Tsunami, Peringatan dari Tuhan?

Tsunami, Peringatan dari Tuhan?

Komentar ditutup 171 Views

Pak Pdt. Yth.
Tgl 26 Desember 2004 yang lalu di wilayah negara kita tepatnya di Aceh dan Sumut diterpa bencana Tsunami. Bahkan bencana tersebut juga terjadi di negara-negara lain. Melihat tayangan di televisi, betapa mengerikan sekali.

Sebagai orang Kristen seperti diingatkan peristiwa nabi Nuh karena air yang menjadi teman kita justru menyerang tak kenal ampun. Ironis memang kalau tragedi itu disamakan dengan peristiwa nabi Nuh. Untuk itu karena begitu banyaknya pendapat mengenai peristiwa tersebut maka dengan ini saya menanyakan.

  1. Apakah benar peristiwa seperti itu bentuk hukuman Allah kepada umat?
  2. Atau itu hanya peringatan saja?
  3. Atau tidak kedua-duanya. Mohon penjelasan bagaimana kita sebagai orang Kristen memandang dengan persepsi yang benar?

Atas kesediaan Bapak menjawab pertanyaan saya diucapkan terima kasih.
Salam,

RP – di Rempoa

Pdt. Rudianto Djajakartika:

Sdr. RP yang sedang prihatin,
Kita memang patut prihatin atas bencana tsunami yang melanda negara kita dan beberapa negara yang lain. Sebagai orang beriman kita juga perlu merenungkan hal ini dan belajar dari peristiwa ini. Saya sendiri dalam perenungan saya, merasakan betapa kecil dan rapuhnya kita. Kita yang sering sombong dan merasa dapat mengatur segalanya, ternyata begitu mudah dilibas oleh kekuatan alam yang maha dahsyat.

Selain prihatin atas terjadinya bencana tsunami ada satu keprihatinan saya yang lain. Keprihatinan dan kesedihan mendalam yang saya tujukan kepada saudara-saudara saya sesama umat kristiani. Saya sungguh prihatin atas sikap sombong sebagian umat kristiani yang berdiri di atas derita sesamanya dengan mengatakan: bahwa bencana ini adalah bentuk hukuman Tuhan atas mereka yang terkena musibah. Bahkan ada yang lebih sombong lagi mengatakan: ini hadiah Natal dari Tuhan buat umat kristiani. Masa Tuhan memberi kado dalam wujud ratusan ribu mayat dan keluarga yang tercerai berai?

Tetapi jika bukan demikian lalu apa? Bukankah Tuhan Mahakuasa dan semua yang terjadi di bawah kendali-Nya? Bukankah Alkitab menyaksikan bahwa Tuhan menguasai alam raya ini termasuk juga gempa dan Tsunami?

Saya katakan YA! Tuhan memang berkuasa juga atas gempa dan Tsunami. Mengingkari kemahakuasaan Tuhan ini sama saja dengan mengingkari pengakuan iman kita, bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi dengan segala isinya.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan berkaitan dengan keberadaan Allah sebagai pencipta. Pada waktu Allah menciptakan alam semesta ini, Ia bukan hanya mencipta tetapi juga mengatur dan menetapkan hukum-hukum alam yang mengatur alam raya ini! Misalnya Allah mengatur matahari sebagai penerang di siang hari dan bulan bintang sebagai penerang di malam hari (kej. 1:16 bdk. Yer. 31:35). Masih banyak bagian Alkitab lain yang menyatakan bagaimana alam raya ini sungguh diatur oleh Tuhan melalui hukum alam yang ditetapkan-Nya.

Nah, yang harus kita sadari adalah, bahwa sejak Tuhan menetapkan hukum-hukum alam ini, maka ALLAH YANG MAHAKUASA secara sengaja MENAHAN KUASANYA sehingga alam semesta ini berjalan sesuai dengan hukum yang sudah ditetapkan-Nya (bdk. Yer. 31:36). Tuhan TIDAK MENGINTERVENSI semua yang sudah ditetapkan-Nya. Dia tetap Allah yang Mahakuasa, yang juga berkuasa terhadap alam, misalnya meneduhkan badai yang menimpa kapal murid-murid-Nya. Tetapi bukan berarti bahwa segala peristiwa alam lalu dilempar kepada Allah.

Bagian-bagian Alkitab yang spesifik dan menunjukkan kemahakuasaan Allah atas alam tidak bisa menggantikan bagian-bagian Alkitab yang lebih universal seperti kisah penciptaan di mana Allah secara sengaja menahan kuasa-Nya dan menyerahkan keberlangsungan alam semesta berdasar hukum alam yang sudah ditetapkan-Nya.

Lalu bagaimana dengan peristiwa bencana gempa dan Tsunami? Bagi saya, gempa ya gempa, ada pergeseran patahan bumi yang kebetulan ada di dasar laut. Akibatnya muncul Tsunami. Pergeseran patahan itu sendiri juga merupakan siklus tertentu yang akan muncul entah berapa tahunan. Jadi ya semata peristiwa alam biasa.

Tentu sebagai orang beriman kita perlu merenung dari sisi iman. Sayapun merenung dan mendapatkan betapa kecil dan rapuhnya manusia. Mungkin orang lain mendapatkan hasil perenungannya berbeda dari saya. Itu sah-sah saja! Tetapi mengkaitkan Tsunami kemarin dengan hukuman Tuhan rasanya kok terlalu jauh. Kasihan Tuhan, kalau dalam setiap peristiwa alam yang membawa bencana Tuhan lalu jadi sasaran tembaknya. Bukannya menghukum, saya justru melihat Tuhan menolong dengan cara menggerakkan manusia dari segala penjuru dunia untuk menolong para korban bencana Tsunami.

Di tengah keprihatinan dan kesedihan saya, ada sedikit rasa syukur, bukan atas musibah yang terjadi, tetapi atas bersatunya umat manusia untuk menolong sesamanya yang menderita. Ternyata manusia yang katanya adalah serigala bagi sesamanya bisa bersatu atas nama kemanusiaan! Nah, semoga jawaban ini bisa mengurai keprihatinan anda.

Arsip kategori Pastoralia
  • Kerajaan Maut
    Anugerah Keselamatan
    Pak Pendeta yang budiman, Saya sudah termasuk lansia dan dibaptis sekian puluh tahun yang lalu. Buku pedoman katekisasi yang...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan