Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. (Mazmur 112:1)
Mungkin kita pernah mendengar seseorang berkata, “Oh, pantas saja, si X itu anaknya si Z, ya. Tidak heran kalau perilakunya seperti itu.” Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa perilaku buruk si X diturunkan secara biologis dari orangtuanya. Perilaku baik maupun buruk bukanlah faktor bawaan atau keturunan, melainkan hasil bentukan dari lingkungan sosial, karena anak melihat dan mengalami perilaku orangtuanya.
Pemazmur memberikan kesaksian iman tentang bahagianya orang yang takut akan TUHAN dan senantiasa mencintai firman-Nya. Kebahagiaan dan berkat TUHAN bukan hanya dialami oleh orang tersebut, melainkan juga oleh keturunannya. Hal ini karena keturunannya cenderung mengikuti jejak langkah orangtuanya. Mereka menjauhi kejahatan dan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan TUHAN. Keteladanan yang baik akan membentuk anak dan keturunannya menjadi pribadi yang baik pula. Orang yang menjalani kehidupan dengan baik akan terhindar dari berbagai masalah yang tidak perlu.
Kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang takut akan Tuhan dan mencintai firman-Nya, agar dapat memberikan kesaksian kepada dunia tentang kualitas pribadi orang Kristen. Selain itu, kita juga menjadi teladan bagi keturunan kita, sehingga mereka pun tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mulia. Dengan demikian, kita turut menyiapkan masa depan yang baik dan terhormat bagi anak dan keturunan kita. [Pdt. Mungki A. Sasmita]
DOA:
Ya Tuhan, mampukan kami untuk menjadi teladan bagi keturunan kami tentang takut akan Tuhan dan mencintai firman-Mu. Amin.
Ayat Pendukung: Ul. 4:1-14; Mzm. 112:1-9; 1 Yoh. 5:1-5
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.