Allah Turut Bekerja

Roma 8:26-39

Belum ada komentar 137 Views

Pernyataan “Allah yang hidup”, muncul dari pengalaman iman umat Israel yang menyaksikan Allah, bukan sekedar imaginasi manusia saja, melainkan Allah yang menyejarah, Allah yang campur tangan dalam kehidupan manusia.

Bagi umat Israel, apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, tidak ada yang kebetulan, semua terjadi karena Tuhan memang menghendaki itu terjadi. Dia secara aktif terlibat dalam kehidupan ini, sehingga ketika seseorang menghadapi kesulitan, bahkan penderitaan, sebagai orang percaya, ia tahu bahwa semua yang terjadi akan membawa kebaikan bagi dirinya.

Kepercayaan akan kehadiran Allah ini membangun ketahanan dan kegigihan dalam diri seseorang saat menghadapi rintangan, sehingga ia dapat memiliki pengharapan yang akan mendorongnya untuk terus maju.

Campur tangan Allah yang turut bekerja dalam segala sesuatu, membangun nilai Resiliensi dalam diri seseorang, yaitu kemampuan untuk pulih dari keterpurukan dan belajar darinya. Saat seseorang mengalami kegagalan, keyakinan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu dapat membantunya melihat pelajaran yang bisa dipetik dan peluang baru yang mungkin muncul dari situasi tersebut. Hal ini memungkinkannya untuk bangkit kembali dengan harapan dan tekad yang baru.

Keyakinan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu memungkinkan seseorang untuk menyerahkan kekhawatirannya, sehingga ia dapat mengembangkan ketahanan dan keteguhan dalam menghadapi situasi yang tidak pasti, karena ia tahu bahwa Allah memiliki rencana yang baik dan Dia ada bersamanya.

Kombinasi antara keyakinan akan campur tangan Allah dan upaya membangun nilai resiliensi dalam diri seseorang dapat memberikan landasan yang kokoh dalam menghadapi tantangan hidup. Keyakinan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu memberikan harapan, kepastian, dan dorongan untuk terus maju. Sementara nilai resiliensi membantu kita bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali dalam menghadapi rintangan dan ketidakpastian. Dengan demikian, kombinasi keduanya memberikan pondasi yang kuat untuk mengatasi dan tumbuh melalui berbagai situasi dalam kehidupan.

(TT)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...