Sweet Hour of Prayer (1845)

Sweet Hour of Prayer (1845)

1 Komentar 217 Views

Baru-baru ini saya mengikuti persekutuan akhir tahun 2008/menyongsong tahun 2009 bertemakan “Mengucap Syukur Untuk Tahun Lalu dan Berdoa Untuk Tahun Depan.” Tema ini sederhana namun sangat mendasar karena pada tahun 2008 saya mengalami pergumulan dan tantangan yang cukup berat, tetapi penyertaan dan perlindungan Tuhan telah menyanggupkan saya menghadapinya. Saya sadar bahwa secara kasat mata tahun 2009 ini juga merupakan tahun yang cukup berat, namun sesuai tema di atas saya beriman bahwa dengan penyertaan dan pertolongan Tuhan, saya pun akan sanggup menghadapinya.

Satu fenomena yang saya alami dalam masa-masa sulit itu ialah kuatnya dorongan untuk lebih intensif berdoa. Karena pergumulan saya lebih banyak berlatar belakang teknis, saya merasa betapa sempitnya perspektif doa saya dan terlebih-lebih sifatnya hanya satu arah saja, yaitu agar Tuhan memenuhi permintaan saya. Dengan anugerah dan kemurahan Tuhan-dan saya yakin bukan suatu kebetulan (sebelum terjadi krisis moneter global)-saya membeli dua Injil yang betul-betul memberkati saya, masing-masing berjudul: The Prayer Bible (New Living Translation terbitan Tyndale House Publishers, Inc) dan Prayer Devotional Bible (The Holy Bible, New International Version terbitan Zondervan).

Suatu saran dari kedua Alkitab tersebut ialah untuk tidak membaca Firman Tuhan tanpa berdoa dan menghindari berdoa tanpa membaca Firman Tuhan. Kalau kita berdoa dan Firman Tuhan menjadi landasannya, maka kita tak perlu ragu-ragu lagi apakah doa kita sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Perlu disadari bahwa doa bukan merupakan piranti agar Tuhan memberikan apa yang kita minta. Doa adalah piranti Tuhan agar apa yang dikehendaki-Nya bagi kita itu terwujud. Kalau demikian, mungkin akan timbul sikap bahwa kita tak perlu berdoa karena semuanya sudah Tuhan sediakan. Persepsi seperti itu akan membuat doa kita lebih bersifat kegiatan formalitas belaka, dan hanya dirasakan sebagai kewajiban. Namun, bukankah kita sebagai ciptaan yang sangat berharga di mata Tuhan menyadari betapa besar kasih Tuhan itu, sehingga ketika menghampiri Tuhan, perjumpaan itu dilandasi oleh kerinduan untuk mengalami saat yang indah bersama-Nya? Bukankah setiap kali kita membaca Firman senantiasa tersedia pencerahan yang baru, termasuk bagian Firman yang sudah pernah kita baca?

Firman Tuhan dalam Efesus 3:18-20 merupakan doa Rasul Paulus: Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus. dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.

Firman Tuhan memberi ruang untuk mengubah doa kita menjadi doa yang selaras isinya dengan kehendak Tuhan. Doa yang didasarkan kepada pikiran dan ide kita sendiri adalah doa yang terbatas, sebaliknya doa yang diinspirasi oleh Firman Tuhan tidak mengenal batas. Yesaya 55:8-9 mengatakan: Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Firman Tuhan sangat kaya dan pada saat Firman itu berbicara kepada kita, hati kita serasa tak terbendung lagi untuk menanggapinya. Firman Tuhan mengilhami doa kita. Doa mengalir secara alami pada waktu Firman itu menyentuh suasana hati kita yang sedang gelisah, frustasi atau marah. Mungkin juga Firman itu menguak suatu dosa yang terjadi dalam hidup kita sehingga kita memohon pengampunan-Nya. Namun sebaliknya kita juga akan bersorak-sorai dan memuji Tuhan ketika berkat dan pertolongan-Nya nyata di dalam hidup kita.

Sebagai pribadi yang masih dipercaya untuk memimpin sebuah perusahaan (staf dan keluarga mereka yang semuanya berjumlah sekitar 240 orang menggantungkan penghidupan mereka kepada usaha perusahaan), terus terang kesempatan saya untuk membaca Firman Tuhan dan bersaat teduh relatif terbatas, namun saya tetap berusaha melakukannya dengan setia. Berdoa secara umum dipahami sebagai kegiatan yang bersifat agresif (dalam arti, kita berusaha semaksimal mungkin menggunakan waktu doa kita agar apa yang menjadi gejolak hati kita dapat diungkapkan), namun kegiatan doa juga memiliki sisi lain, yaitu berdiam diri (silent). Pada saat hening itulah kita dapat lebih nyata merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Kudus.

Mazmur 37:7 berkata, “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia” (versi The New Living Translation, “Be still in the presence of The Lord, and wait patiently for Him.”)

