Ritualisme atau Hati yang Bersih

Ulangan 4:1-2, 6-9; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-23

Belum ada komentar 92 Views

Insiden “penistaan agama” terjadi lagi. Kali ini menimpa para murid Yesus. Pelapor dan penuntutnya adalah “serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat.” Tuduhannya sebenarnya sepele namun dibuat serius. Bukankah agama kerap menyepelekan apa yang sungguh-sungguh serius, namun kerap menganggap serius apa yang sebenarnya sepele. Tuduhan yang diajukan kepada para murid Yesus adalah bahwa mereka makan tanpa membasuh tangan—hal ini dituduh najis di dalam tradisi keagamaan Yahudi.

Sungguh tidak main-main. Ketika ulama dan pemuka agama sudah menfatwakan sesuatu, orang awam lazimnya hanya bisa manggut-manggut. Begitulah jika agama tidak masuk meresap hingga ke penalaran dan berputar-putar hanya pada ritualisme yang lahiriah. Orang lantas dicap dangkal iman jika tak memenuhi kewajiban ritual dan dicap saleh jika mampu memenuhi seluruh kewajiban tersebut hingga titik-komanya.

Namun, simaklah respons pedas Yesus. Respons Yesus tepat menusuk pada titik terpenting dari penyakit orang-orang beragama yang mendatangi-Nya (dan mungkin juga orang-orang beragama sampai hari ini), yaitu menganga lebarnya jurang antara perilaku keagamaan dan spiritualitas batiniah mereka. Bagi Yesus, perilaku keagamaan itu adalah buat manusia, sementara Allah lebih peduli pada isi hati. Dan itulah setepatnya definisi dari kemunafikan.

Bagi orang-orang beragama itu, perilaku yang tak sepadan dengan aturan keagamaan pastilah mencerminkan hati yang busuk. Itu sebabnya mereka mencela para murid yang tidak mengikuti aturan perilaku keagamaan, sebab itu berarti para murid Yesus pastilah memiliki hati yang kotor. Namun, Yesus lebih mementingkan yang sebaliknya, yaitu apa yang ada di dalam batin. Perilaku keagamaan yang lahiriah mungkin saja baik dan sempurna, namun itu semua tidak menjamin isi hati dan spiritualitas yang bersih.

Percakapan menegangkan antara Yesus dan tokoh-tokoh agama ini memberi kita ruang untuk ikut di dalamnya dan mengambil sikap. Bagaimanakah spiritualitas batin kita selama ini?

JAP

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Kerajaan Allah: Bukan Lokasi dan Situasi
    Lukas 4:16-21, Lukas 11:11-13
    Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lk. 4:21) Kerajaan Allah...
  • Kembali ke Kilometer Nol
    Yeremia 6:16, Yohanes 3:5-8
    Beginilah firman TUHAN: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik,...
  • (Tak) ‘Ku Tahu ‘Kan Hari Esok
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan...
  • Melampaui Usia, Menggugah Karya
    1 Samuel 2:18-20, 26; Mazmur 148; Kolose 3:12-17; Lukas 2:41-52
    Tahukah Saudara arti kata ageisme? Ageisme atau ageism (dibaca : agis) adalah diskriminasi berdasarkan usia. Mungkin kita tidak familier...
  • Melampaui Stigma, Mencipta Persahabatan
    Setiap perjumpaan selalu melahirkan kesan baik yang positif maupun negatif. Kesan-kesan itu berkumpul, berkelindan, dan melekat sedemikian rupa sehingga...