Walau Ditolak …

Belum ada komentar 55 Views

Pernahkah Anda ditolak? Jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Ketika permintaan Anda ditolak oleh seseorang, Anda masih dapat mengatakan kepada diri sendiri bahwa namanya permintaan, tentu bisa ditolak. Ketika lamaran pekerjaan ditolak, Anda masih berharap pada kesempatan berikut. Ketika ditolak cinta, Anda sedih, namun masih bisa menghibur diri: belum jodohku. Namun bagaimanakah bila penolakan-penolakan itu terjadi berulang-ulang?

Menurut Guy Winch Ph.D., Psychology Today, penolakan dapat menyebabkan akibat buruk pada yang mengalaminya. Setidaknya ada 10 fakta tentang hal itu yang cukup mencengangkan. Di antaranya yang terberat adalah, rasa sakit yang ditimbulkannya praktis sama dengan rasa sakit fisik. Di samping itu, penolakan menjadikan kebutuhan untuk diterima, goyah, dan juga menyulut kemarahan dan agresi. Penolakan juga dapat membuat orang tidak lagi rasional, bahkan merusakkan citra dan nilai dirinya.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila seseorang yang mengalami permintaannya kerap ditolak akan menjadi pesimistis dan enggan mengajukan permintaan kepada siapa pun. Bila seseorang berulang-ulang mesti menghadapi kenyataan bahwa lamaran kerjanya tidak diterima, ia akan kehilangan gairah, bahkan motivasi kerja. Dan bila seseorang berkali-kali mengalami penolakan cinta, maka ia akan kehilangan rasa percaya diri yang kian lama kian parah.

Syukur Tuhan bukanlah kita. Kitalah yang mudah patah arang, putus asa, bahkan pendendam. Dalam Yohanes 1:10-11 tertulis: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.”

Natal adalah proklamasi datangnya sang Firman dan Terang, ke dan bagi dunia yang terperangkap dalam kebingungan, kekacauan, dan kegelapan. Dunia kita adalah dunia yang terasing dari Allah, dari segenap ciptaan, dan dari dirinya sendiri.

Sang Firman dan Terang itu adalah Tuhan sendiri yang berkenan memulihkan ciptaan-Nya yang dikasihi-Nya.

Namun dunia tidak mengenali-Nya, bahkan menolak-Nya. Dunia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, sehingga gagal “melihat” tangan kasih Tuhan yang terulur kepadanya. Dunia terlalu sibuk dengan “hal-hal lain” yang menurutnya jauh lebih mengasyikkan dan menarik hatinya, sehingga tidak menyadari betapa parah keadaannya sendiri, serta menjadikannya kian tidak peka pada niat baik Tuhan baginya.

Namun demikian IA tetap datang ke dan bagi dunia. Kekacauan dan kebingungan tak dapat menghampakan makna kebenaran-Nya. Kegelapan tak dapat menutupi atau menguasai-Nya. Kasih-Nya yang tak terukur itu datang dan dinyatakan, untuk membarui dunia yang tak mengenali, bahkan menolak-Nya.

Dasar pikiran inilah yang melahirkan lagu tema Natal 2016 jemaat kita, GKI Pondok Indah:

Walau ditolak…

Walau dicerca belas kasih-Nya membara
Walau ditolak dib’rikan-Nya hati dan diri-Nya

Kasih-Nya murni mengurai benci
Kasih-Nya tulus melembutkan hati
Kasih-Nya agung merengkuh dunia
Mengaruniakan harap dan kes’lamatan.

Gelap dunia takkan dapat melingkupinya: terang kasih Tuhan

Pertanyaannya, lalu bagaimanakah kita mesti menyambut kedatangan sang Kristus yang hadir memberi diri, bahkan walau ditolak? Tentunya tidak cukup hanya dengan percaya dan bersyukur berserah diri kepada-Nya, menikmati kehidupan yang terjamin di dalam Nama-Nya. Sebaliknya menyambut-Nya mesti terjadi dalam visi dan teladan-Nya.

IA datang bagi keselamatan dan pemulihan segenap ciptaan tanpa kecuali. Itu sebabnya apapun dilakukan dan dikorbankan-Nya, bahkan diri-Nya, demi menjalankan misi-Nya guna mewujudkan visi pemulihan segenap ciptaan dalam kerajaan Allah. Visi yang sama mestinya menjadi visi hidup dan lingkungan kita secara nyata, dalam segala aspeknya. Visi yang mesti kita terjemahkan dalam misi yang kelihatan dalam segenap keutuhan kita: sikap, kata dan perbuatan. Baik kita sebagai individu orang percaya, maupun secara kolektif sebagai jemaat Tuhan.

IA datang dengan kasih yang dinyatakan, bukan sebagai yang “karena” atau “supaya”, tetapi kasih yang “walaupun”. Kita pun dipanggil untuk meneladani-Nya. Menerima dan menyambut kasih yang seperti itu dari Tuhan, tidak bisa tidak kita mesti mengubah paradigma kasih kita. Bukan lagi kasih yang sekadar “karena” sudah menerima uluran kasih terlebih dahulu. Kasih yang menjadi semacam “balas kasih”. Bukan pula kasih yang mengharapkan sesuatu “supaya” mendapatkan sesuatu yang lebih atau yang didamba-dambakan. Tetapi kasih yang “walaupun” tidak dikenal, tidak diterima, dibenci, bahkan ditolak, tetap berusaha menyatakan kasih dalam segala bentuknya kepada siapa pun yang kita jumpai dalam perjalanan hidup kita.

» Pdt. PURBOYO W. SUSILARADEYA

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Berbeda itu Indah
    Sulit dibayangkan bila segala sesuatu dalam hidup ini seragam. Semua gunung sama bentuk dan tingginya. Pantai-pantai di Bali, di...
  • Bersyukur & Bersaksi
    Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa. (1 Tawarikh 16:8) Mengucap syukur sejatinya adalah sebuah kesaksian....
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • berbuah
    Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat
    Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam...
  • GEREJA: Rumah Kita RUMAH: Gereja Kita
    Ketika kita berbicara tentang ‘gereja’ maka itu berarti kita sedang berbicara tentang ‘persekutuan’, dan bukan ‘gedung’. Sedangkan saya memahaminya...
Kegiatan