Persepuluhan: Kewajiban atau Disiplin Rohani?

Persepuluhan: Kewajiban atau Disiplin Rohani?

17 Komentar 7 Views

There are three conversions necessary:
the conversion of the heart, mind, and the purse.
– Martin Luther

Banyak anggota jemaat yang mengalami kebingungan dalam hal persepuluhan. Mereka kerap mendengar dari banyak orang Kristen dari denominasi lain bahwa persepuluhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua orang Kristen, karena mereka sudah diberkati atau supaya mereka diberkati. Di lain pihak, GKI ternyata tidak mewajibkannya. Lalu, bagaimana harus menyikapinya?

Persepuluhan di dalam Perjanjian Lama

Mereka yang mendesakkan persepuluhan sebagai keharusan hampir selalu memakai Maleakhi 3:10 sebagai dasar alkitabiahnya: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Sejak awal perlulah saya menegaskan bahwa pendekatan alkitabiah tidak sama dengan pendekatan ayatiah. Pendekatan ayatiah biasanya sekadar mencomot ayat-ayat favorit dan menarik darinya sebuah kesimpulan umum. Sedang pendekatan alkitabiah lebih peduli pada pesan utama keseluruhan Alkitab tentang sebuah subjek (persembahan, misalnya) dan merumuskan sikap kristiani masa kini berdasarkan prinsip-prinsip umum tersebut. Oleh karena itu, kita sungguh-sungguh perlu melihat, bagaimana Alkitab secara keseluruhan berbicara mengenai persembahan, khususnya persepuluhan. Kita mulai dari Perjanjian Lama.

Sebelum Hukum Taurat

Sebelum munculnya Hukum Taurat dan hukum-hukum turunan yang mengikutinya, catatan mengenai persepuluhan hanya muncul ketika Abraham memberikan sepersepuluh hasil rampasan perangnya kepada Melkisedek (Kej. 14:20, 22) dan ketika Yakub bernazar kepada Tuhan (Kej. 28:22). Tidak ada pengaturan legal sama sekali. Namun kita bisa menduga bahwa jumlah sepersepuluh yang diberikan oleh Abraham kepada Melkisedek dan oleh Yakub kepada Allah memang menjadi tradisi budaya di wilayah Timur Tengah. Selain itu, dalam peristiwa Yakub, ia memberikan persepuluhan kepada Allah sebagai ungkapan syukur dalam konteks perjanjian dengan Allah, bukan sebagai sebuah kewajiban.

Hukum Taurat

Kita akan segera tahu bahwa sebagian besar catatan mengenai persepuluhan terdapat dalam lima Kitab Taurat (Kejadian-Ulangan). Hal pertama yang harus ditekankan, sehubungan dengan banyaknya hukum dan peraturan dalam lima kitab pertama khususnya dan Perjanjian Lama umumnya, adalah bahwa semua hukum itu semata-mata mencerminkan tuntutan agar umat percaya tunduk dan patuh pada Allah sendiri. Persepuluhan dalam hal ini hanyalah menjadi sebuah contoh penerapannya. Yang dipentingkan, dengan kata lain, adalah gaya hidup menatalayani hidup dan semua yang melekat padanya, agar seluruh kehidupan diabdikan kepada Allah.

Mereka yang pada masa kini berusaha mematuhi perintah persepuluhan hanya dengan menggantungkan diri pada Maleakhi 3:10 ternyata akan mengalami kesulitan besar jika harus mempertimbangkan teks-teks khusus di dalam kelima kitab pertama. Sebab, di dalamnya kita akan menemui ketidakajegan penjelasan mengenai persepuluhan. Ada bermacam-macam versi persepuluhan.

Imamat 27 mencatat bahwa persembahan persepuluhan diberikan dalam bentuk hasil bumi atau ternak (Im. 27:30-32). Namun, jika hendak ditebus dan diberikan dalam bentuk uang, maka orang tersebut harus menambah seperlima (20%) dari harga persembahannya; jadi, total persepuluhan dalam bentuk uang adalah 12%. Jadi, berbeda dengan persembahan persepuluhan dalam bentuk uang yang berlaku pada masa kini.

