Tujuh Dosa yang Mematikan – Seven Deadly Sins

Tujuh Dosa yang Mematikan – Seven Deadly Sins

1 Komentar 4 Views

Mengapa kita perlu berbicara tentang dosa?

Dan mengapa disebut tujuh dosa mematikan?


Satu

Kita akan berwisata ke tujuh sudut gelap hati manusia, yaitu tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) sekaligus memahaminya dalam korelasi dengan tujuh perkataan Yesus di atas salib. Sekalipun kita bisa mengatakan bahwa angka tujuh di sini merupakan kebetulan, namun dalam tradisi bapa-bapa gereja di abad mula-mula, angka tujuh menempati posisi yang unik. Ketujuh dosa utama tersebut adalah:

  1. Kesombongan (Pride, Superbia)
  2. Iri hati (Envy, Invidia)
  3. Kemarahan (Anger, Ira)
  4. Ketamakan (Greed, Avaritia)
  5. Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
  6. Rakus (Gluttony, Gula)
  7. Kemalasan (Sloth, Acedia)

Semula saya hanya ingin membahas tujuh dosa utama tersebut, sekalipun tentu akan banyak orang yang akan berkata bahwa lebih baik membahas sesuatu yang positif (misalnya tujuh kebajikan utama – seven heavenly virtues) daripada membahas tema-tema yang negatif. Karena itu membahas ketujuh dosa utama ini dalam korelasi dengan tujuh perkataan Yesus di salib mungkin bisa menghadirkan keseimbangan.

Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa membuat kategori “tujuh dosa” adalah sia-sia, karena di mata Tuhan tidak ada dosa kecil atau dosa besar. Ini benar. Namun, dalam tradisi Kristen yang panjang ketujuh dosa utama ini terus didengungkan karena sikap realistis bahwa ketujuh dosa ini memang “utama,” dalam arti ia melahirkan banyak dosa-dosa lainnya. Karena itu mereka disebut dosa utama (capital, caput, kepala).

Ketujuh dosa tersebut bersifat generatif, melahirkan dosa lainnya. Membunuh suami tentu saja dosa yang berat, demikian pula di mata hukum, namun bagaimana dengan keserakahan (greed), satu dari tujuh dosa utama, yang melandasi tindakan membunuh tersebut, keserakahan karena mengingini seratus ribu USD dari asuransi kematian sang suami? Apakah memang pemerkosaan yang dilakukan seorang pria dewasa tidak berkorelasi dengan nafsu berahi orang itu saat ia masih remaja dan asyik-masyuk dengan gambar-gambar di majalah porno? Apakah kita mampu memahami pembasmian orang-orang Yahudi oleh Nazi tanpa mengaitkannya dengan kesombongan (pride) ras Aria?

Yesus amat menyadari persoalan ini ketika Ia menarik dua kejahatan “besar” (membunuh dan berzinah) pada dua dari tujuh dosa utama (marah dan nafsu): Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum… Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Mt. 5:21-22a; 27-28)

Membahas ketujuh dosa utama ini juga penting karena sifatnya yang tak mudah diatasi. Mereka bersifat kronis dan berakar kuat di dalam hati manusia sedemikian rupa hingga kita kerap menganggapnya “manusiawi.” Sukar, juga karena mereka merupakan pergumulan sesehari manusia, tanpa terkecuali Anda dan saya. Itu sebabnya jauh lebih mudah bicara soal dan berduka atas dosa-dosa yang mengerikan-pembunuhan, pembasmian etnis, perang, dan lain-lain-karena mereka sepertinya begitu jauh dari hidup saya. Bahkan seumur hidup bisa jadi kita terhindar dari semua itu. Tapi tidak demikian halnya dengan ketujuh dosa utama ini.

Membahas ketujuh dosa utama ini juga menarik karena ada tendensi kuat untuk menganggap tujuh dosa utama ini justru sebagai sekumpulan kebajikan. Phillip Yancey dalam bukunya, Rumors of Another World, mengatakan bahwa dalam budaya Amerika seven deadly sins telah berubah menjadi seven seductive virtues. Dunia bisnis, ads, entertainment dan sport sudah mengubah ketujuh dosa ini menjadi hal-hal baik yang patut dikejar. Edisi special MTV pada bulan Agustus 1993 menyajikan tema “Seven Deadly Sins: An MTV News Special Report”. Dari interview atas banyak pelaku industri di bidang entertainment dan media, hampir seluruhnya sepakat bahwa ketujuh hal tersebut tidaklah buruk dan daftar tersebut “dumb.”

Dua

Dalam karya terkenalnya, Confessions, Agustinus mengisahkan salah satu episode hidupnya di masa muda, ketika ia dan beberapa temannya sepakat untuk mencuri buah pear milik seorang tetangga. Ia berkata bahwa saat itu mereka tak lapar; juga mereka bukan orang miskin. Bahkan pear di kebunnya sendiri jauh lebih matang. Namun toh mereka melakukannya. Dan setelah menikmati beberapa gigitan, mereka membuangnya begitu saja di tanah.

Dalam perkembangan teologinya, belakangan Agustinus mempengaruhi seluruh teologi Kristen dengan mengatakan bahwa dosa pada hakikatnya terletak pada kehendak (will). Dosa tepat berada di sana. Dalam keberdosaan itu Agustinus mengatakan – diikuti oleh Martin Luther – manusia selalu condong dan mengarah pada dirinya sendiri (incurvatus in se – curved in upon self). Itulah sebabnya dosa pada dasarnya berarti “salah sasaran” (hamartia). Hidup manusia yang seharusnya diarahkan pada Allah, kini diarahkan pada yang bukan – Allah, khususnya diri sendiri.

Keberdosaan ini begitu dalamnya hingga Alkitab selalu menggambarkan manusia yang berdosa berada dalam keadaan terasing dari Allah, yang berakibat pada keterasingan dari dunia, sesama dan diri sendiri. “Dosa sebagai status” dan”“dosa sebagai perbuatan” (Sin and sins) dengan demikian harus dibedakan. Yang pertama mendahului dan mendasari yang kedua. Pengakuan Agustinus dilandasi kesadaran bahwa problem manusia bukan hanya perbuatan-perbuatan dosa (sins), namun juga kecenderungan berbuat dosa (Sin).

Tiga

Keberdosaan itu, seperti dikatakan Agustinus, berada pada kehendak. Kehendak menjadi dosa sejauh ia mengasingkan kita dari Allah. Karena itu dosa selalu berurusan dengan Allah. Karena itu bagi mereka tidak “mengenal” Allah, seluruh dosa tersebut hal yang biasa saja. Tapi bagi seorang yang mengenal Allah, ketujuh dosa tersebut sungguh serius karena menyangkut natur Allah sendiri; Allah yang di dalam Kristus menunjukkan apa artinya hidup sebagai manusia di hadapan Allah.

Itu juga sebabnya, menjadi menarik ketika kita mendampingkan ketujuh dosa utama ini dengan tujuh perkataan Yesus di atas salib, karena di atas salib itulah sesungguhnya anugerah bagi manusia berdosa ditawarkan. Ketujuh Dosa Utama (seven vices) tidak bisa sekedar dijawab dengan kebajikan (virtues), karena penyaliban Yesus itu sendiri malah dilakukan untuk melakukan kebajikan menurut para penyalib-Nya (perdamaian, ketentraman masyarakat, keadilan, penegakan agama, dll). Dosa dijawab dengan anugerah. Dan dalam hidup yang dianugerahi, setiap hari kita terus bergantung pada anugerah Allah karena setiap hari pula kita bergumul dengan dosa. Seperti yang dikatakan oleh Luther, bahwa kita adalah manusia yang sekaligus diselamatkan dan sekaligus berdosa (simul iustus et peccator).

Ada beberapa pedoman yang mungkin baik untuk kita jalani yaitu: Cara terbaik membahas masalah dosa adalah menahan diri untuk tidak mencocokkannya dengan orang lain, namun dengan diri sendiri.

Namun orang lain dan komunitas selalu dibutuhkan karena gereja selalu menjadi komunitas orang berdosa yang diselamatkan. Sebagaimana yang dikatakan C.S. Lewis, “My own eyes are not enough for me, I will see through those of others.”

Jangan pernah membayangkan bahwa gereja adalah tempat paling aman dari ketujuh dosa utama tersebut. Sebaliknya, sebagaimana dikatakan Scott Peck, jika seseorang ingin mencari kejahatan yang sesungguhnya, maka orang tersebut musti mencarinya di gereja (atau tempat-tempat ibadah lainnya), karena hakikat kejahatan selalu “bersembunyi di balik kebaikan.”

Kejujuran di hadapan Allah, karena itu, menjadi penting. Kejujuran tanpa excuse apa pun. Kita kerap berkata, “Yes, Lord, I have sinned. But I have excellent excuses.” Alasan demi alasan (yang baik) bisa dibangun, namun sikap Allah terhadap dosa tetap sama. Dan ia melihat ke dalam hati kita, melewati seluruh alasan yang kita miliki dan kita bangun.

Akhirnya, ikutilah seri ini dengan keyakinan bahwa kita akan diberkati melaluinya, serta gereja dan keluarga kita akan memperoleh manfaat darinya.

Kesombongan (Pride, Superbia)

“Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.” (Ams. 11:2)

“Kesombongan menganggap kerendahhatian amat terhormat, bahkan ia memakainya sebagai jubah.” (Thomas Fuller)

“Pernahkan Anda mendengar kisah tentang pendeta yang berkata bahwa ia akan berkotkah tentang kerendahhatian namun menunggu orang banyak datang sebelum mengkotbahkannya?” (Anonymous)

Satu

Kita semua mengenal apa artinya kesombongan. Seorang atlit yang menyombongkan diri sebagai yang terbaik, seorang pendeta yang membanggakan kemampuannya melakukan mukjizat, seorang milyarder yang tanpa sungkan memamerkan kekayaannya, dan sebagainya, dan seterusnya. Kesombongan ada sahabat karib orang Farisi yang berdoa, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk. 18:11-12).

Mungkin orang Farisi ini “hanya” memiliki satu dosa, yaitu kesombongan, namun sebagaimana dikatakan oleh C.S. Lewis, yang dia miliki adalah “the great sin.” Jika dibandingkan dengan kesombongan, C.S. Lewis berkata dalam bukunya, ”Mere Christianity, “kesenonohan, kemarahan, kerakusan, mabuk-mabukan, hanyalah sekedar gigitan nyamuk.” Kesombongan adalah dipenuhinya hati dengan perasaan bahwa akulah yang terpenting (self-importance). Singkatnya, kesombongan membentuk citra diri yang keliru.

Ada sebuah kisah tentang Muhammad Ali, petinju terbesar dalam sejarah, yang bepergian dengan sebuah pesawat. Selama perjalanan udara itu, tiba-tiba pesawat yang ditumpanginya mengalami gangguan cuaca hingga bergejolak. Dengan cepat pilot menginstruksikan seluruh penumpang untuk memasang sabuk pengaman. Dan semua penumpang mematuhi perintah pilot tersebut, kecuali Muhammad Ali. Ketika pramugari mendatanginya, Ali berkata dengan suara keras, “Superman tidak membutuhkan sabuk pengaman.” Tanpa berpikir lama pramugari itu berkata, “Betul, tapi Superman juga tidak membutuhkan pesawat terbang.”

