Yesusku, Yesus keluargaku!

Yesusku, Yesus keluargaku!

Belum ada komentar 58 Views

Dalam pernikahan kadang dikenal apa yang disebut sebagai ‘pembaharuan janji’. Biasanya pembaharuan janji ini dilakukan pada waktu ulangtahun pernikahan. Suami-isteri kembali mengungkapkan janji kasih setia mereka. Tentu pembaharuan janji ini tidak hanya berhenti di mulut saja. Harus ada pembaharuan relasi yang sungguh nyata. Yang nampak nyata dalam relasi keseharian pasutri tersebut.


Tetapi bukan hanya relasi pasutri saja yang harus dibaharui. Relasi dengan Tuhan pun senantiasa membutuhkan pembaharuan. Selalu saja ada hambatan dan rintangan yang dapat mempengaruhi relasi umat dengan Tuhannya. Begitu juga relasi umat Israel dengan Tuhan pada zaman Yosua. Kemenangan demi kemenangan dalam menaklukkan Kanaan tidak membuat umat makin mendekat dengan Tuhan, tetapi justru makin menjauh. Dewa-dewa Kanaan (allah orang Amori –- Yos. 24:15) nampaknya begitu mempesona umat sehingga mereka melupakan Tuhan yang sudah menghadirkan kemenangan buat mereka. Karena itu, Yosua mengajak umat untuk membaharui relasinya dengan Tuhan di Sikhem. Umat harus sekali lagi menetapkan pilihan mereka, apakah akan mengikut Tuhan yang sudah menghadirkan kemenangan buat mereka atau mengikut ‘allah orang Amori’!


Yang menarik dalam pembaharuan janji ini adalah pernyataan dan pilihan Yosua, bahwa Ia dan keluarganya (seisi rumahnya) akan beribadah kepada Tuhan! Dari sini kita melihat, bahwa pembaharuan relasi dengan Tuhan seharusnya punya dampak bukan hanya dalam diri orang tersebut tetapi juga keluarganya. Pilihan kita untuk mengikut Yesus, mau tidak mau memang memanggil kita untuk menterapkan ajaran Yesus bukan hanya dalam diri kita tetapi juga menjadi norma keluarga kita.


Nah, saudara, seiring dengan perjalanan keluarga anda, mungkin ada saatnya anda berhenti sejenak dan kembali merenung. Benarkah norma-norma yang Yesus ajarkan masih menjadi norma-norma keluarga kita? Jangan-jangan sudah terjadi pergeseran. Ada banyak norma lain di dunia ini yang kadang tanpa sadar bisa mempengaruhi kehidupan keluarga, seperti misalnya: materialisme. Kita memang masih ke gereja, masih beribadah tiap minggu, tetapi di hari lain, kita sudah lupa untuk tetap membawa norma Yesus dalam perilaku keseharian kita. Juga dalam hidup berkeluarga kita.


Dalam hidup ini selalu dibutuhkan yang namanya pembaharuan relasi, termasuk dengan Tuhan. Mungkin kini saatnya. Ambillah waktu sejenak untuk kembali merenung bersama seluruh keluarga. Apakah Yesusku masih menjadi Yesus keluargaku juga? Selamat membaharui relasi anda dengan Dia yang selalu mengasihi kita.




Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • berbuah
    Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat
    Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam...
  • Walau Ditolak …
    Pernahkah Anda ditolak? Jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Ketika permintaan Anda ditolak oleh seseorang, Anda masih dapat mengatakan kepada...
  • GEREJA: Rumah Kita RUMAH: Gereja Kita
    Ketika kita berbicara tentang ‘gereja’ maka itu berarti kita sedang berbicara tentang ‘persekutuan’, dan bukan ‘gedung’. Sedangkan saya memahaminya...
  • berbuah
    Hidup untuk Berbuah
    “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah….” (Filipi 1:22) Hidup di dalam...
Kegiatan