Ritualisme atau Hati yang Bersih

Ulangan 4:1-2, 6-9; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-23

Belum ada komentar 124 Views

Insiden “penistaan agama” terjadi lagi. Kali ini menimpa para murid Yesus. Pelapor dan penuntutnya adalah “serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat.” Tuduhannya sebenarnya sepele namun dibuat serius. Bukankah agama kerap menyepelekan apa yang sungguh-sungguh serius, namun kerap menganggap serius apa yang sebenarnya sepele. Tuduhan yang diajukan kepada para murid Yesus adalah bahwa mereka makan tanpa membasuh tangan—hal ini dituduh najis di dalam tradisi keagamaan Yahudi.

Sungguh tidak main-main. Ketika ulama dan pemuka agama sudah menfatwakan sesuatu, orang awam lazimnya hanya bisa manggut-manggut. Begitulah jika agama tidak masuk meresap hingga ke penalaran dan berputar-putar hanya pada ritualisme yang lahiriah. Orang lantas dicap dangkal iman jika tak memenuhi kewajiban ritual dan dicap saleh jika mampu memenuhi seluruh kewajiban tersebut hingga titik-komanya.

Namun, simaklah respons pedas Yesus. Respons Yesus tepat menusuk pada titik terpenting dari penyakit orang-orang beragama yang mendatangi-Nya (dan mungkin juga orang-orang beragama sampai hari ini), yaitu menganga lebarnya jurang antara perilaku keagamaan dan spiritualitas batiniah mereka. Bagi Yesus, perilaku keagamaan itu adalah buat manusia, sementara Allah lebih peduli pada isi hati. Dan itulah setepatnya definisi dari kemunafikan.

Bagi orang-orang beragama itu, perilaku yang tak sepadan dengan aturan keagamaan pastilah mencerminkan hati yang busuk. Itu sebabnya mereka mencela para murid yang tidak mengikuti aturan perilaku keagamaan, sebab itu berarti para murid Yesus pastilah memiliki hati yang kotor. Namun, Yesus lebih mementingkan yang sebaliknya, yaitu apa yang ada di dalam batin. Perilaku keagamaan yang lahiriah mungkin saja baik dan sempurna, namun itu semua tidak menjamin isi hati dan spiritualitas yang bersih.

Percakapan menegangkan antara Yesus dan tokoh-tokoh agama ini memberi kita ruang untuk ikut di dalamnya dan mengambil sikap. Bagaimanakah spiritualitas batin kita selama ini?

JAP

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...
  • Anugerah yang Mengganggu
    Matius 20:1-16
    Pada umumnya kita ingin mendapat lebih banyak dari orang lain, apalagi kita bekerja lebih lama, lebih berat dari yang...