Jadi, janganlah seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Matius 6:8)
Ada seorang pria bernama Acong. Setiap hari, dalam perjalanannya bekerja, Acong melewati sebuah gereja. Setiap kali melintas di depan gereja itu, Acong yang tidak pandai merangkai kata-kata, tetap berdoa. Ia hanya mengucapkan satu kalimat sederhana, “Tuhan, ini Acong.” Ia melakukannya dengan setia setiap hari. Pada suatu ketika, Acong mengalami kecelakaan. Orang-orang berpikir ia tidak mungkin selamat. Di saat kritis, ia hanya dapat berdoa, “Tuhan, ini Acong.” Namun, doa itu menyelamatkannya. la selamat dari kematian.
Ayat-ayat yang kita baca merupakan bagian dari perikop yang berbicara mengenai doa. Sebelum Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, Dia menekankan bahwa dalam berdoa kita tidak perlu bertele-tele. Janganlah kita menyangka bahwa semakin banyak kata yang kita ucapkan dalam doa, semakin besar kemungkinan Tuhan mengabulkannya. Yesus menegaskan bahwa Sang Bapa sudah mengetahui apa yang kita perlukan, bahkan sebelum kita mengucapkannya dalam doa.
Kisah Acong dan Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa untuk berdoa, kita tidak perlu menjadi pandai merangkai kata atau menggunakan bahasa yang indah. Kita tidak perlu membungkus doa dengan kata-kata puitis. Bahkan tanpa banyak kata, Tuhan sudah mengetahui apa yang kita butuhkan. Yang terpenting adalah kita datang kepada-Nya dengan ketulusan dan keyakinan. [Pdt. Cordelia Gunawan]
REFLEKSI:
Dalam doa yang terpenting bukanlah kata-kata indah, melainkan ketulusan dan keyakinan.
Ayat Pendukung: Kej. 45:1-20; Mzm. 103:8-13; Mat. 6:7-15
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.


Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.