Kesombongan sesungguhnya berbeda dengan harga-diri, sekalipun harga-diri yang berlebihan, apalagi hingga merendahkan orang lain, bisa dengan mudah berubah menjadi kesombongan. William White mengatakan bahwa kesombongan adalah kanker spiritual yang menggerogoti kemungkinan persahabatan, cinta kasih dan komunitas. Dosa semacam inilah yang berkuasa di balik program pembasmian orang-orang Yahudi oleh Nazi, politik apartheid di Afrika Selatan, dan rasisme di mana-mana. Kesombongan mendidik seseorang untuk merasa diri superior dibanding orang lain. Seorang yang melakukan dosa kesombongan atau kecongkakan akan tampil seperti seseorang yang merasa lebih dekat dengan matahari hanya karena ia berdiri di atas gedung bertingkat, dibandingkan orang lain yang berdiri di atas tanah, di bawahnya.

Dan yang membuat kesombongan (Pride) sebuah dosa yang mematikan adalah karena ia tak hanya mengangkat seseorang di atas sesamanya, namun berusaha membuat orang itu sejajar dengan Allah. Dosa inilah pintu masuk si ular dalam menggoda Adam dan Hawa, “…pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah…” (Kej. 3:5). Tak ada anugerah Allah yang dibutuhkan untuk seorang yang dikuasai kesombongan. Dengan kata lain, ia memisahkan manusia dari Allah. Apa yang tampak sebagai iman sesungguhnya adalah kecongkakan spiritual, karena “iman tak pernah mengungkapkan diri dengan cara melecehkan orang lain” (Charles Talbert).

Dua

Dan yang paling memuakkan adalah bahwa kesombongan bisa jadi tampil lewat wujud kerendahhatian. Karena itu benarlah yang dikatakan oleh Thomas Fuller, “Kesombongan menganggap kerendahhatian amat terhormat, bahkan ia memakainya sebagai jubah.”

Adalah sebuah kisah Yahudi tentang sebuah sinagoge di sebuah desa. Pada suatu hari, seorang rabi merebahkan dirinya di atas lantai dan berkata, “Allah, di hadapan-Mu aku tak berarti apa-apa.” Kemudian masuklah seorang kaya, merebahkan dirinya di atas lantai dan berkata, “Allah, di hadapan-Mu aku tak berarti apa-apa.” Setelah itu, seorang pengemis juga merebahkan diri di atas lantai dan berseru, “Allah, di hadapan-Mu aku tak berarti apa-apa.” Melihat itu, orang kaya tadi berbisik pada sang rabi, “Lihat, berani-beraninya dia mengaku tidak berarti apa-apa.”

Kerendahhatian bisa menjadi wujud kesombongan paling tinggi. Karena itulah kerendahhatian patut dikejar, namun tidak pernah boleh dirayakan. Karena sekali ia dirayakan, ia mudah berubah menjadi kesombongan.

Setelah membacakan sebuah kisah di Injil, seorang guru Sekolah Minggu berkata pada para muridnya, “Anak-anak mari kita tundukkan kepala dan berterima kasih pada Tuhan karena kita tidak seperti orang Farisi itu.”

Inilah tricky-nya kesombongan. Ia mengintai kita dari segala arah. Ia dengan mudah berkamuflase melalui sikap anti-kesombongan, yang justru bisa memunculkan kesombongan baru.

Tiga

Menurut Anda, siapakah tokoh terbesar di dalam Alkitab? Musa? Abraham? Paulus? Yesus sendiri berkata, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis” (Mat. 11:11). Rahasia keagungan Yohanes Pembaptis justru adalah karena ia menempatkan diri sebagai pelayan dan yang terkecil. Dan justru karena itulah Yesus menganggap ia sebagai yang terbesar. Ketika ia mendengar berita bahwa “semua orang” pergi kepada Yesus dan bukan kepadanya, Yohanes Pembaptis menjawab dengan menggambarkan dirinya sebagai sahabat mempelai laki-laki, bukan mempelai laki-laki itu sendiri. Dan akhirnya ia menambahkan, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30). Inilah contoh kerendahhatian.

Kerendahhatian sejati tidak berpikir rendah (lowly) tentang diri sendiri, namun berpikir secara benar (rightly) tentang diri sendiri. Dan ketika kita memiliki pemikiran yang benar tentang diri sendiri, maka tahulah kita bahwa sesungguhnya kita tak berarti di hadapan Allah. Adalah John Riskin yang berkata, “Saya percaya bahwa ujian pertama dari seorang yang sungguh-sungguh luhur akan keredahhatiannya. Dengan kerendahhatian tidak saya maksudkan bahwa dia meragukan kekuatannya, atau ragu dalam mempercakapkan opininya. Namun orang-orang yang sungguh luhur memiliki sebuah perasaan… bahwa keagungan tidaklah ada di dalam diri mereka namun melalui diri mereka. “Tidaklah ada“di dalam“diri mereka namun melalui diri mereka” …Ini rahasia mengatasi kesombongan dan hidup dalam kerendahhatian. Pada saat bersamaan, ini adalah rahasia hidup yang memberi buah pada sesama.

Dengan kata lain, amat sukar dibayangkan seorang yang hidup dalam kesombongan bisa berbuah dan berarti pada orang lain, karena fokus hidupnya hanyalah diri sendiri. Sebaliknya, seorang yang rendah hati mampu hidup berarti pada orang lain karena karya Allah yang besar disalurkan melalui dirinya, harta surgawi disimpan dalam bejana tanah liat.

Empat

Kerendahhatian adalah counter-virtue dari kesombongan. Seorang yang rendah hati selalu bergantung pada Allah yang menghadirkan segala sesuatu bukan di dalam dirinya namun melalui dirinya. Kerendahhatian yang sama ditunjukkan oleh Kristus yang merendahkan dan mengosongkan diri-Nya hingga mati di atas kayu salib (Fil. 2:5-8). Di atas kayu salib itulah Ia dicemooh banyak orang, termasuk salah satu penyamun di samping-Nya. Isi cemoohan tersebut memiliki pola yang sama dengan peristiwa pencobaan yang dialami-Nya di padang gurun, “Jika Engkau Anak Allah…” Namun Yesus, dalam kesakitan-Nya tidak menjawab cemoohan itu dengan menunjukkan kekuasaan-Nya; dalam penderitaan Ia tak terjebak ke dalam kesombongan. Sebaliknya, Ia menyerukan penyerahan diri total pada Sang Bapa dan mengungkapkan ketidakmampuan diri-Nya di luar kekuatan Allah, “Eli, Eli, lama sabakhtani? …Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46).

Iri hati (Envy, Invidia)

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yak. 3:16)

“Love looks through a telescope; envy, through a microscope.” (Josh Billings)

“Envy is the art of counting the other fellow’s blessings instead of your own.” (Harold Coffin)

Satu

Dibanding dosa-dosa mematikan lainnya, iri hati atau dengki merupakan dosa yang paling rahasia. Ia tersembunyi di kedalaman hati manusia. Ia bekerja dalam hati dan pikiran manusia melalui proses kalkulasi dan komparasi. Namun apa yang dikalkulasi dan dikomparasi adalah apa yang ada padaku dan apa yang ada pada orang lain, dengan energi besar diarahkan pada yang kedua (apa yang ada pada orang lain). Orang lain yang dimaksud biasanya adalah mereka yang dekat dengan kita, berada di radius yang tak luas. Mengapa? Karena nyaris tak ada gunanya iri pada mereka yang jelas-jelas berada jauh di atas kita (iri pada Bill Gates, misalnya?). Karena itu tepat yang dikatakan oleh Søren Kierkegaard, bahwa iri hati adalah “a small-town sin.” Inilah dosa yang paling subur bertumbuh di dalam komunitas dengan relasi yang dekat. Termasuk tentu: Gereja. Iri hati muncul segera setelah Adam dan Hawa memiliki dua anak, Kain dan Habil.

Itu sebabnya, salah satu perumpaan yang Yesus berikan menohok langsung masalah iri hati, yaitu perumpamaan tentang pemilik kebun anggur yang memberikan upah yang sama pada pekerja yang datang pagi dan datang belakangan. Kepada para pekerja yang datang pagi, si tuan berkata, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat. 20:15). Iri hati-sebagaimana dikatakan Harold Coffin dalam kutipan di atas-adalah seni menghitung berkat orang lain daripada berkat yang kita terima.

Dan dosa semacam ini ternyata juga menghinggapi para murid. Ketika ibu Yohanes dan Yakobus meminta Yesus untuk menempatkan mereka di sebelah kiri dan kanan Yesus tatkala Yesus berkuasa kelak, “marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu” (Mt. 20:24). Mereka marah bukan karena yang dikatakan kedua anak Zebedeus ini tak patut; mereka marah karena iri pada Yakobus dan Yohanes. Mereka marah karena Maria ibu Yakobus dan Yohanes adalah saudara dekat Maria Ibu Yesus, dan kesepuluh murid lainnya tak punya relasi kekeluargaan yang sama dengan Yakobus dan Yohanes.

Alkitab mencatat begitu banyak kisah di mana dosa iri hati menjadi motif yang kuat. Karena iri hati, Kain membunuh Habil adiknya (Kej. 3; 1Yoh. 3:12); Karena iri hati, orang-orang Filistin menutup sumur milik Ishak (Kej. 26:12-15); Karena iri saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf sebagai budak ke Mesir (Kej. 37:22; Kis. 7:9); Karena iri hati, rakyat menyalibkan Yesus (Mat. 27:18); Karena iri para rasul ditangkap dan dipenjara (Kis. 5:17).

Sama seperti dosa kesombongan (Pride), iri hati juga amat akrab dengan orang beragama.

Suatu kali Setan kepala memerintahkan anak buahnya untuk memperdaya seorang rahib yang tinggal di padang gurun di Afrika Utara. Setelah melakukan berbagai tipu daya, utusan-utusan Setan kembali pada pimpinan mereka dengan tangan hampa. Si Setan kepala amat marah sampai akhirnya ia memutuskan untuk menangani sendiri rahib ini. Ketika bertemu dengan orang kudus tersebut, kalimat pertama yang diucapkan Setan adalah, “Aku mendengar rahib temanmu itu segera akan diangkat menjadi uskup Aleksandria.” Mendengar hal ini, mulut sang rahib menggerutu dan mukanya menunjukkan ketidaksukaan. “Iri hati,” kata Setan itu kepada para anak buahnya, “sering menjadi senjata kita terbaik untuk melawan mereka yang mencari kesalehan.”

Dua

Apakah tanda-tanda dari iri hati?

Pertama, iri hati selalu bersifat kompetitif. Ia selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain dengan hasil yang selalu negatif. Dan kompetisi tersebut ternyata hanya muncul di dalam benak orang yang iri hati tersebut, yang amat mungkin tidak dilakukan oleh orang lain yang menjadi sasaran iri hati.

Kedua, iri hati menggerogoti dan merugikan orang yang iri hati dan mereka yang dekat dengannya.

Sebuah kisah tradisional Yahudi menceritakan tentang dua pedagang yang memiliki dua toko yang berseberangan. Masing-masing mengukur keberhasilan penjualan bukan dari jumlah barang yang terbeli, namun atas dasar seberapa lebihnya dari pejualan toko seberang. Allah akhirnya memutuskan untuk menghilangkan persaingan tak sehat ini dengan mengirimkan seorang malaikat-Nya. “Engkau bisa memiliki apa pun yang kau inginkan di dunia,” kata malaikat itu kepada salah satu dari dua orang itu, “umur panjang, banyak anak, kekayaan, kebijaksanaan atau hal lainnya. Hanya ketahuilah bahwa apa pun yang engkau minta, dia akan memperoleh dua kali lipat dari yang kauperoleh.” Setelah berpikir sejenak, orang itu berkata, “Buatlah salah satu mataku buta.”