Bilangan 18 secara khusus menjelaskan bahwa persembahan persepuluhan harus diberikan kepada suku Lewi sebagai ganti tidak diperolehnya tanah pusaka bagi suku ini. Namun suku Lewi ini juga harus mempersembahkan seperpuluh dari penghasilannya itu dan memberikannya kepada imam Harun.

Ulangan 12, secara mengejutkan, mengatur persembahan persepuluhan secara berbeda. Persembahan persepuluhan harus diberikan bersama dengan persembahan-persembahan lainnya ke tempat yang akan dipilih Tuhan. Setelah sampai di sana, umat Tuhan ternyata diharuskan untuk memakan persembahan persepuluhan mereka sendiri; mereka bersama seisi keluarga dan orang Lewi, dengan penuh kegembiraan. Persembahan persepuluhan, dengan demikian, diberikan kepada Allah, untuk dinikmati bersama dengan komunitas dalam perjamuan kasih. Hal yang sama ditegaskan lagi di Ulangan 14:23. Persepuluhan tidak diberikan kepada para imam Lewi saja, namun untuk dinikmati bersama-sama. Kalaupun orang-orang Lewi mendapat bagian dalam perayaan hasil persepuluhan, itu karena mereka merupakan anggota masyarakat yang lemah disebabkan karena mereka tidak memperoleh pembagian tanah Israel. Ulangan 14:27 menyatakan, “Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau.” Dengan demikian, orang-orang Lewi dikategorikan sebagai kelompok sosial yang lemah dalam komunitas yang perlu ditopang.

Juga, pada akhir tahun ketiga, persembahan persepuluhan dikhususkan bagi “orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu” (Ul. 24:29). Tahun ketiga ini disebut sebagai “tahun persembahan persepuluhan” (Ul. 26:12). Tampak sangat jelas bahwa persembahan persepuluhan diberlakukan bukan semata-mata karena itu adalah perintah Allah, namun juga demi memelihara kehidupan sosial yang lebih adil. Pola pengaturan persepuluhan dalam konteks Kitab Ulangan ini menarik karena dimensi sosialnya. Apalagi jika kita meletakkannya di dalam konteks Tahun Yobel yang dirayakan setiap tahun ketujuh. Dengan demikian, siklus pengaturan sosialnya berlangsung demikian:

Tahun 1 Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 2 Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 3 Tahun persepuluhan
Ul. 14:28
Tahun 4 Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 5 Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 6 Tahun persepuluhan
Ul. 14:28
Tahun 7 Penghapusan utang
Ul. 15:1-11
Pembebasan budak
Ul. 15:12-18

Secara umum kita bisa melihat bahwa pengaturan persembahan persepuluhan tidaklah “stabil.” Ada beragam model pengaturan. Ada yang diberikan kepada orang-orang Lewi, ada yang diberikan kepada orang-orang Lewi dan janda, anak yatim dan orang asing dan ada yang tidak menjelaskan sama sekali kepada siapa persepuluhan diberikan. Kita melihat pergeseran tempat persembahan persepuluhan, dari tempat-tempat ibadah lokal ke pusat ibadah utama. Ada pula tradisi yang menyarankan persembahan persepuluhan dimakan bersama secara komunal sebagai tanda kebersamaan persekutuan umat percaya. Soal apa yang dipersembahkan pun beragam. Kebanyakan adalah hasil alam dan ternak, namun tidak tertutup kemungkinan diberikan dalam bentuk uang, dengan menambah seperlima dari persepuluhan tersebut.

Kitab-Kitab Lain

Peraturan persepuluhan juga dimunculkan kembali di kitab-kitab sesudahnya, khususnya di dalam 2 Tawarikh 31 dan Nehemia 10, 12 & 13. Persepuluhan ini, dengan mengikuti tradisi Bilangan 18, diberikan kepada orang-orang Lewi, karena mereka tidak memperoleh bagian dari pembagian tanah Israel.

