Aku Adalah Pintu

Aku Adalah Pintu

Kisah Para Rasul 2:42-47; Mazmur 23; 1 Petrus 2:19-25; Yohanes 10:1-10

Belum ada komentar 1042 Views

Di kota-kota besar, pintu tampaknya semakin menjadi simbol ketakutan berurusan dengan orang luar, ketertutupan, ketidakpercayaan, ketidakpedulian, dan bahkan keterasingan. Hal yang sama berlangsung pula dengan gereja yang semustinya menjadi sebuah ruang publik dengan pintu-pintu terbuka bagi siapa pun untuk masuk. Pintu gereja tak lagi menjadi simbol hospitality, namun hostility. Sangat jamak kita jumpai pintu-pintu gereja yang tertutup rapat, dengan kunci yang sangat aman, bahkan dengan satpam yang menjaga di depannya. Ia hanya dibuka untuk menyambut warga gereja yang menjadikan ruang gereja sebagai tempat aman dan nyaman mereka, terpisah dari dunia—untuk kemudian ditutup kembali setelah segala ritual selesai dilangsungkan.

Padahal pintu selalu berdimensi ganda. Di satu sisi, ia memang membatasi diri kita yang berada di balik pintu dengan dunia luar. Artinya pintu membentuk identitas kita (“bukan dari dunia,” kata Yesus dalam Yoh. 17:14, 16). Namun, di sisi lain, pintu juga menghubungkan kita dengan dunia luar (“di dalam dunia,” kata Yesus pula dalam Yoh. 17:11), sehingga kita menjadi satu dari beragam identitas. Ketika yang satu ditonjolkan dengan mengabaikan yang lain, maka kekristenan berubah menjadi ekstrim. Ketika pembedaan-dari-dunia ditonjolkan dengan ongkos relasi-dengan-dunia, maka akan mudah muncul eksklusivisme dan sektarianisme. Jika, sebaliknya, relasi-dengan-dunia ditonjolkan dengan ongkos pembedaan-dari-dunia, maka gereja akan larut dan hanyut ke dalam kompromisme. Keduanya sama-sama menghancurkan kekristenan! Setidaknya, keduanya menjadikan kekristenan tak lagi menjadi apa yang diharapkan oleh Kristus.

Kedua dimensi tampak di dalam metafora “Akulah pintu” yang dipergunakan Yesus. Dimensi pertama, yaitu fungsi pintu untuk memisahkan domba-domba dari dunia luar, muncul di dalam ayat 9, ketika Yesus berbicara mengenai domba-domba yang “masuk melalui Aku;” sedangkan dimensi kedua, yaitu fungsi pintu untuk menghubungkan domba-domba dengan dunia luar, muncul di dalam ayat 3, ketika Yesus berbicara mengenai Sang Gembala yang menuntun domba-dombanya “ke luar.”

Pesan yang ingin Yesus sampaikan kiranya menjadi bening buat kita, yaitu orang-orang Kristen tidak mungkin mempertahankan identitasnya tanpa terbuka pada dunia luar. Justru di dalam relasi dengan dunia luar itulah, identitas Kristiani terjaga, terbangun, dan bertumbuh-kembang. Lebih dari itu, hanya dengan keluar dari pintu dan memasuki dunialah, kita dapat mencapai “padang rumput” itu (ay. 9).

joas

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Kerajaan Allah: Bukan Lokasi dan Situasi
    Lukas 4:16-21, Lukas 11:11-13
    Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lk. 4:21) Kerajaan Allah...
  • Kembali ke Kilometer Nol
    Yeremia 6:16, Yohanes 3:5-8
    Beginilah firman TUHAN: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik,...
  • (Tak) ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan...
  • Melampaui Usia, Menggugah Karya
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Tahukah Saudara arti kata ageisme? Ageisme atau ageism (dibaca : agis) adalah diskriminasi berdasarkan usia. Mungkin kita tidak familier...
  • Melampaui Stigma, Mencipta Persahabatan
    Setiap perjumpaan selalu melahirkan kesan baik yang positif maupun negatif. Kesan-kesan itu berkumpul, berkelindan, dan melekat sedemikian rupa sehingga...