Atau kisah dari Birma tentang seorang pembuat tempayan yang iri pada keberhasilan temannya yang bekerja sebagai pencuci. Maka, ia mendorong sang raja untuk memerintahkan si pencuci untuk mencuci gajah hitam hingga putih, sehingga dengan demikian sang raja bisa menjadi penguasa gajah putih. Sang raja menyetujui usulan pembuat tempayan ini dan mengeluarkan perintahnya. Si pencuci menjawab bahwa ia tak punya tempayan yang cukup besar yang mencuci gajah hitam itu. Akhirnya sang raja memerintahkan si pembuat tempayan untuk membuat tempayan besar yang cukup untuk menampung gajah tersebut. Namun setiap kali sebuah tempayan besar dibuat, selalu saja pecah karena injakan kaki gajah. Si pembuat tempayan itu menjadi kurban dari rencananya dan iri hatinya sendiri.

Ketiga, iri hati selalu membuat kita buta pada apa yang kita miliki dan kita terima. Orang yang iri hati mungkin saja memiliki dan menerima banyak hal, namun semua yang dia lihat hanyalah apa yang ia tak punya. Apa yang dimiliki orang lain akan selalu lebih baik, lebih banyak dan lebih besar.

Seorang yang terjebak ke dalam dosa kesombongan akan tergoda dengan ucapan seorang salesman, “Saya akan tunjukkan sebuah produk kepada Anda dan beberapa tetangga Anda berkata bahwa Anda tidak mampu membelinya.” Namun iri hati bisa dipakai oleh salesman tersebut dengan berkata, “Saya akan tunjukkan kepada Anda produk yang sudah dibeli oleh tetangga-tetangga Anda.”

Itu sebabnya Sokrates berkata, “Iri hati adalah putri dari kesombongan, pencipta dari pembunuhan dan balas dendam, ibu dari kejahatan rahasia, penyiksa abadi dari kebajikan. Iri hati adalah cairan kotor dari jiwa; sebuah bisa, sebuah racun… yang menggerogoti tubuh dan mengeringkan tulang.”

Keempat, ironisnya, orang yang iri hati selalu pada saat yang sama mengakui keunggulan orang lain. Karena itu, sementara orang yang iri hati selalu dalam keadaan tak puas, ada rasa puas dalam diri orang yang menjadi sasaran iri hati.

Kelima, iri hati menciptakan kesedihan. Dosa-dosa mematikan lainnya, sedikitnya, memberikan “kenikmatan.” Namun iri hati menciptakan nestapa dan kepedihan. Siapa yang mampu bergembira karena ia iri hati pada sesamanya? Tak pernah ada lagi perasaan syukur dan ucapan terima kasih pada Allah.

Tiga

Fulton Sheen menjelaskan bahwa iri hati sebagai dosa yang mematikan telah dijawab oleh Yesus di atas kayu salib, tatkala Ia berkata pada salah seorang penjahat di sebelahnya, “… sesungguhnya pada hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Kepastian ini disampaikan Yesus justru untuk menjawab sikap iri hati penjahat lainnya, yang bahkan hingga detik terakhir hidupnya, masih saja iri pada Yesus yang mendapat perhatian lebih dari para prajurit, masyarakat dan orang-orang terdekat-Nya. Yesus justru berpihak pada penjahat yang mampu mengakui siapa sesungguhnya “Dia yang tersalib” itu. Penjahat itu pula yang mampu menunjukkan kebaikan mutlak Yesus.

Dalam tradisi Kristen, iri hati pertama-tama dijawab dengan kasih (agape, charity). Kasih berarti mengharapkan yang terbaik bagi orang lain. Sebagaimana yang ditulis oleh Thomas Aquinas, “Envy according to the aspect of its object is contrary to charity, whence the soul derives its spiritual life … Charity rejoices in our neighbor’s good, while envy grieves over it.” Dalam hal ini, Aquinas meneruskan yang secara jitu dinyatakan oleh Paulus, “Kasih … tidak cemburu” (1Kor. 13:4). Namun, kedua, selain kasih sebagai keterarahan pada kebaikan orang lain, iri hati juga perlu dijawab dengan pengucapan syukur, rasa puas dan keterbukaan melihat rahmat Allah dalam diri kita. Ketika kita melihat rahmat yang kita terima sejelas kita melihat rahmat yang diterima orang lain, kita sudah mulai beralih dari iri hati. Ketiga, iri hati perlu dikalahkan dengan peduli pada mereka yang kurang beruntung daripada kita.

Dalam salah satu edisi The Christian Herald muncul sebuah kutipan, “Orang yang sibuk menolong orang-orang yang berada di bawah mereka tidak akan punya waktu untuk iri pada mereka yang di atasnya dan mungkin juga tidak ada seorang pun di atas mereka.”

Kemarahan (Anger, Ira)

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Ef. 4:26)

“Anger makes you smaller, while forgiveness forces you to grow beyond what you were.” (Cherie Carter-Scott)

“Genuine forgiveness does not deny anger but faces it head-on.” (Alice Miller)

Satu

Kemarahan (anger) bukanlah dosa yang pertama dalam daftar klasik, namun harus diakui merupakan dosa yang paling sering membawa kematian. Karena itu tepatlah jika dikatakan bahwa, “anger is only one letter short of danger.” Ada selalu bahaya mengintai di setiap kemarahan. Karena kemarahan Kain membunuh Habil; pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia di Alkitab. Karena marah, Yunus menolak kenyataan kasih Allah pada Niniwe. Kotbah Yesus yang pertama di Nazareth menyulut kemarahan umat yang menggiring Yesus ke tepi tebing untuk membunuh-Nya.

Kemarahan itu sendiri sebenarnya berwajah ganda. Di satu sisi, Alkitab mencatat peristiwa marahnya Yesus di pelataran Bait Allah sebagai kemarahan yang justified. Alkitab juga mencatat berulang kali kemarahan Allah pada manusia, sebagaimana dicatat misalnya dalam Mazmur 137 yang amat mengerikan itu:

Ingatlah, ya TUHAN, kepada bani Edom, yang pada hari pemusnahan Yerusalem mengatakan: “Runtuhkan, runtuhkan sampai ke dasarnya!” 8 Hai putri Babel, yang suka melakukan kekerasan, berbahagialah orang yang membalas kepadamu perbuatan-perbuatan yang kaulakukan kepada kami! 9 Berbahagialah orang yang menangkap dan memecahkan anak-anakmu pada bukit batu! (Mzm. 137:7-9).

John Wesley sampai mengatakan bahwa ada beberapa mazmur, termasuk Mazmur 137 ini, yang “tak sesuai untuk telinga orang-orang Kristen.” Di sisi lain, jauh lebih banyak lagi kemarahan yang unjustified, yang berujung pada kekerasan. Bagaimana kita bisa tahu kemarahan semacam apa yang disebut dosa? Dan apa yang bukan?

Dua

Sebuah kemarahan dapat dibenarkan sejauh ia diarahkan pada kejahatan dan ketidakadilan. Yesus marah pada para pedagang di Bait Allah karena mereka menjadikan perdagangan di Bait Allah itu sebagai “sarang penyamun.” Umat yang akan beribadah diwajibkan membeli kurban persembahan melalui mereka. Allah marah kepada bangsa Edom yang melakukan kejahatan kepada bangsa Israel.

Akan tetapi, lebih dari itu, kita juga tak boleh mengabaikan fakta bahwa Allah yang marah pada kejahatan dan ketidakadilan, adalah Allah yang pengampun. Yesus yang begitu berang di pelataran Bait Allah adalah Yesus yang sama, yang berkata bahwa kita harus mengampuni musuh kita tujuh puluh kali tujuh kali (Mt. 18:22).

Tiga

Sekalipun ada saatnya kemarahan dapat dibenarkan, namun mari kita waspada bahwa sebagian besar kemarahan justru tak dapat dibenarkan ketika ia muncul sebagai wujud dari dosa itu sendiri. Pada minggu pertama kita membahas dosa dalam pemikiran Agustinus dan Luther sebagai pembelokan ke arah diri sendiri (incurvatus in se, curved in upon self). Begitu banyak kemarahan muncul dilandasi oleh sikap self-centered ini. Dan kemarahan yang semacam ini muncul lewat dua skenario.

Pertama, kemarahan ditekan (suppressed) agar tidak meledak. Ketika ini terjadi, maka kemarahan akan menggerogoti kesehatan jiwa kita sendiri dan membuat kita hanya bisa mengasihani diri sendiri. Ini orang yang paling malang. Kedua, kemarahan bisa diungkapkan (expressed) tanpa kendali dan mencelakai orang lain. Menekan kemarahan, sekalipun tidak berdampak merusak orang lain, akan merusak diri sendiri. Mengungkapkan kemarahan tanpa kendali, sekalipun mungkin memberi “kepuasan sesaat”, akan merusak orang lain. Pilihan mana pun sama buruknya.

Martin Luther pernah mengatakan, “Saya tak pernah bekerja lebih baik daripada ketika saya diinspirasi oleh kemarahan; karena ketika saya marah saya dapat menulis, berdoa, dan berkotbah dengan baik.” Namun, kita tak boleh lupa bahwa Luther menulis On the Jews and Their Lies karena pengaruh kemarahannya dan yang dihasilkan adalah sebuah traktat yang sukar ditemukan nilai kenabiannya, selain serangkaian usulan untuk membakar sinagoga dan rumah orang-orang Yahudi, memusnahkan buku-buku agama mereka serta mendiskriminasi orang-orang Yahudi.

Berlawanan dengan kemarahan yang dapat dibenarkan, yaitu yang terarah pada kejahatan dan ketidakadilan, kemarahan yang tak dapat dibenarkan dimotivasi oleh ke-aku-an. Kita marah karena orang lain menyinggung ke-aku-an kita. Bahkan, amat mungkin kemarahan yang dapat dibenarkan berubah tanpa disadari menjadi kemarahan yang tak dapat dibenarkan. Faktor waktu atau durasi memegang peranan penting di sini. Itu sebabnya Paulus menasihati jemaat di Efesus,

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” (Efe. 4:26)

Di satu sisi Paulus amat realistis melihat bahwa manusia tidak pernah bisa lepas dari kemarahan. Karena itulah ia tidak menasihati jemaat Efesus untuk tidak marah. Sebaliknya, Paulus mengandaikan bahwa seorang Kristen pada satu titik pasti pernah memiliki rasa marah, “Apabila kamu menjadi marah…” Akan tetapi nasihat Paulus adalah bahwa pada saat kita marah, berhati-hatilah pada dosa yang mengintai. Maka, saat kemarahan datang, “janganlah kamu berbuat dosa.” Di sini Paulus menggaungkan peringatan Allah kepada Kain sesaat sebelum ia membunuh Habil, adiknya:

“Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (Kej. 4-7)

Kemarahan yang tidak segera ditangani, apalagi yang malah dipendam dan ditekan, bisa berbuah kejahatan yang fatal. Karena itu, “janganlah matahari terbenam, sebelum pada amarahmu.”

Empat

Bagaimana memadamkan kemarahan? Pengampunan. Kemarahan sebagai salah satu dosa utama, dijawab oleh Yesus ketika Ia berseru pada Bapa-Nya dalam perkataan pertama-Nya di atas kayu salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lk. 23.34). Prinsip dasar inilah yang musti kita pegang erat-erat. Kemarahan, sekalipun amat manusiawi, pada akhirnya harus dijawab dengan pengampunan. Dan pengampunan itu sendiri merupakan wujud dari sikap ramah (kindness). Itu sebabnya dalam tradisi Kristen, kemarahan (anger) dijawab dengan keramahan (kindness) sebagai the contrary virtue. Keramahan terwujud secara gamblang dalam pengampunan.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efe. 4:32)

Ayat 32 ini hendak memberi antidote bagi kemarahan yang dikatakan pada ayat 26 (dan ayat 31) sebelumnya. Keramahan (kindness, chrestos) adalah sikap positif yang diarahkan pada orang lain, yang muncul dari sikap “penuh mesra” (eusplachnoi), dan dilandasi oleh pengampunan Allah. Dengan kata lain, pengampunan kepada orang lain adalah ekspresi paling jelas dari keramahan. Melalui kebajikan ini, masa lalu tidak berubah, namun masa depan terbentang lebih luas. Melalui kebajikan ini, mungkin orang lain tidak berubah, namun setidaknya dan yang paling penting, diri kita berubah.