Di dalam kitab nabi-nabi, kita tidak menjumpai catatan yang memadai mengenai persepuluhan, kecuali di dalam Kitab Maleakhi yang akan kita bahas terpisah nanti. Hal ini menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan lebih dekat dengan tradisi imamat atau ritual dan bukan dengan tradisi sosial atau kenabian. Amos 4 secara khusus berkomentar tentang persepuluhan, namun dengan nada kritis dan negatif. Kita dengan segera dapat mengetahui bahwa yang terjadi pada saat itu adalah kristalisasi hukum yang sudah membeku dan mengeras, sebab aturan hukum dilaksanakan secara legalistis dan malah kehilangan semangat sosialnya. Dengan sinis Amos menyuarakan pesan Tuhan,

“Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan terhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?” demikianlah firman Tuhan Allah.” (Am. 4:4)

Jelas di sini Amos mengajukan kritik tajam atas persembahan persepuluhan yang diberikan Israel, karena persepuluhan itu diberikan terlepas dari makna sosial dan iman. Makna sosial hilang ketika mereka malah melakukan “perbuatan jahat” (ay. 4) dan “memeras orang lemah …menginjak orang miskin” (ay. 1). Makna iman hilang ketika mereka memberi persembahan bukan dalam rangka ketaatan kepada Allah namun untuk menonjolkan diri dan mendapat pujian (ay.5). Persepuluhan yang tadinya dimaksudkan sebagai sebuah mekanisme penatalayanan hidup sosial, kini telah berubah makna menjadi sebentuk aturan kaku dan beku yang dimanipulasi untuk menutupi penindasan sosial.

Maleakhi 3

Maleakhi 3 perlu mendapat perhatian khusus, sebab ayat 10 secara khusus kerap dicabut dari konteksnya dan dimanfaatkan untuk membenarkan praktik persepuluhan pada masa kini. Kita harus mengakui secara jujur bahwa bahasa religius yang dipakai oleh Kitab Maleakhi sangat legalistis. Aturan agama ingin ditegakkan. Namun demikian, semangat legalisme ini bukanlah yang paling utama. Pesan Kitab Maleakhi bukan soal legalisme hidup iman, namun soal kesetiaan Allah yang direspons tidak sepantasnya oleh umat Israel.

Sejak semula ditegaskan bahwa Allah mengasihi Israel (1:2-5). Ini pengakuan iman yang mendasari hidup mereka. Namun demikian, sekalipun mereka sudah dikasihi Allah, namun mereka tetap melakukan tindakan yang menyedihkan dan penuh cemar; mereka memberi persembahan yang cemar dan tak layak (1:6-14), bahkan para imamnya terlibat dalam perusakan moral Israel (2:1-9), kemudian juga malah orang Israel yang dituntut memelihara kemurnian iman kawin-mawin dengan bangsa kafir (2:10-16). Jadi kalau mau dibuat skema dan bagannya, akan terlihat semacam ini:

Jadi perjanjian kasih Allah-manusia berlaku timpang: Allah mengasihi manusia namun manusia membalas-Nya dengan kejahatan. Semua tindak pencemaran itu seakan-akan menunjukkan ketidakpercayaan Israel bahwa Allah selalu memelihara dan setia. Itu sebabnya Allah menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah berubah, Ia selalu setia (3:6).

Hal ini amat menyedihkan Allah. Yang dituntut dari pihak manusia sebenarnya hanyalah ketaatan yang terwujud dalam pemberlakuan hukum dan peraturan. Tapi mereka melanggarnya (termasuk persepuluhan). Itulah sebabnya dengan nada perih dan luka Allah “menantang” Israel untuk membuktikan kasih-setia Allah kembali. Lalu muncullah 3:10.

