allah itu Besar Kita itu Kecil
    I Tesalonika 4: 13-18
    Setelah manusia mati, kemana? Konsep Surga atau Rumah Bapa menjadi misteri bagi banyak orang di Tesalonika, yang sebagian berasal...
  • Keadilan Tuhan Dinyatakan
    Mikha 3:5-12; Mazmur 43; 1 Tesalonika 2:9-13; Matius 23:1-12
    Mengapa Tuhan Yesus pada akhir hidup-Nya di Kayu Salib berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa...