Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Nyatakanlah supaya kedua anakku ini duduk di dalam Kerajaan-Mu, seorang di sebelah kanan-Mu dan seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” (Matius 20:21)
Kebesaran sejati tidak terletak pada kuasa atau posisi yang kita pegang, melainkan pada pelayanan yang kita berikan dengan kerendahan hati dan cinta kasih yang tulus. Nilai hidup seseorang tidak diukur dari jabatan atau pengaruhnya, melainkan dari seberapa besar kerelaannya untuk melayani orang lain.
Pertanyaan Yesus kepada ibu anak-anak Zebedeus tampak sederhana: “Apa yang engkau kehendaki?” Namun, pertanyaan ini menyelidik hati, memaksa mereka memeriksa motivasi di balik permintaan tersebut. Yesus tahu bahwa di balik permintaan itu tersembunyi ambisi pribadi, keinginan akan posisi dan kuasa, bukan pemahaman tentang pelayanan seperti yang dikehendaki-Nya. Yesus tidak menegur dengan marah, melainkan mengajak dia untuk melihat bahwa kemuliaan dalam Kerajaan Allah bukan berasal dari posisi tinggi, melainkan dari kerendahan hati dan kesediaan melayani. “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (ayat 26). Bagi Yesus, duduk di sisi-Nya bukanlah soal posisi, melainkan tentang bagaimana berpartisipasi dalam pelaksanaan misi-Nya.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya mencari kehormatan atau melayani dengan kasih? Sebab dalam pelayananlah kita menemukan arti kebesaran yang sesungguhnya. Siapa yang ingin menjadi besar, hendaklah ia menjadi hamba bagi semua. [Pdt. Jotje H. Karuh]
DOA:
Tuhan, ajar kami untuk mengikut Engkau bukan demi kemuliaan diri, melainkan untuk menjadi pelayan bagi sesama. Amin.
Ayat Pendukung: Yer. 23:1-8; Mzm. 100; Mat. 20:17-28
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.