Lima

Kisah berikut baik untuk mengakhiri bagian ini.

William H. Willimon suatu kali berjumpa dengan seorang janda di Belfast, Irlandia Utara. Ibu ini seorang Kristen yang taat yang melakukan banyak pelayanan bagi orang miskin di kota yang penuh kerusuhan itu.

Ketika William bertanya kapankah suaminya meninggal, ibu ini menjawab, “Ia terbunuh sepuluh tahun lalu.” “Terbunuh?” Ibu ini menjawab, “Benar. Saya menciumnya sesaat sebelum ia meninggalkan rumah untuk pergi bekerja, sementara putri kami memeluk kakiku.” Ketika ia memasuki mobilnya di depan rumah, dua orang tiba-tiba muncul, dan salah seorang dari mereka menembak suamiku lima kali tepat di mukanya. Pria satunya lagi menembaki kami, namun kami berdua berhasil menyelamatkan diri. Kemudian mereka pergi. Mereka rupanya para-militer, IRA. Suamiku adalah pengawas sebuah penjara lokal.”

Aku menyahut perlahan, “Sungguh menyedihkan… Lalu bagaimana Ibu bisa melanjutkan hidup Ibu sampai detik ini?” Ibu itu menjawab, “Aku berdiri di samping mayat suamiku dan mulai mengucapkan Doa Bapa kami. Aku mengucapkan doa itu sampai pada kalimat soal pengampunan, dan aku berkata pada detik itu, ‘Tuhan, Engkau sudah mengampuni begitu banyak dosaku, dan tentu Engkau memintaku mengampuni orang lain juga. Aku mau berusaha melakukannya, namun Engkau harus menolongku setiap hari untuk tidak dihancurkan oleh kemarahan. Setiap hari.’ Aku membiarkan Allah marah pada mereka, atau menghukum mereka, atau mengampuni mereka, atau apa pun yang Allah mau lakukan. Aku memilih untuk mengampuni… Dan Tuhan menolongku dengan tidak membiarkan kemarahan membunuhku.”

God,

Grant me the serenity to accept

the people I can not change,

The courage to change the person

I can,

And the wisdom to know that is me!

Serenity Prayer Modified

Ketamakan (Greed, Avaritia))

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1Tim. 6:10)

“When it is a question of money, everyone is of the same religion.” (Voltaire)

“Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.” (Mahatma Gandhi)

Satu

Mereka yang menangkap binatang-binatang di Afrika untuk dipelihara di kebun-kebun binatang di Amerika pasti sepakat bahwa menangkap kera Afrika adalah pekerjaan yang paling sukar untuk dilakukan. Namun, tidak demikian dengan orang-orang dari suku Zulu. Mereka dapat menangkap binatang lincah ini dengan mudah karena metode yang mereka pakai didasari pengetahuan tentang perilaku kera Afrika ini. Perangkap yang mereka pakai hanyalah sebutir buah melon.

Biji buah melon adalah makanan kesukaan kera-kera itu. Orang-orang Zulu biasanya membuat lobang pada satu buah melon yang cukup bagi seekor kera untuk memasukkan tangannya dan merogoh biji-biji melon di dalamnya. Seekor kera yang datang ke buah melon itu biasanya memasukkan tangannya dengan mudah dan meraup sebanyak mungkin biji melon di dalamnya. Namun, saat kera itu ingin mengeluarkan tangannya, dia terperangkap. Kepalan tangannya menjadi besar karena banyaknya biji melon di dalamnya. Dan kera itu lazimnya tak sudi melepaskan biji-biji melon itu. Dan dengan mudah orang-orang Zulu itu menangkapnya.

Inilah ilustrasi yang amat jitu menggambarkan apa artinya keserakahan (Greed). Per definisi, menurut kamus Merriam-Webster Online Dictionary, Greed adalah “a selfish and excessive desire for more of something (as money) than is needed” (sebuah keinginan yang berlebihan dan mengarah pada diri sendiri untuk memiliki sesuatu [misalnya uang] lebih dari yang dibutuhkan.” Jadi, keserakahan bukan sembarang hasrat atau desire, namun secara lebih spesifik, hasrat yang terarah pada diri sendiri serta yang berlebihan. Hasrat yang selalu ingin lebih dan lebih. Dan “lebih” ini tak terukur dan tak terkendali hingga melampaui apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Akan tetapi definisi Merriam-Webster barulah menyentuh gejala keserakahan. Jika kita ingin membedah anatomi keserakahan, definisi ini barulah lapis yang pertama. Ia belum sampai menukik pada hakikat terdalam dari keserakahan.

Dua

Menurut definisi leksikal tersebut, apa yang bermasalah dengan keserakahan adalah ketika kebutuhan bercampur-baur dengan keinginan, need dan want, necessity dan desire. Kita menjadi serakah ketika apa yang kita inginkan disamarkan menjadi apa yang kita butuhkan. Padahal kita sebenarnya tak sungguh-sungguh membutuhkannya. Kita hanya menginginkannya.

Beberapa tahun lalu saya tidak perlu membayar Bill Gates untuk bisa menulis makalah yang saya bagi setiap Selasa ini. Saya cukup memakai mesin ketik biasa. Namun, sekarang, selalu ada suara dalam benak saya berkata, “Saya butuh komputer terbaru, supaya pelayanan saya berjalan baik.”

Kalimat “saya butuh…” sesungguhnya identik dengan kalimat “saya ingin…” Batas antara kebutuhan dan keinginan makin tipis dan makin kabur. Hidup di Los Angeles, tak seorang pun menyangkal, membutuhkan mobil. Ini sudah menjadi kebutuhan. Namun, “Saya membutuhkan mobil KIA yang paling murah” dan “Saya membutuhkan mobil BMW M6 Coupe” bukan lagi soal kebutuhan, namun keinginan. Dan kita menyamakannya begitu saja. Kita tak akan kesulitan menemukan justifikasi untuk menyamarkan keinginan ini dengan kebutuhan.

Untuk mempertajam pembahasan, saya merasa perlu untuk meminjam hirarki kebutuhan yang diusulkan oleh Abraham Maslow dalam bukunya, A Theory of Human Motivation dan Toward a Psychology of Being. Maslow memaparkan adanya lima kebutuhan manusia:

5. Self-Actualization

4. Esteem Needs

3. Social Needs

2. Safety Needs

1. Physiological Needs

Kaburnya batas antara kebutuhan dan keinginan sebagian besar terjadi di level terendah kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan fisiologis (makan, minum, rumah, sex, kesehatan, dan lain-lain), dan lebih khusus lagi pada kebutuhan yang bersifat material. Kebutuhan fisiologis yang material ini kemudian dikonkretkan lewat uang atau harta sebagai sarana memenuhi kebutuhan fisiologis tersebut.

Harus diakui bahwa ukuran kebutuhan berkembang seiring dengan perkembangan peradaban dan cara hidup masa kini. Namun kebutuhan yang paling dasar tetap tak berubah (makan, rumah, pakaian). Kebutuhan yang berkembang lebih bersifat augmented (atau pengembangan). Kita masih bisa memahami jika pada tingkat tertentu kita membutuhkan hal-hal yang bersifat augmented (sarana komunikasi, sarana transportasi, dll). Namun, keserakahan bisa terjadi pada tiga level: kebutuhan dasar (basic needs), kebutuhan pengembangan (augmented needs), dan hal-hal lain yang kita inginkan yang sebenarnya bukanlah kebutuhan. Dengan kata lain, keserakahan ternyata juga menyentuh hal-hal yang menjadi kebutuhan dasar kita.

Leo Tolstoy menulis sebuah cerita pendek berjudul “How Much Land Does a Man Need?” tentang seorang petani sukses yang tak puas dengan sebidang tanah pertanian yang dimilikinya. Ia menginginkan lebih dari itu. Suatu hari ia menerima tawaran yang menggiurkan, yaitu, ia bisa memperoleh tanah seluas apa pun hanya dengan membayar 1.000 ruble (mata uang Rusia). Syaratnya hanya satu: Ia berjalan sejak pagi hari dan harus kembali sebelum matahari terbenam. Seluruh tanah yang bisa dijangkaunya menjadi miliknya. Namun, jika ia tak kembali sebelum matahari terbenam, ia tak memperoleh apa pun.

Maka, mulailah di waktu pagi ia berjalan dengan cepat. Di tengah hari ia merasa begitu letih, namun ia terus berjalan untuk memperoleh tanah yang lebih luas. Beberapa saat sebelum matahari terbenam ia sadar bahwa keserakahannya telah membuatnya terlalu lelah. Namun ia terus menggunakan tenaga terakhir untuk kembali ke titik awal sebelum matahari terbenam. Dan akhirnya ia berhasil kembali. Namun, pada saat itu, ia terjatuh, mulutnya mengeluarkan banyak darah. Dan beberapa menit kemudian ia mati.

“How Much Land Does a Man Need?” demikian judul cerpen Tolstoy, yang dijawab di akhir kisah ini: cukup untuk mengubur seorang manusia yang serakah, 1×2 meter per segi.

Yesus mengajarkan kita untuk mendoakan kebutuhan dasar kita, “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mt. 6.11).

Yang pertama, doa ini mengajarkan kita untuk meminta kepada Sang Pemelihara agar memberikan kebutuhan dasar (roti, artos).

Kedua, doa ini mengajarkan agar permintaan itu diukur dengan prinsip “secukupnya,” tidak lebih apalagi berkelebihan, tidak kurang apalagi berkekurangan.

Ketiga, doa ini juga mengimplikasikan bahwa “meminta” mendorong “mengusahakan.” Kita tidak boleh meminta sesuatu yang tak mau kita perjuangkan.

Keempat, doa ini memusatkan permintaan dan perjuangan kita pada kebutuhan hari ini. Perencanaan penting untuk dilakukan, namun tidak boleh menghilangkan keyakinan kita bahwa Allah adalah pemilik masa depan.

Kelima, aspek komunal menjadi penting (“kami”). Doa Bapa Kami bukan doa individual, namun doa komunal dan malah sosial. Mintalah pada Sang Pemelihara untuk memberikan kebutuhan dasar yang secukupnya pada diri Anda dan orang lain… serta usahakanlah apa yang Anda minta itu.

Dengan kata lain, doa ini mengajarkan prinsip: “kebergantungan pada Sang Pemelihara akan kebutuhan dasar yang secukupnya bagi semua orang.” Lewat prinsip ini tak ada celah sama sekali untuk keserakahan (Greed). Karena keserakahan mengimplikasikan peleburan kebutuhan dan keinginan; karena keserakahan juga mengganti prinsip cukup dengan lebih; selain itu, karena keserakahan menghilangkan pentingnya dependensi kita dari Sang Pemelihara dan mengutamakan usaha manusia; keserakahan menghilangkan kekuatan dari pengharapan masa depan dan menggantinya dengan usaha manusia; akhirnya, keserakahan bisa dengan mudah berkolaborasi dengan pementingan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain.

