Gereja yang Terus Membarui Diri

Belum ada komentar 52 Views

Pada ulang tahun gereja, kata “pembaruan” mudah diterjemahkan sebagai program baru, tata kerja baru, atau cara pelayanan yang lebih relevan dengan zaman. Semua itu mungkin diperlukan. Namun Roma 12 membawa kita melihatnya lebih dalam. Paulus memulai nasihatnya dengan ungkapan “demi kemurahan Allah”. Sebelum berbicara tentang apa yang perlu dilakukan jemaat, ia menunjuk kepada belas kasih Allah yang telah menyelamatkan mereka.

Karena kemurahan itulah umat diminta mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Tubuh membawa ibadah keluar dari wilayah kata-kata dan perasaan. Waktu, tenaga, uang, kuasa, serta cara kita memperlakukan orang lain ikut diletakkan di hadapan Allah. Gereja mulai diperbarui ketika seluruh kehidupannya kembali menjadi milik Tuhan.

Lalu Paulus berkata, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” Menarik, kata kerjanya berbentuk pasif: umat diminta membiarkan dirinya diubah. Gereja tidak menciptakan dirinya kembali sesuka hati. la terus belajar melepaskan pola zaman yang membentuknya, lalu menimbang apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Ukuran pembaruan bukan seberapa baru sesuatu terlihat, melainkan seberapa jernih gereja mengenali kehendak Allah.

Sesudah berbicara tentang budi yang diperbarui, Paulus segera membahas cara seseorang menilai dirinya. Jangan menganggap diri lebih tinggi daripada yang sepatutnya. Lalu ia berbicara tentang satu tubuh dengan banyak anggota dan karunia. Rupanya pembaruan pikiran memiliki bentuk yang sangat nyata: kerendahan hati. Karunia tidak lagi dipakai untuk meninggikan diri atau berebut tempat. Setiap pemberian Allah dipakai untuk melayani kehidupan bersama.

Di tengah perayaan HUT GKI dan Republik Indonesia, gereja dipanggil berkarya di negeri ini tanpa menyerap pola kesombongan, perebutan kuasa, dan kepentingan diri. Gereja perlu terus bertanya: Apakah kehidupan kita makin menyerupai Kristus? Karunia siapa yang belum mendapat tempat? Bagi siapa pelayanan kita sungguh menjadi kabar baik?

Bertambah usia adalah anugerah; menjadi dewasa adalah panggilan. Gereja yang terus membarui diri ialah gereja yang terus kembali kepada kemurahan Allah, membiarkan budinya diubah, dan menyerahkan seluruh karunianya bagi kehidupan dunia yang dikasihi-Nya. (ASC)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...