Tuhan Yesus memberikan petunjuk di dalam Matius 6:7-8 sebagai berikut: Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

Situasi hening sedemikian itu sepatutnya kita sambut dengan sembah sujud dan penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan. Itulah waktunya ketika pandangan Tuhan yang penuh kasih dan pengertian tertuju kepada kita. Ia menghibur pada waktu kita sedih, memberi terang pada waktu kita berada di dalam kegelapan, menghidupkan pengharapan pada waktu kita putus asa, menciptakan ketenangan pada waktu kita gelisah, dan meniupkan kekuatan serta pengharapan waktu kita sakit. Tapi Ia juga tertegun menyaksikan kesombongan rohani dan intelektual kita. Dengan kasih Ia mengulurkan tangan-Nya guna memberi kita keberanian untuk bersujud dan menghampiri-Nya, memohon ampun atas segala dosa kita.

Pada saat ini Tuhan sedang memulihkan (restore) kehidupan saya dan saya yakin banyak saudara seiman juga mengalaminya. Dalam ilmu teknologi, restore adalah tindakan untuk membersihkan segala elemen yang mengganggu jalannya suatu program, dan salah satu hal yang utama ialah terus-menerus mengeliminasi virus dari luar. Firman Tuhan dan doa adalah tindakan pemulihan yang Tuhan lakukan bagi siapa saja yang mau menerima dan percaya kepada-Nya. Lambat-laun pasti terjadi suatu perubahan dalam hidup kita.

Lagu “Sweet Hour of Prayer” dikarang oleh seseorang yang menurut logika dunia tak mungkin dapat melakukannya, tetapi fakta menunjukkan bahwa segala sesuatu mungkin apabila Tuhan menghendakinya.

Puisi “Sweet Hour of Prayer” muncul pertama kali di harian The New York Observer pada tanggal 13 September 1845, disertai pengantar dari Rev. Thomas Salmon, seorang hamba Tuhan dari Inggris yang baru saja berimigrasi ke Amerika: “Saya berkenalan dengan W.W. Walford yang tinggal di Coleshill Warwickshire, Inggris. Ia seorang hamba Tuhan yang tuna netra, tak jelas asal-usulnya, tak berpendidikan namun memiliki penalaran yang sangat tinggi serta daya ingat yang luar biasa. Ia tak pernah keliru menyampaikan pengajaran dalam khotbah-khotbahnya dan dapat mengutip pasal dan ayat Alkitab dengan tepat. Ia jarang salah mengulangi kata-kata yang terdapat di dalam Mazmur, Perjanjian Lama dan Baru, nubuatan dan kadang-kadang latar belakang sejarah, sehingga memiliki reputasi sebagai “orang yang hafal seluruh isi Alkitab.” Ia selalu menyiapkan khotbahnya dengan duduk di bawah cerobong asap rumahnya. Pada suatu hari ketika saya berkunjung ke rumahnya, ia sedang mengulang-ulang serangkaian kata-kata. Oleh karena waktu itu tak ada orang lain di rumahnya yang dapat menuliskan kata-kata itu di atas kertas, saya bergegas mencatatnya dengan pensil dan mengirimkan untaian kata-kata itu ke harian Observer.

Sweet Hour of Prayer

Sweet hour of prayer,
Sweet hour of prayer,
That calls me from a world
of care, And bids me at my Father’throne Make all my
wants and wishes known
In seasons of distress and grief My soul has often found relief,
And oft escaped the tempter’s snare, By Thy return,
sweet hour of prayer.

Sweet hour of prayer,
Sweet hour of prayer,
Thy wings shall my petition bear
To Him whose truth and
faithfulness Engage the waiting soul to bless,
And since He bids me seek
His face, Believe His word and trust His grace,
I’ll cast on Him my every care, And wait for Thee,
sweet hour of prayer.

Sweet hour of prayer,
Sweet hour of prayer,
May I Thy consolation share,
Till from Mount Pisgah’s lofty height, I view my home
and take my flight,
This robe of flesh I’ll drop,
and rise To seize the
everlasting prize,
And shout while passing
through the air, Farewell,
sweet hour of prayer.

Satu bagian puisi yang dimuat dalam The Observer tidak dimasukkan di dalam lagu ini:

Sweet hour of prayer!
Sweet hour of prayer!.
The joys I feel, the bliss I share,
Of those whose anxious spirits burn with strong desires
for thy return!
With such I hasten to the place where God my Savior shows
His face,
And gladly take the station there, and wait for thee,
sweet hour of prayer!
(Lirik oleh William W. Walford, notasi oleh William B. Bradbury)

Kitab Mazmur adalah kitab doa dalam Alkitab dan kesaksian pribadi para penulisnya tertulis sebagai berikut:
Mazmur 34:5 “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.”
Mazmur 116:2 “Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.”
Mazmur 138:3 “Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.”

Selamat bersaat teduh. Tuhan memberkati.

Nono Purnomo

1 Comment

  1. Merry Chistina T.

    selama ini saya memang belum pernah melakukan Saat Teduh, tp dengan membaca kesaksian ini saya merasa sedang melaksanakan Saat Teduh

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Madah
Kegiatan