Tiga

Namun meleburnya batas antara need dan want bukanlah persoalan utama keserakahan. Dalam kenyataannya, keserakahan lebih serius dari itu. Keserakahan mengandung persoalan lebih dalam karena menggeser pusat hidup manusia dari hidup-bagi-sesama menjadi hidup-bagi-aku dan bahkan sesama-bagi-aku. Simbol hidup seorang Kristen sebagai saluran-berkat berubah menjadi bejana-berkat yang sekadar menampung dan menikmati sendiri berkat Allah. Dan, lebih celaka lagi, bejana-berkat tersebut amatlah plastis dan elastis. Padahal, kepenuhan hidup dicapai bukan dengan menampung berkat Allah, namun dengan menyalurkannya. Semakin banyak yang disalurkan, semakin penuhlah saluran tersebut.

Terdapat dua laut di Palestina. Yang pertama amat menyegarkan dan begitu banyak ikan hidup di dalamnya. Pepohonan tumbuh subur di sekitarnya dan anak-anak bermain di tepian. Sungai Yordan mengisi laut ini dengan air dari pegunungan. Semua jenis kehidupan bergembira karena ia memberi hidup. Namun Sungai Yordan memberikan airnya ke laut yang kedua. Tidak ada ikan mampu hidup di dalamnya, tak ada pepohonan atau anak-anak yang bermain di tepian. Tak seorang pun dapat minum airnya. Apa yang membedakan keduanya? Bukan Sungai Yordan yang menyediakan air bagi keduanya, bukan jenis tanah yang berbeda.

Hal ini yang membuat perbedaan. Laut atau danau Galilea menerima air dari Sungai Yordan namun tidak menahannya. Setiap tetes air yang mengalir ke dalamnya segera mengalir ke luar kembali. Yang diterima dan yang diberikan seimbang. Laut yang satunya lagi menahan air yang diterimanya. Setiap tetes yang diberikan Sungai Yordan menetap di dalamnya. Laut Galilea memberi dan menghidupkan. Laut lainnya tidak memberi apa-apa. Namanya adalah Laut Mati.

Keserakahan dengan mudah menjauhkan sesama dari diri kita. Sesama menjadi instrumental, alat untuk memenuhi keserakahan kita. Bahkan kita rela mengorbankan sesama untuk memenuhi keserakahan tersebut. Hasil akhir dari budaya yang membiakkan keserakahan adalah ketidakadilan.

Sebuah comic strip menggambarkan dalam empat kolom empat jenis manusia yang hidup di dunia yang tak adil dan serakah ini. Kolom pertama adalah orang yang bertanya, “Hari ini apakah aku makan atau tidak?” Kolom kedua: “Hari ini makan apa aku?” Kolom ketiga adalah manusia yang bertanya, “Hari ini makan di mana aku?” Yang keempat: “Hari ini makan siapa aku?”

Atau juga perhatikanlah hasil polling pendapat yang dikutip oleh James Patterson dan Peter Kim dalam buku mereka, The Day America Told the Truth (1991).

Ketika ditanya: “Apa yang mau Anda lakukan untuk memperoleh 10 juta USD?” dua per tiga orang Amerika setuju dengan setidaknya salah satu jawaban berikut ini:

  • Mau mengabaikan seluruh keluarganya 25 %
  • Mau meninggalkan gereja mereka 23 %
  • Mau mengorbankan kewarganegaraan mereka 16 %
  • Mau meninggalkan pasangan hidup mereka 16 %
  • Mau mengabaikan kesaksian pengadilan dan membiarkan seorang pembunuh bebas 10 %
  • Mau membunuh seorang yang tak mereka kenal 7 %
  • Mau melepaskan anak mereka untuk diadopsi 3 %

Tidak pernah dalam sejarah peradaban manusia, kita dikelilingi oleh kebudayaan di mana keserakahan menjadi nilai hidup yang patut dikejar. Tidak ada yang keliru dengan usaha mendapatkan “apa yang kita inginkan.” Masalahnya, kita tidak tahu apa yang kita inginkan, sampai budaya konsumerisme memberi tahu kepada kita apa yang seharusnya kita inginkan. Budaya iklan tidak hanya memberi informasi; ia juga melakukan formasi. Iklan membentuk karakter kita menjadi lebih serakah, menciptakan sebuah bentuk kehidupan yang wajib kita inginkan. Dan di Amerika, formasi melalui iklan ini memuncak pada sebuah annual orgy bernama Natal (atau Lebaran di Indonesia).

Empat

Akhirnya, lapis terdalam keserakahan adalah idolatri atau penyembahan berhala, yaitu digantinya Allah dengan yang bukan Allah, dalam hal ini materi dan harta. Rasa haus pada Allah tergantikan dengan rasa haus pada harta. Paulus dua kali menyamakan keserakahan dengan penyembahan berhala (idolatri).

Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu … dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. (Kol. 3.5)

Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada… orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. (Efe. 5.5)

Penyamaan keserakahan dengan idolatri yang dilakukan Paulus tepat dan menggemakan Yesus sendiri yang mendesak manusia yang menentukan pilihan antara Allah dan Mamon.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Mt. 6.24; cf. Lk. 16.13)

Melayani Allah adalah sebuah panggilan yang menuntut dua tangan. Kita tidak akan mampu melakukan dengan satu tangan yang tetap menggenggam harta milik kita. Dalam hal ini Lukas 18 dan 19 memegang peranan penting untuk menunjukkan apa artinya melepaskan diri dari keserakahan.

Lukas 18 memuat kisah seorang kaya yang telah melakukan seluruh kewajiban agama namun tetap tak mampu mendapatkan hidup yang kekal. Yesus memintanya untuk menjual seluruh harta, membagikannya, datang pada Yesus dan mengikutinya. Orang kaya tersebut mampu melakukan hukum agama mana pun namun tak bersedia melakukan hukum Kristus. Karena itu, “ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya” (Lk. 18.23).

Segera setelah itu Yesus berjumpa dengan Zakheus, seorang serakah yang menumpuk kekayaan secara berlebihan. Perjumpaan dengan Yesus membuatnya berubah dan ia “menerima Yesus dengan sukacita” (Lk. 19.6). Akhirnya, ia bersedia memberikan setengah miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan seluruh uang hasil perasannya emat kali lipat. Panggilan mengatasi keserakahan dan melayani Allah sepenuh hati mustinya menjadi moment penuh kegembiraan dan kelegaan, bukannya kepedihan dan dukacita.

Di atas kayu salib, keserakahan dijawab oleh Yesus yang berseru kepada Bapa-Nya, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Lk. 23.46). Ini merupakan seruan dari seorang yang mengarahkan seluruh hidupnya pada Allah, puas dengan apa yang sudah dimilikinya, serta mengetahui bahwa seluruh hidupnya adalah milik Sang Bapa.

Selain itu, keserakahan perlu dijawab dengan kemurahhatian (generosity atau gratitude). Kemurahhatian menjadi ciri dari konsep “kaya” di dalam Alkitab (bdk. 2Kor. 8). Kita tidak perlu menjadi kaya dalam harta untuk menjadi kaya dalam kemurahhatian. Karena sekecil apa pun yang kita miliki, kita bukanlah pemilik mutlak dari harta kita. Seluruhnya adalah milik Allah. Ucapan seorang rahib bernama Serapion mungkin memperjelas kebenaran ini, “Saya menjual Alkitab saya dan memberikan uangnya kepada orang miskin, karena buku ini mengajar saya untuk menjual semua milik saya dan memberikannya pada orang miskin.”

Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mt. 5.28)

“True love never dies for it is lust that fades away. Love bonds for a lifetime but lust just pushes away.” (Alicia Barnhart)

“Love talks and talks. Lust is brief and to the point.” (Mason Cooley)

Satu

Seiring dengan semakin seringnya saya memimpin acara retreat anak-anak muda beberapa tahun silam, saya mulai menemukan trik untuk membangunkan peserta retreat yang tertidur selama acara (tentu saja kesalahan terbesar ada pada pembicara yang tidak mampu menarik minat mereka). Trik yang saya pakai adalah, di tengah-tengah pembahasan sebuah topik, saya tiba-tiba berteriak keras: “Seks!” Hampir bisa dipastikan anak muda yang tertidur itu akan terperanjat dan bangun dengan muka berseri. Tadinya saya pikir trik ini bekerja baik karena saya berteriak keras. Tapi, bahkan, ketika saya mendekati anak muda yang tertidur itu dan berbisik perlahan, “Seks …” ternyata banyak pula yang bereaksi sama. Bangun dan segar kembali.

Kita hidup di sebuah masa di mana seks menjadi sebuah komoditi yang luar biasa menguntungkan. Iklan-iklan memanfaatkan sensualitas grafis, dengan memajang saleswomen (dan salesmen) muda yang menyegarkan untuk menjual apa pun, mulai dari kopi hingga mobil. Kondom tersedia bebas di mana-mana. Alat-alat “Keluarga Berencana” (KB) berubah fungsinya menjadi alat-alat “Keluarga Belakangan.” Film-film erotis dan majalah porno mudah dibeli. Semua ini ditambah dengan pola hidup seks bebas di kalangan anak muda. Segera setelah seorang anak mencapai usia yang layak memiliki driver license, segera pula mereka memiliki “portable bedroom” (baca: mobil). Semua ini menjadi lahan yang subur bagi Lust untuk berkembang pesat.

Akan tetapi, tentu saja Lust bukan monopoli anak muda. Sekalipun, saya percaya, orang-orang lanjut usia memiliki keuntungan seiring dengan perubahan fisik mereka untuk tidak terlalu pusing dengan urusan ini, berulang kali pula kita mendengar berita tentang, misalnya, seorang kakek berusia 80 tahun yang melakukan sexual abuse terhadap seorang gadis belia.

Danni Ashe, bekas model dan penari telanjang menyatakan keluar dari dunia model selamanya. Apa yang membuatnya berubah? Apakah sebuah perubahan spiritual? Masalah legal? Ingin menjadi contoh yang baik bagi anak-anak? Tidak. Dia keluar dari bisnis modelling karena ia mengaku memperoleh uang jauh lebih banyak melalui situs porno internet yang diciptakannya.

Profil statistik tentang pelecehan seksual di Amerika Serikat menginformasikan kita betapa berkuasanya nafsu birahi ini.

  • Setiap 2½ menit terjadi pelecehan seksual di Amerika Serikat;
  • Satu dari enam perempuan Amerika menjadi korban percobaan atau tindakan perkosaan dan 10% korban adalah laki-laki;
  • Pada tahun 2003-2004 rata-rata tahunan perkosaan adalah 204,370 kali.
  • Sekitar 44% korban perkosaan berusia di bawah 18 tahun, dan 80% berusia di bawah 30 tahun.

Tentu saja pemberlakukan hukum yang ketat dan keras dapat menurunkan angka kekerasan seksual secara signifikan (turun 64% sejak 1993), namun penegakan hukum tetap tidak mengatasi persoalan Lust. Karena masalah Lust pertama-tama adalah masalah mental dan spiritual.

Dua

Apa sesungguhnya problem dari nafsu birahi yang salah? Ada beberapa hal yang patut kita perhatikan dan sadari.

Pertama, di satu sisi, manusia lain diperlakukan sebagai objek pemuas hasrat dan bukan sebagai manusia seksual yang utuh dan otonom. Istilah-istilah peyoratif yang lazim dipakai di Indonesia seperti “cewek bispak” (cewek yang bisa dipakai) atau “perek” (perempuan eksperimen) paling jelas menunjukkan perlakuan terhadap sasaran Lust sebagai objek atau benda. Tanpa pengobjekan manusia, dunia industri pornografi tidak bisa berkembang sama sekali. Karena sesama menjadi objek, maka Lust juga bersifat impersonal. Bersamaan dengan pengobjekan manusia, Lust juga menyimpan masalah kuasa (Power-over). Lust menguasai seseorang dengan membuatnya menguasai orang lain yang harus ditundukkan.

