Iman yang Tidak Sopan

Matius 15:21-26

Belum ada komentar 91 Views

Sebelum berjumpa dengan perempuan Kanaan, Yesus baru saja berdebat tentang kenajisan. la menegaskan bahwa yang menajiskan manusia keluar dari hati. Segera sesudah itu, Matius membawa Yesus ke daerah Tirus dan Sidon. Di sana muncul seorang perempuan yang, menurut batas agama dan asal-usul, mudah dicap sebagai orang luar. Namun justru perempuan inilah yang berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud.” Sebutan “Anak Daud” menunjukkan bahwa ia melihat sesuatu yang belum dipahami banyak orang Israel. Anehnya, Yesus tidak menjawab sepatah kata pun. Para murid ingin ia disuruh pergi. Ketika percakapan akhirnya terjadi, perempuan itu mendengar kata kata yang keras tentang roti anak-anak dan anjing.

Kita tidak perlu buru-buru membuat bagian ini terdengar nyaman. Perempuan itu berada di hadapan batas yang sungguh terasa: kesunyian, penolakan para murid, serta gambaran yang menempatkannya di luar meja. Namun ia tidak pergi. la masuk ke dalam gambaran tersebut dan menemukan celah kemurahan di sana: “Benar, Tuhan. Namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Jawabannya tidak sopan menurut tata sosial yang mengharuskannya tahu diri dan diam. la berani berbicara lagi karena percaya bahwa kemurahan Sang Anak Daud lebih besar daripada batas yang menghalanginya. Bahkan remah dari meja itu cukup untuk memulihkan hidup anaknya.

Yesus kemudian berkata, “Hai ibu, besar imanmu.” Dalam Injil Matius, pujian sebesar ini justru diberikan kepada seorang perempuan Kanaan. Orang yang dianggap berada di luar tampil sebagai teladan iman. Kisah yang dimulai dengan batas berakhir dengan pemulihan, sekaligus mengarah ke ujung Injil ketika para murid kelak diutus kepada segala bangsa.

Namun ketekunan perempuan ini jangan dijadikan syarat bahwa orang terluka harus berjuang cukup keras sebelum layak ditolong. la tidak membeli belas kasih dengan kegigihannya. Imannya berpegang pada keyakinan bahwa kemurahan Tuhan selalu lebih limpah daripada batas yang dibuat manusia. Kadang iman terdengar tidak sopan karena ia menolak percaya bahwa kasih Allah hanya tersedia bagi mereka yang sudah duduk nyaman di meja. (ASC)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...