Mengawali pagi dengan menyeruput kopi atau teh sembari membaca koran adalah biasa. Atau, mengawali pagi dengan langsung bergegas ke tempat kerja tanpa sarapan agar terhindar dari kemacetan, juga biasa. Mendengar alunan suara pengamen jalan di perempatan lalu lintas jamak. Semua itu biasa, sebiasanya menjalani rutinitas hidup.
Seorang teman pernah berkata, betapa tidak nyamannya hidup di Jakarta. Pagi berangkat, malam pulang. Bertemu kawan di kedai kopi modern, membicarakan bisnis, bisnis, dan bisnis. Tidak ada empati, juga tiada rasa. “Tidak manusiawi!” katanya. Orang yang bersangkutan menjawab, hidup di tempatmu (tanpa menyebut lokasinya) tidak nyaman. Terlalu santai. Hidup ini harus produktif. Harus terus bergerak”
Namun entah bagaimana, pada akhirnya teman penduduk Jakarta tersebut mengakui bahwa ia sedang mematikan rasa hidupnya sebagai manusia. Ia setuju dengan pendapat sobatnya, bahwa kini ia sedang menjalani kehidupan sebagai mesin. Kesadaran tersebut terkuak setelah usai membaca status FB temannya yang mengisahkan eksperimen Washington Post tentang persepsi, rasa, dan prioritas seseorang dengan menghadirkan Joshua Bell, salah satu musisi dunia berbakat, memainkan karya-karya Bach, layaknya pemusik jalanan.
Januari 2013, di pagi hari, Joshua Bell menggesek biola selama kurang lebih empat puluh lima menit di Stasiun Metro, Washington DC. Bisa dibayangkan kesibukan stasiun tersebut pada pagi hari, pagi nan padat dengan kehidupan yang berlangsung serba cepat. Orang bergegas pergi ke tempat kerja tanpa menghiraukan sekitarnya. Pantas, jika pelintas tidak mengenali Joshua yang dua hari sebelumnya berhasil menjual konsernya di Boston laris manis. Jangankan mengenalinya, merasakan kehadiran lantunan musik saja tidak. Seakan pelintas Stasiun Metro tersebut hidup di ruang ‘hampa’.
Selama kurun waktu tersebut, didapati dua puluh orang dari sekian ratus orang pelintas yang memberikan uang sekalipun mereka tidak menaruh perhatian padanya. Hanya beberapa orang yang sempat memperlambat langkah dan berhenti sejenak, menyadari keberadaan pemusik, kemudianmereka bergegas kembali mengejar waktu. Pada eksperimen tersebut, ia berhasil mengumpulkan uang $ 32, padahal konsernya di Boston berhasil merogoh kocek setiap penonton sebesar $100.
Kesibukan memang mampu merenggut rasa. Ketika kita tidak mempunyai kesempatan berhenti dan menyimak sekitaran, rasa kita menjadi tumpul. Rasa haru, suka cita, sedih, marah menguap. Kita tidak mengenali kehidupan di sekitar, bahkan kita pun tidak mampu mengenali diri sendiri selain sibuk mengejar waktu. Kita tidak bisa menikmati, menerima, dan memberi apresiasi. Betapa, banyak hal yang telah terlewatkan!
Teman penduduk Jakarta mengamini, bahwa waktu jeda sangatlah vital. Jeda, atau berhenti, tidak saja produktif, tapi mampu merenovasi atau mengembalikan rasa yang menguap akibat tergilas roda waktu.
Adriani S Soemantri
Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.