Kedua, di sisi lain, fokus dari nafsu berahi yang salah adalah terjadinya pemuasan diri sendiri. Demi memuaskan diri sendiri, sesamalah yang menjadi ongkos. Dan inilah inti dari seluruh bisnis seks dan pornografi yang begitu marak di dunia maya maupun dunia real.

Ketiga, sama seperti dua dosa mematikan lain yang berada di dalam kelompok “cinta berlebihan pada hal-hal duniawi” (excessive love of earthly things), yaitu keserakahan dan kerakusan, nafsu birahi bersifat progresif, jika tidak diatasi. Yakobus menulis, “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yak. 1.15). Kata “keinginan” sebenarnya menunjuk pada Lust (Grk.: epithumia), yaitu sebuah rasa haus atau kecanduan berlebihan yang berpusat pada kepentingan diri sendiri. Ketiga dosa mematikan ini sama-sama menimbulkan rasa haus yang celakanya dianggap dapat diatasi dengan cara minum air laut.

Penyiar radio, Paul Harvey, pernah menceritakan bagaimana orang eskimo membunuh seekor serigala. Pertama, orang Eskimo itu mengolesi pisau panjangnya dengan darah binatang dan membiarkannya membeku. Kemudian ia menambahkan lapisan darah lainnya, demikian seterusnya, hingga pisau itu sepenuhnya terselimuti darah binatang yang membeku. Kemudian, pemburu itu menancapkan gagang pisaunya ke tanah menghadap ke atas. Ketika seekor serigala datang karena mengikuti naluri dan indera penciumannya yang tajam, binatang buas ini segera menjilati darah di pisau itu. Ia mulai menjilati dengan cepat dan penuh nafsu. Semakin lama semakin keras, hingga pada satu titik, lidahnya sendiri tergores. Namun karena nafsu yang kuat dan udara dingin, ia tak akan merasa kesakitan dan terus saja menjilati darah yang sebenarnya keluar dari lidahnya. Begitu seterusnya—hingga di kala fajar orang Eskimo itu dengan mudah mendapatkan binatang buruan yang telah mati.

Keempat, Lust berlawanan dengan kasih (Love). Satu-satunya titik-temu mereka ada pada seks, namun keduanya memperlakukan seks secara berlawanan. Lust adalah seorang pelari 100 meter, sedang Love adalah seorang pelari marathon. “Love talks and talks. Lust is brief and to the point.” (Mason Cooley) Sementara “Kasih tidak berkesudahan” (1Kor. 13.8), nafsu birahi amat cepat disudahi. Cinta kasih mengunggulkan penghargaan pada yang dicintai, komunikasi, komitmen, penyerahan diri, dan passion. Lust mem-bypass seluruhnya dan langsung masuk ke passion, tanpa penghargaan, komunikasi, komitmen dan penyerahan diri. Ia seperti setangkai bunga yang elok namun dipetik dari pohon dan terpisah dari tanah tempat ia hidup. Ia tampak indah dan hidup, namun pada hakikatnya mati. Dan persoalan pornografi masa kini adalah ketika batas tegas antara Lust dan Love menjadi begitu kabur dan samar. “Making love” pada masa kini sama artinya dengan “Having sex.”

Yang menarik, kelima, Lust yang poros utamanya adalah seks, justru bersifat aseksual atau malah anti-seksual. Partisipasi manusia dalam kreativitas Allah (procreation) sebagai esensi utama seks kini hilang dalam Lust. Yang tersisa hanyalah daging tanpa roh, wadah tanpa isi.

Keenam, yang terakhir, Lust merusak masyarakat dan peradaban. Karena Lust, maka perkosaan marak, ia bertanggung jawab atas begitu banyaknya aborsi, lahirnya bayi-bayi yang tak dikehendaki, menyebarnya penyakit-penyakit kelamin (STD/PMS). Kita berusaha menciptakan surga di atas bumi, namun tanpa sadar yang muncul adalah neraka.

Tiga

Bagaimana mengatasi masalah Lust? Tentu saja yang pertama-tama perlu kita lakukan adalah kembali pada apa yang sesungguhnya menjadi makna paling fundamental dari seks itu sendiri. Masalahnya, seks dalam Alkitab dan dalam etika Kristen selalu berwajah ganda. Di satu sisi, seks merupakan ciptaan Allah yang membuat manusia mampu berpartisipasi dalam kreativitas Allah. Juga, tubuh dalam kekristenan bersifat baik dan seks dipandang indah dalam konteks komitment pernikahan, sehingga melaluinya kita bisa memuliakan Allah (1Kor. 6.19-20). Namun, di sisi lain, seks juga menjadi pintu masuk ke dalam dosa perzinahan (adultery). Karena itu, gereja selama berabad-abad terlalu memusatkan perhatian pada dimensi negatif dari seks dan seksualitas dan melupakan makna spiritual dari seks secara lebih memadai.

Ambiguitas dari seks ini sesungguhnya mencerminkan ambiguitas kemanusiaan itu sendiri, yang diciptakan secara indah namun mengingkari kemanusiaannya sendiri karena kuasa dosa. Dengan kata lain, seks itu tak salah dan indah, jika memang dirayakan dalam wahana yang tepat, yaitu pernikahan, dan dilandasi dengan cinta kasih yang sehat.

Sementara pernikahan yang penuh kasih dan komitmen adalah solusi terhadap masalah Lust, solusi ini tak tersedia dengan begitu saja bagi mereka yang belum menikah. Itu sebabnya Alkitab mengajarkan bahwa pengendalian diri menjadi jawaban yang perlu dilatih dengan penuh disiplin. “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2Tim. 2.22). Nasihat ini menunjukkan triple-action yang perlu sekuat tenaga diupayakan: 1. Menjauhi Lust; 2. Mengejar hal-hal positif; 3. Menjaga kemurnian hati.

Akhirnya, Kristuslah jawaban dari pergumulan manusia melawan Lust dan dosa-dosa lain. Ia adalah air hidup yang menyegarkan dan memberi hidup. Ia berkata pada seorang perempuan dari Samaria yang berjuang dengan Lust sepanjang hidupnya,

Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Yoh. 4.13-14)

Yesus mengenali tabiat dari Lust, yaitu rasa haus yang tak pernah terpuaskan. Dan itulah persoalan utama perempuan ber-”suami” lima (atau enam) yang dijumpaiNya di tepi sumur Yakub itu. Sang lelaki yang haus secara fisik itu menawarkan kelegaan kepada perempuan yang haus secara spiritual itu.

Yesus yang sama yang di atas kayu salib menyerahkan ibuNya pada seorang muda yang menjadi muridnya dan mempercayakan anak muda itu kepada ibuNya, “Ibu, inilah, anakmu! …Inilah ibumu!” (Yoh. 19:26-27). Di atas kayu salib Yesus menunjukkan bahwa relasi laki dan perempuan tak harus dimaknai dengan passion atau bahkan Lust, namun sungguh-sungguh relasi kasih, penghargaan dan komitmen.

Rakus (Gluttony, Gula)

“Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Fil. 3:9)

“Gluttony is not a secret vice.” (Orson Welles)

“Glutton: one who digs his grave with his teeth.” (French Proverb)

Satu

Surat kabar Ottawa Citizen (22 Desember 2000) melaporkan sebuah pesta Natal besar-besar dari sebuah firma keuangan internasional yang diselenggarakan di London. Seluruh pegawai dari penjuru dunia diterbangkan ke London. Tema Natal yang dipakai: Seven Deadly Sins! Ruangan pesta begitu megah dan mewah, dengan sepuluh bar penuh dengan makanan. Para penghibur berbaring di lantai karpet dengan mulut terbuka menerima terus makanan di dalam mulut mereka. Reporter yang meliput peristiwa ini mengatakan bahwa apa yang terjadi mirip dengan pesta jamuan besar-besaran yang lazim dilangsungkan pada masa kejayaan Romawi ribuan tahun lalu.

Yang tak ada di London saat itu adalah ruangan “vomitaria” yang selalu ada di jamuan kerajaan Romawi, yaitu tempat di mana mereka yang makan dan minum terlalu banyak dapat masuk ke ruangan itu dan memuntahkan apa yang ada di dalam perut mereka, sebelum melanjutkan makan mereka. Seorang filsuf Roma klasik, Seneca, merasa begitu jijik dengan kebiasaan ini dan menulis, “Mereka muntah untuk makan, dan makan untuk muntah.”

Saya samar-samar masih ingat bahwa beberapa belas tahun lalu seorang boss diidentikkan dengan perut buncit dan orang melarat dengan tubuh kurus-kering. Tapi kini, di zaman dietaholicism ini, seorang boss justru tercitrakan lewat seseorang yang ramping dan punya banyak waktu, perhatian dan uang untuk membeli makanan yang low-anything (low sugar, low carb, low calorie dan sebagainya), dan banyak orang-orang miskin yang berperut buncit karena hanya mampu menyantap lebih banyak makanan berkarbohidrat tinggi (ingat stereotipe petugas pemerintahan tingkat rendahan yang gemuk-gemuk). Sekalipun tentu saja tubuh kurus-kering tetap menjadi tanda kemiskinan yang ekstrim. Pencitraan yang bergeser ini sesungguhnya juga mengubah pemahaman kita mengenai kata Gluttony.

Gluttony lazimnya dipahami sebagai kerakusan atau keserakahan pada makanan. Dua kutipan di atas mencerminkan pemahaman atas definisi ini. Kerakusan biasa tampil lewat citra seseorang yang gemuk karena kebiasaan makan yang tak terkendali. Itu sebabnya, obesitas kini menjadi masalah amat besar masyarakat Amerika.

Sebanyak 58 juta penduduk Amerika menderita kelebihan berat badan; 40 juta sudah tergolong obese. Peningkatan anak-anak Amerika sejak tahun 1982 juga terlihat drastis.

Pada tahun 1982 hanya ada 4% anak yang obese, meningkat menjadi 16% pada tahun 1999, dan meningkat lagi menjadi 25% pada tahun 2001.

Akan tetapi banyak penafsir tujuh dosa mematikan pada masa kini yang merenungkan kehidupan di zaman dietaholic ini yang juga memasukkan mereka yang secara berlebihan menaruh perhatian pada diet demi tubuh yang ramping sebagai contoh dari Gluttony. Dengan kata lain, Gluttony tidak pertama-tama menjadi persoalan jumlah makanan yang dikonsumsi, namun lebih pada cara kita menyikapi makanan. Seseorang yang menaruh perhatian berlebihan pada takaran carb yang serendah mungkin hingga rela menjangkau toko penjual bahan-bahan organik yang berada di ujung kota terkesan bagi saya sebagai seorang yang “rakus” pula.

Singkatnya, mengapa Gluttony menjadi satu dari tujuh dosa mematikan sesungguhnya terletak pada aspek berlebihannya (excessiveness) dan bukan hanya pada jumlah yang disantap. Perhatian yang berlebihan pada makanan – entah yang tampil lewat konsumsi berlebihan maupun diet berlebihan – sama-sama terjatuh ke dalam dosa Gluttony, dan keduanya mengingkari makna sejati dari makan.

Dua

Jadi, Gluttony kini memperoleh maknanya yang lebih luas daripada sekedar kerakusan. Ia menjebak karena membuat manusia memiliki perhatian dan fokus secara berlebihan pada makanan, entah dengan menyantapnya secara rakus atau terlalu mencurigainya melalui program-program diet. Mereka yang terjebak ke dalam kedua model Gluttony ini sama-sama berada di bawah kritik Paulus yang berkata bahwa “Tuhan mereka ialah perut mereka” (Fil. 3.9) dan bahwa mereka “tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri” (Rom. 16.18).

