ALLAH YANG MENYATAKAN DIRI

Yohanes 1:1-18

Belum ada komentar 11 Views

Berbeda dari Injil Matius dan Injil Lukas yang memulai injil mereka dengan kisah kelahiran Yesus, Injil Yohanes dimulai dengan sebuah proklamasi mengenai Yesus Kristus sebagai Sang Firman. Inilah misteri terdalam tentang Allah itu sendiri. Jadi, Injil Matius dan Injil Lukas mulai dari bawah, yaitu dari kisah kelahiran seorang manusia bernama Yesus, untuk kemudian secara perlahan menyingkapkan keilahian-Nya melalui salib dan kebangkitan. Sementara itu, Injil Yohanes mulai dari atas, yaitu dari keberadaan Sang Firman yang telah ada dalam kekekalan bersama dengan Sang Bapa, yang kemudian menurun dengan cara menjadi manusia.

Itu sebabnya, bersama dengan penulis Injil Yohanes kita mengakui bahwa Sang Firman itu “bersama dengan Allah” sekaligus “adalah Allah” (1:1). Namun, injil keempat ini tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan dengan kehadiran Sang Firman itu bagi dunia. Ia menjadi penyataan diri Allah yang paling utama. Allah menyatakan diri-Nya sendiri melalui Sang Firman dengan cara yang sungguh radikal, yaitu “menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (1:14).

Berkat inkarnasi-Nya sebagai manusia, kita dapat mengenal Allah. Tanpa Dia, tidak ada kemungkinan secuil pun bagi kita untuk mengenal Allah. Dengan kata lain, Sang Firman yang memanusia dan menyejarah itu adalah penyataan diri Allah sendiri. Ayat 18 menegaskan hal ini, “Tidak seorang pun pernah melihat Allah. Namun, Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Pernyataan iman penulis Injil Yohanes ini di kemudian hari diteruskan oleh Irenaeus, seorang bapa gereja, yang menandaskan bahwa “Sang Bapa adalah yang tak terlihat dari Sang Anak, namun Sang Anak adalah yang terlihat dari Sang Bapa” (Against Heresies IV.6.6.). Maka, semoga Minggu Epifani ini menyediakan sebuah ruang iman bagi kita untuk meneguhkan iman kita semua. Yaitu, hanya melalui dan di dalam Yesus Kristus, Sang Anak dan Sang Firman, kita mengalami penyataan diri Allah yang sejak semula berhasrat untuk senantiasa mengasihi kita. (JA)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu