#kuasa Roh dan kelemahan manusia #pengurapan Roh #baptisan: Kristus dan Roh Kudus #identitas baru

Belum ada komentar 278 Views

Hari ini adalah Minggu pertama setelah Epifani. Hampir seluruh gereja di dunia merayakan pembaptisan Yesus di Minggu ini. PembaptisanNya merupakan manifestasi pertama dari kemuliaan Allah dalam rangkaian karya pelayanan Yesus. Untuk membantu kita melihat keindahan kemuliaan Kristus, Yesaya 42 dipilih dari kitab di Perjanjian Lama untuk disandingkan dengan Injil Matius pasal 3.

Dalam kisah di Injil Matius, Yesus menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis. Ia merendahkan diriNya untuk datang dan mengantri bersama dengan orang banyak. Ia menempatkan diri-Nya sama dengan para pendosa untuk menerima baptisan dan tanda pertobatan, padahal jelas Yesus tak pernah melakukan dosa dalam hidupNya. Hal ini Ia lakukan untuk menggenapi kehendak Allah, yang mengutus-Nya (15).

Sesudah dibaptis, Yesus keluar dari air dan Ia melihat langit terbuka dan Roh Allah turun atasNya seperti burung merpati. Terdengar suara dari sorga yang mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dikasihi, dan sang pemilik suara dari Sorga itu berkenan kepada-Nya.

Baptisan menjadi awal dari pelayanan Yesus di tanah Yudea. Karya penyembuhan, mukjizat lima roti dan dua ikan, membangkitkan orang mati, penebusan dosa, serta semua pelayanan lain, diawali dari sebuah prosesi baptisan-Nya di sungai Yordan.

Yang tak kalah menarik adalah kisah setelahnya, seusai Ia dibaptis, Ia justru dicobai oleh Iblis. Cukup menggelitik sebenarnya, bagaimana mungkin iblis berani mencobai Yesus Anak Allah? Bukankah itu sama seperti kita berpikir bisa memindahkan gunung dengan cara mengikatkan tali di sebuah pohon di puncak gunung dan menariknya? Mustahil bisa berhasil mencobai Yesus, tapi toh itu tetap dilakukan. Kisah itu membuktikan bahwa Ia benar-benar manusia sehingga bisa dicobai, dan Ia benar-benar Allah sehingga tidak jatuh dalam pencobaan. Di sisi lain, kisah itu menunjukkan, bahwa baptisan tidak membuat hidup seseorang lebih mudah dan bebas dari cobaan. Sebaliknya, setelah menerima baptisan justru kita dituntut untuk bisa membuktikan bahwa kita mampu bertahan dari cobaan si jahat. Mampukah kita?

Buktikanlah bahwa kita adalah anak-anakNya yang dikasihi, dan Ia berkenan pada kita. Kiranya Tuhan sendiri yang memampukan kita. Amin.

ASC

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...