Gluttony secara teologis juga bermasalah karena ia menggeser makna “makan” dari tujuan sejatinya. Pertama, Alkitab selalu memperlihatkan bahwa makan adalah cara alami yang dipakai Allah untuk memelihara (providing) manusia. Ia adalah Allah pemberi manna yang setia hari demi hari. Kerakusan menolak providensia Allah, yaitu ketika fokus kita hanya pada apa yang akan kita makan.

Bilangan 11 mencatat bagaimana orang-orang Israel berubah menjadi rakus dan menolak providensia Allah yang memberikan manna setiap hari bagi mereka dan malah menghendaki daging seperti yang mereka peroleh selama di Mesir. Ketika Allah akhirnya mengirimkan burung puyuh sebagai daging yang bisa mereka makan, demi membuktikan providensiaNya, orang Israel dengan amat rakus mengumpulkan burung-burung puyuh itu sebanyak mungkin dan menyimpannya untuk jaminan hari-hari mendatang.

31 Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi.

32 Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu – setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer – kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan.

33 Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar.

34 Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus. (Bil. 11.31-34)

Kedua, Gluttony secara teologis bermasalah karena seorang yang rakus hanya menikmati makanan tanpa makna kebersamaan komunal, “food without friends” (William R. White). Dan bukan hanya hilangnya kebersamaan komunal, Gluttony merupakan dosa yang menyedihkan ketika diperhadapkan dengan realitas sosial dan global, di mana 852 juta orang kelaparan di seluruh dunia, 36.3 juta di antaranya hidup di Amerika Serikat, termasuk 13 juta anak-anak. Belum lagi, setiap tahunnya, 11 juta anak-anak di bawah lima tahun mati karena masalah yang terkait dengan kurangnya pangan.

Ketika jutaan orang tak pernah terpuaskan karena tiadanya makanan, Glutonny membuat orang juga tak pernah terpuaskan sekalipun di hadapannya tersaji makanan yang terlalu melimpah dan tak pernah habis. Ironi ini mendesak kita untuk mengafirmasi bahwa Gluttony adalah sebuah dosa yang mematikan.

Thomas Aquinas mempertegas prinsip bahwa Gluttony bukan sekedar masalah jumlah makanan yang berlebihan (nimis), namun juga tampil lewat empat bentuk lain: terlalu cepat (praepropere), terlalu mahal (laute), terlalu tergesa-gesa (ardenter) atau terlalu mewah dan lezat (studiose). Berdasarkan ini agaknya kita—bukan hanya saya yang memang sudah jelas selalu terjebak ke dalam dosa ini—memang amat mudah jatuh ke dalam dosa Gluttony.

Tiga

Kerakusan tidak boleh disamakan dengan perayaan (feasting). Pesta makan dirayakan di dalam kebersamaan dengan komunitas di mana pemeliharaan Allah dinikmati bersama-sama.

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. (Yes. 55.1-2)

Pesta jamuan makan selalu menjadi modus yang dipakai oleh Yesus untuk menunjukkan bahwa pemeliharaan Allah dinikmati dalam kebersamaan (Mt. 11, 22, ; Mk. 14; Lk. 5, 14, 16; Yoh. 2, 7). Bahkan Perjamuan Kasih menjadi model persekutuan yang merayakan keselamatan dari Allah. Dan Yesus melambangkan diriNya sendiri sebagai Roti Hidup dan Air Hidup … yang menjadi elemen utama dari perjamuan makan. Akibatnya, Yesus sering disalahtafsirkan sebagai seorang yang rakus atau pelahap, sementara Yohanes Pembaptis dipandang sebagai seorang asketis.

Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap (glutton) dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa … (Mat. 11.18-19).

Terlalu banyak orang Amerika kini makan tanpa makna kebersamaan. Makan menjadi tindakan solitary belaka. Makanan disantap “on the go” atau “on the run.” Dapur dan ruang makan kini banyak didesain bukan lagi untuk keperluan makan bersama seluruh keluarga namun untuk memenuhi kebutuhan masing-masing anggota keluarga yang tak dapat makan bersama lagi. “Duduk di sekitar meja makan” telah menjadi peristiwa langka.

Sebagaimana Yesus mementingkan perjamuan makan bersama, Ia juga menganggap bahwa puasa merupakan tindakan religius yang berfaedah. Melalui puasa manusia belajar untuk menyadari bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja” melalui dari pemeliharaan Allah. Puasa juga berfaedah untuk menjaga kepekaan kita pada kebutuhan sesama, selain juga kebutuhan spiritual kita sendiri akan Allah.

Dengan demikian, baik feasting maupun fasting merupakan wahana spiritual seorang Kristen untuk mengikutsertakan sesama dan Allah dalam kegiatan makan mereka. Feasting dan fasting adalah jawaban atas Gluttony yang muncul baik lewat kerakusan maupun diet berlebihan, yang keduanya sama-sama menghapus sesama dan Allah dari tindakan makan dan meletakkan fokus berlebihan pada makan untuk diri sendiri. Ketika aspek teologis dan komunal ini dihilangkan, maka Gluttony berubah wajahnya dari sebuah dosa menjadi sebuah “disorder” atau “masalah psikis.” Dan salah satu alasan mengapa semakin sedikit orang berkotbah soal ini adalah karena percakapan tentang Gluttony telah diambil-alih oleh para dokter, pelatih kebugaran, instruktur aerobik, dan pembicara pengembangan kepribadian. Craving kini lebih menjadi persoalan psikis atau medis tinimbang moral dan spiritual.

Dalam tradisi Kristen, Gluttony dilawan dengan pembatasan (temperance), sebagaimana nafsu birahi dilawan dengan pengendalian diri (self-control). Jika pengendalian diri mengatur diri sendiri agar sesuai dengan citra dan fitrah kemanusiaan kita, pembatasan mengatur apa yang kita konsumsi agar sesuai dengan kapasitas fisik kita. Tidak lebih dan tidak kurang. Dan inilah inti dari doa Yesus, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya;” Yesus yang sama yang di atas salib berteriak di ujung batas hidupNya, “Aku haus” (Yoh. 19:28). Sang Air Hidup yang menawarkan kelegaan spiritual menghadirkan sosok kemanusiaan yang membutuhkan air (dan makanan) sekedar untuk memenuhi kebutuhan fisikNya. Dan dengan teriakan kehausanNya itu Ia mewakili umat manusia yang juga dahaga dan lapar karena kekurangan bahan pangan, sementara segelintir orang berpesta-pora tanpa peduli pada sesamanya.

Kemalasan (Sloth, Acedia)

Si pemalas berkata: “Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan.” (Amsal 22:13)

“Sloth views the towers of Fame with envious eyes, desirous still, still impotent to rise.” (William Shenstone)

“Sloth is the sin that believes in nothing, cares for nothing, seeks to know nothing, interferes with nothing, enjoys nothing, and remains alive because there is nothing for which it will die.” (Henry Fairlie)

Satu

Salah satu binatang yang paling ingin saya lihat di kebun binatang adalah Kungkang atau Sloth. Kungkang adalah salah ciptaan Allah yang paling lamban dan diam. Binatang berkuku dua ini mampu menghabiskan delapan belas hingga dua puluh jam per hari hanya untuk bergantung terbalik, tidur atau sekedar diam, di sebuah dahan. Seekor kungkang memiliki kecepatan rata-rata berjalan lima meter per jam. Begitu lambannya ia hingga seorang penulis mengatakan bahwa daun-daun benalu-benalu dapat tumbuh menjalar melewati bulunya hingga ia dapat menyedot nutrisi dedaunan itu. Sungguh berbeda dengan karakter Sid, kungkang lincah dan bawel alam film Ice Age.

Amat mungkin binatang ini dinamai Sloth karena mencerminkan dosa mematikan yang ketujuh, yang memiliki nama yang sama. Karakter kemalasan dan kelambanan yang ditunjukkan oleh seekor Kungkang mengingatkan kita pada seorang yang terjebak ke dalam dosa Sloth. Akan tetapi, sesungguhnya Sloth lebih dari sekedar kemalasan. Sloth digolongkan ke dalam tujuh dosa yang mematikan karena ia lebih menunjuk pada “kemalasan” spiritual. Sloth merupakan jenis dosa yang ketiga -selain perveted love (Pride, Envy dan Anger) dan excessive love toward earthly things (Greed, Lust dan Gluttony)- yaitu the Insuffient Love, Kasih yang tak memadai.

Lebih lagi, ia merupakan masalah spiritual karena ia merusak hakikat dan citra kemanusiaan yang diciptakan Allah sebagai homo faber, manusia pekerja. Sloth lebih dari sekedar kemalasan, juga karena ia menampilkan sikap tak acuh, raibnya pathos atau passion, terhadap dunia yang dihuninya. Ia adalah nama lain dari apati.

Dua

Elie Wiesel, salah seorang dosen saya di Boston University, School of Theology, yang terkenal dengan bukunya, Night, mengarang buku lain yang berjudul The Town Beyond the Wall. Buku ini merupakan sebuah novel sekaligus autobiografinya. Tokoh novel ini bernama Michael, seorang survivor tragedi Holocaust, yang melakukan perjalanan berbahaya ke kota asalnya di Hungaria. Apa yang hendak dicarinya, setelah pengalaman mengerikan di Holocaust itu? Wiesel menulis, Michael, dengan cara yang aneh, memahami kebrutalan para penyiksa dan penjaga penjara, namun apa yang menghantuinya dan apa yang sungguh-sungguh membuat ingin kembali ke kota asalnya adalah sesuatu yang tak dapat dipahaminya. Ada seorang pria yang tinggal di seberang jalan di depan Sinagogenya. Pria ini mengintip lewat tirai jendelanya, hari demi hari, sementara ribuan orang Yahudi diarak ke dalam gerbong kereta maut. Ia menampilkan wajah tanpa belas kasihan, tanpa rasa senang, tanpa kejutan, dan bahkan kemarahan atau minat. Impassive, dingin, impersonal.

Wiesel lantas melanjutkan bahwa di dalam diri Michael terdapat ikatan antara penyiksa yang brutal dan para korban, sekalipun ikatan yang negatif. Setidaknya mereka berada di semesta yang sama. Namun tidak dengan si pengintip ini. “Ia sungguh-sungguh hidup di dunia seberang. Melihat tanpa dilihat, hadir tanpa diketahui.” Lantas, Wiesel menyimpulkan, “Menjadi orang yang tak acuh, untuk alasan apa pun, berarti menolak keabsahan keberadaan kita, namun juga keindahannya. Berkhianatlah dan engkau tetap seorang manusia, siksalah sesamamu, engkau masih seorang manusia. Kejahatan adalah manusiawi. Kelemahan adalah manusiawi. Ketidakacuhan sama sekali tak manusiawi.”

Kisah yang dituturkan Elie Wiesel adalah bentuk ekstrim dari Sloth, yang agaknya dipahami sebagai ketidakacuhan ketika nilai kemanusiaan yang terdalam terancam dan terusik. Kepekaan nurani menjadi minimal dan bahkan tumpul. Yang ada hanyalah sikap apatis – tiadanya pathos. Sikap Wiesel mengingatkan kita pada sikap Allah pada jemaat di Laodikia,

“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu”. (Why. 3:15-16) Allah dapat memahami panas; Allah dapat mentolerir dingin; namun, Allah muak pada suam-suam kuku.

