Membebaskan yang Tertindas

Belum ada komentar 634 Views

Membaca perikop Yesus menyucikan bait Allah (Yoh 2:13-25) memang selalu menarik. Dalam lingkungan masyarakat Yahudi seseorang dapat memiliki strata sosial tinggi karena beberapa hal : memiliki harta, jabatan/kekuasaan, terlebih lagi jika ia dekat dengan lingkungan bait suci. Karenanya imam besar dan orang Lewi sebagai pengelola bait suci mendapat tempat yang tinggi dalam tatanan masyarakat saat itu. Mereka dihormati, dihargai juga dipercaya sebagai pemimpin spiritual masyarakat yang berperan menyelenggarakan ibadah, melindungi dan mengayomi masyarakat lemah & miskin.

Namun praktek jual beli hewan korban di bait suci justru bertentangan dari prinsip tersebut. Dengan motif meraup keuntungan, para imam menetapkan agar setiap orang yang datang beribadah dan hendak mempersembahkan korban harus membeli hewan kurban yang disediakan oleh para pedagang di pelataran bait suci. Hewan-hewan tersebut sangat mahal, hanya orang kaya saja yang mampu membeli dan mempersembahkan korban. Sedang hewan yang dibawa oleh umat seberapapun baiknya dinyatakan tidak layak dijadikan korban. Belum lagi masalah mata uang yang dibawa oleh umat dari berbagai tempat (Roma, Yunani, Mesir, Tyrus, Sidon, dsb) harus ditukar dengan mata uang shekel Galilea / shekel Bait Allah. Semua peraturan tersebut adalah upaya manipulatif para pemimpin agama untuk meraup keuntungan dari peribadahan umat. Fungsi kepemimpinan rohani berubah menjadi sosok penindas bagi orang-orang miskin.

Dalam situasi tersebut, Yesus berani menegakkan kebenaran. Ia berupaya mengembalikan fungsi peribadahan ke tempat seharusnya. Ia ingin mengembalikan fungsi kepemimpinan yang tidak diskriminatif, yang justru memberi tempat terhormat bagi orang-orang yang terpinggirkan : orang miskin, kaum perempuan dan anak, pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka semua orang yang mendapat tempat di hati Allah dan berhak mempersembahkan korban juga.

Dalam hidup ini, kita tentu dipercayakan oleh Tuhan dalam sebuah kepemimpinan tertentu. Sebagai seorang atasan, kepala rumah tangga, istri/suami, ibu rumah tangga, orang tua, seorang kakak, dsb. Sudahkah kita menggunakan kepemimpinan, kepercayaan dari Tuhan tersebut untuk kebaikan dan kesejahteraan orang banyak? Mari kita menghayati kepemimpinan yang melayani, yang mendahulukan kebaikan orang lain di atas kebaikan dan keuntungan diri sendiri. Berorientasi pada orang lain, pada bawahan, pada orang-orang miskin, tertindas & terpinggirkan. Karena itulah yang ditunjukkan Yesus untuk kita teladani.

GPP

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Rumah Tanpa Alibi
    Matius 22:34-46
    Dalam bacaan ini, Yesus menghadapi pertanyaan dari orang-orang Farisi dan kemudian bertanya tentang identitas Mesias. Percakapan tersebut mengajak kita...
  • RUMAH TANPA KEMUNAFIKAN
    Matius 22:15-22
    Dalam Matius 22:15-22, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus melalui pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka memuji Yesus seolah-olah tulus,...
  • RUMAH YANG HADIR
    Matius 22:1-14
    Apa yang membuat sebuah rumah menjadi “rumah?” Bukan semata mata karena ada bangunan, keluarga, dan orang-orang yang tinggal di...
  • RUMAH YANG DIUJI
    Matius 21:33-46
    Setiap rumah pasti pernah mengalami ujian. Diuji oleh masalah ekonomi, sakit penyakit, konflik suami-istri, persoalan anak, perbedaan pendapat, bahkan...
  • Taat, Butuh Satu Tekad
    Filipi 2:1-13, Matius 21:23-32
    Taat. Kadang, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah laku rohani ini masih menjadi sesuatu yang kita upayakan? Apalagi kalau sudah...