Dan inilah arti pertama dari kata Latin acedia, yang secara hurufiah berarti “no care” atau apathia (“no passion”). Tidak ada ikatan batin sama sekali antara seorang yang apatis dengan sesama manusianya. Dengan demikian Sloth menjadi dosa yang serius, karena hakikat manusia sebagai makhluk komunal dan sosial diingkari. Keberadaan manusia sebagai keberadaan bersama sesama, atau dalam bahasa Gabriel Marcel, filsuf eksistensial Yahudi itu: “esse est co-esse,” ada berarti ada-bersama-lenyap.

Sloth tak bisa disamakan dengan kemalasan, sekalipun kemalasan jelas menjadi salah satu wujud dari Sloth. Sloth bisa menghinggapi seseorang yang teramat sibuk dan tak punya waktu untuk bersantai-santai. William R. White menulis,

Bahkan orang-orang yang peduli pun dapat terjatuh dalam dosa tidak peduli. Para pendeta, misalnya, yang menolong setiap orang yang mengetuk pintu rumahnya, seringkali berubah menjadi tuli pada teriakan dan keluhan anggota keluarganya sendiri … Sloth adalah sekerumun orang yang memalingkan kepalanya ketika seorang perempuan dirampok di jalanan New York City. Sloth adalah sebuah perusahaan kimia yang menuangkan limbah beracun ke tanah.

Dengan kata lain, hidup terdiskoneksi dengan lingkungan dan sesama. Karena itu the spectator dalam kisah Wiesel amat tepat menggambarkan dimensi pertama dari Sloth ini.

Kedua, Sloth bermasalah juga karena ia bisa tampil lewat tidak adanya semangat untuk merayakan kehidupan lengkap dengan panggilan untuk bekerja. Makna kemanusiaan sebagai homo faber, manusia pekerja, lenyap dan yang tertinggal hanyalah dimensi kemanusiaan sebagai homo ludens, manusia bermain. Hidup menjadi sekedar permainan, yang dinikmati semaksimal mungkin dan menyaman mungkin. Citra Allah yang bekerja, yang seharusnya tercermin pula dalam citra manusia yang bekerja, diingkari habis-habisan. Setiap hari, bagi seorang yang malas, merupakan Sabat. Karena itulah Sloth sering digambarkan sebagai setan tengah hari (noonday demon), yaitu gaya hidup kemalasan dan bersantai saat bayangan tubuh kita tak terlihat karena teriknya matahari tepat di atas kita. Mereka menyangka kebaikan Tuhan diberikan tanpa usaha dan perjuangan manusia.

Setepat-tepatnya, tampilan kedua dari Sloth ini diperagakan oleh hamba ketiga yang menerima satu talenta dalam perumpamaan Yesus di Matius 25:14-30. Hamba ketiga itu menunjukkan kemalasannya dengan berkata,

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! (Mat. 25:24-25)

Hamba ketiga ini mencerminkan sebuah teologi yang buruk yang mencitrakan seorang Allah yang kejam, tanpa kebaikan sama sekali, yang siap menghantam hamba-hambaNya yang berjuang … dan gagal. Teologi buruk macam ini mengakibatkan ketakutan untuk mengusahakan talenta dan merayakan kehidupan yang penuh perjuangan. Alhasil, kemalasan muncul. Hidup tak bermakna apa-apa.

Ketiga, yang lebih parah, Sloth menjadi dosa ketika ia -sama seperti dosa lainnya- menarik manusia untuk menelikungkan arah hidup pada diri sendiri, curvatus in se. Namun penelikungan ini -berbeda dengan dosa-dosa lain- menampilkan citra yang memilukan, menyedihkan dan negatif.

Bapa gurun pasir bernama John Cassian menggambarkan acedia sebagai “sejenis kesedihan,” dan asosiasi kemalasan (acedia) dengan kesedihan (tristitia) ini digemakan kembali oleh seorang bapa gereja bernama Gregorius Agung. Kata Jerman Weltsmerz, yang secara hurufiah berarti terlukai oleh dunia, mungkin tepat menggambarkan jenis kesedihan ini.

Seseorang yang terjebak ke dalam Sloth merasa sedih dan pilu akibat dunia yang dihadapinya, namun kemudian reaksi yang muncul bukanlah perjuangan di dalam dunia dan mensyukuri Allah di tengah dunia yang memilukan, namun justru melawan dunia dengan cara menjauhinya dan memasuki relung hati hanya untuk sekedar diam dan mencari rasa aman semu. Itu sebabnya penyakit spiritual ini banyak ditemukan di antara anak-anak muda, yang mungkin berpendidikan tinggi, berlatar belakang dari keluarga kaya, namun tak memiliki semangat hidup dan tekad untuk berjuang. Sloth lantas tampil dalam perilaku curang dalam ujian yang tentu akan dilanjutkan dengan perilaku curang dalam pekerjaan. Tak lagi ada pengharapan akan masa depan. Dunia sudah begitu busuk … dan saya tak peduli.

Citra macam ini juga diperagakan dengan amat jitu oleh Albert Camus dalam novelnya yang berjudul The Stranger. Novel ini diawali dengan kalimat yang menggelisahkan, “Ibu meninggal hari ini, atau mungkin kemarin?” Sikap serupa, yaitu penarikan diri dari terpaan dahsyat dunia dan meratapi hidup yang menyedihkan, muncul dalam diri murid-murid Yesus, yang tertidur justru saat Yesus berjuang di ambang maut di Taman Getsemani.

Lalu Ia bangkit dari doaNya dan kembali kepada murid-muridNya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita. KataNya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Luk. 22:44-45)

Keempat, Sloth mencerminkan kebosanan pada hidup. Tak ada yang bisa dirayakan dan dinikmati dalam hidup. Kebosanan spiritual ini paling mungkin muncul karena beban hidup yang teramat dalam yang melampaui kemampuannya melihat sepercik terang kasih Allah. Lantas, tak ada lagi kejutan di hari esok.

Untuk merangkum pemahaman kita mengenai Sloth, ada baiknya kita mendengarkan kata-kata Evelyn Waugh, yang pernah mengidentifikasi Sloth sebagai dosa khas zaman moder-nusang (late-modern) ini. Ia menulis pendapat yang kurang-lebih menyerupai Eli Wiesel,

Roh dari keadaan ini [Sloth] melampaui sekedar kesedihan dan melankoli. Ia telah menghilangkan dirinya sendiri dari naik turunnya perasaan; akar sesungguhnya dari perasaan telah mati. Itu sebabnya mengapa, bagi para moralis Abad Pertengahan, Sloth … merupakan salah satu dosa yang paling mengerikan. Ia merupakan dosa pada batasnya yang terjauh. Menjadi manusia berarti memiliki hasrat. Seseorang yang baik memiliki hasrat akan Allah dan hal-hal lain di dalam Allah. Manusia yang berdosa memiliki hasrat akan hal-hal tertentu yang menggantikan Allah, namun ia masih dapat dianggap sebagai manusia, sejauh ia memiliki hasrat. Namun, manusia yang terjebak dalam Sloth adalah manusia yang mati, sampah yang kering … hasratnya telah mengering.

Tiga

Jelaslah bahwa inti persoalan Sloth ada pada hasrat hidup yang melemah atau malah hilang sama sekali, yang bisa mewujud dalam berbagai bentuk: tumpulnya nurani pada persoalan hidup sesama dan terdiskoneksinya diri pada sesama, hilangnya semangat kerja dan merayakan hidup, kepedihan menghadapi dunia yang bermasalah, serta kebosanan yang radikal dalam hidup dan terhadap kehidupan. Bagaimana iman Kristen menjawab dosa Sloth ini?

Pertama, perlu disadari bahwa Sloth selalu dijawab oleh semangat hidup (zeal) dan sukacita (joy). Sukacita sejati tidak ditentukan oleh kondisi di sekeliling kita. Ia adalah manifestasi hati yang menerima sepenuh-penuhnya rahmat Allah. Pada saat bersamaan, hidup yang dirahmati itu mendorong cara hidup yang diwarnai dengan semangat (zeal). Ada kobaran batin untuk berpartisipasi di dalam dunia dan hidup sesama, terlepas dari beratnya hidup di dunia ini.

Seorang yang dipenuhi dengan semangat dan sukacita mampu melangkah walau perlahan dalam derita dunia, demi menuntaskan tugas yang Allah percayakan kepadanya hingga selesai. Sama seperti Kristus yang di atas kayu salib berteriak, setelah seluruh karyaNya usai hingga tuntas, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Semuanya telah usai. Semuanya mati; kehidupan mati, kematian mati. Manusia mati, Anak Allah mati. Yang tertinggal adalah cinta kasih dan pengharapan. Cinta kasih tetap hidup karena itulah passion yang membuat Yesus berteriak sebelum menghembuskan napas terakhir. Pengharapan tak mati, karena ia menantikan kebangkitan dan hidup kekal.

Rahmat salib itulah yang diperdengarkan kepada mereka yang terjebak ke dalam Sloth. Itulah sebabnya Paulus mengutip sebuah madah dari gereja mula-mula, “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu” (Efe. 5:14). Dan ia melanjutkan: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (ay. 15-16). Setiap detik hidup adalah kairos (kesempatan) pemberian Allah, yang harus direnggut atau ia akan lenyap selamanya.

Penderitaan dan persoalan memang bisa menyeret kita pada Sloth. Namun di tengah kegelapan tergelap selalu ada terang Allah, walau secuil. Ia memberi harapan dan membangkitkan hasrat pada hati manusia untuk berjuang.

Victor Frankl, seorang psikolog sekaligus survivor dari holocaust, mengisahkan bagaimana ia bisa bertahan dalam penderitaan holocaust yang mahadahsyat itu. Yang dilakukannya adalah menemukan di tumpukan penderitaan, kekejaman dan keputusasaan sesuatu yang dapat mengingatkannya pada keindahan hidup, sukacita hidup, dan kebaikan hidup.

Secuil roti kering yang ditemukannya di pagi hari, yang disimpannya di saku sepanjang hari, agar bisa dinikmati di saat senja di baraknya. Atau, keindahan sekuntum bunga liar yang ditemuinya sementara ia berjalan dalam arakan orang-orang Yahudi yang harus bekerja rodi. Atau bahkan, kebaikan yang mengejutkan dari seorang prajurit Nazi yang menolong seorang Yahudi tua untuk bangun dan bahkan memberinya makanan ekstra; tindakan ini, menurut Frankl, membuatnya percaya bahkan dalam hidup manusia yang paling keji sekalipun masih dapat dijumpai secuil harkat kemanusiaan.

Akhirnya, mungkin ada baiknya mengingat “aturan hidup” yang dibuat oleh John Wesley -karena itu disebut “John Wesley’s Rule”- bagi kelompok Methodist yang didirikannya:

Do all the good you can,

By all the means you can,

In all the ways you can,

In all the places you can,

At all the times you can,

To all the people you can,

As long as ever you can.

Pdt. Joas Adiprasetya

1 Comment

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
  • Kelahiran yang Paling Dinantikan
    Kelahiran yang Paling Dinantikan
    Konon ada seorang maharaja yang ingin berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Namun...
  • Mematikan Diri untuk Menghasilkan Banyak Buah
  • Ketika Kebangkitan KRISTUS Diragukan
    Ketika Kebangkitan KRISTUS Diragukan
    Pilihan yang Sulit Kepada setiap orang ditawarkan untuk menjadi orang beriman atau tidak. Dan sesungguhnya hal ini merupakan pilihan...
  • Pengharapan Dalam Kristus Bersinar Terus
  • Mengaktualisasi Pelayanan Pendamaian
    Mengaktualisasi Pelayanan Pendamaian
    Ada suatu penelitian yang membuktikan pengaruh kata-kata terhadap manusia. Dua kelompok mahasiswa diminta menjawab empat puluh dua pertanyaan. Kelompok...
Kegiatan