Ayat ini dengan demikian bukan bernuansa pengaturan/regulasi persepuluhan, namun sebuah tantangan dari Allah untuk membuktikan kesetiaan Allah. Seakan Allah ingin berkata, “Ujilah Aku! Kenapa engkau tak memercayai kesetiaan-Ku dengan cara menipu-Ku dan mencemari tugas ibadahmu? Kenapa engkau memanipulasi persepuluhan untuk kepentinganmu, seolah-olah kalau engkau memberi persembahan maka engkau akan berkekurangan? Bukankah Aku selalu membuktikan kesetiaan-Ku dengan membuka tingkap langit dan mencurahkan berkat atasmu?”

Jadi, Maleakhi 3:10 harus dilihat dalam kerangka “kita-memberi-karena-sudah-menerima” dan bukan sebaliknya, “kita-memberi-supaya-menerima”. Kerangka berpikir yang kedua sungguh berlawanan dengan prinsip utama keseluruhan Alkitab. Allah Alkitab tidak pernah menetapkan suatu cara berpikir “Hukum Bisnis Rohani.”

Persepuluhan di dalamPerjanjian BARU
Perjanjian Baru ternyata mencatat sedikit bagian yang berbicara langsung tentang persepuluhan: Matius 23:23 (paralel Luk. 11:42); Lukas 18:12; Ibrani 7:1-10.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Mat. 23:23; par. Luk. 11:42)

Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (Luk. 18:12)

Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera… Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik. Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham. Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia, walaupun ia adalah pemilik janji…  Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup. Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, (Ibr. 7:2, 4-6, 8-19)

Teks-Teks Persepuluhan

Di dalam Injil, persepuluhan disebutkan dalam suasana yang sangat kritis dan profetis. Sayangnya, para pendukung hukum persepuluhan masa kini memanfaatkan Matius 23:23 dan paralelnya di dalam Lukas 11:42 justru sebagai bukti implisit bahwa Yesus mendorong persepuluhan. Penafsiran semacam ini, menurut Paul Leonard Stagg (“An Interpretation of Christian Stewardship,” dalam What is the Church?, 1958, h. 152), didasarkan pada sebuah “penafsiran yang meragukan yang melanggar konteksnya dan mengabaikan pesan utama ayat tersebut.” Yesus mengecam orang-orang Farisi yang terlalu mematuhi aturan persepuluhan namun kehilangan roh di baliknya, yaitu keadilan sosial dan belas kasihan. Dengan kata lain, Yesus justru ingin menunjukkan betapa tak berartinya persepuluhan dibandingkan solidaritas sosial di baliknya. Jadi, Yesus memang tidak menolak persepuluhan, namun Ia juga tidak menganjurkannya. Yang dilakukan Yesus adalah mengajarkan bahwa penatalayanan kristiani bukan didasarkan pada praktik persepuluhan, namun pada “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”

Dengan sikap kritis yang sama, Yesus memaparkan kisah seorang Farisi (Luk. 18:12), yang dengan bangganya mematuhi aturan persepuluhan, namun memiliki sikap sombong rohani dan merendahkan orang lain. Di mata Yesus, orang semacam ini “akan direndahkan” (ay. 14). Kritik Yesus ini berada di dalam arus tradisi kenabian, khususnya Amos, terhadap kehidupan yang menekankan kesalehan ritual dan mengabaikan kesalehan sosial.

Catatan mengenai persepuluhan dalam Perjanjian Baru ternyata muncul paling banyak dalam Surat Ibrani, yaitu di dalam pasal 7 (sebanyak enam ayat), yaitu ketika dibicarakan kembali kisah pemberian persepuluhan oleh Abraham kepada Melkisedek; itu pun persepuluhan muncul bukan sebagai tema utama, karena yang dibicarakan sebenarnya adalah persiapan untuk membandingkan Imam Besar Melkisedek dengan Yesus sebagai Imam Besar Perjanjian Baru. Jadi, teks Ibrani 7 sangat-sangat berpusat pada Kristus (Kristosentris).

Sikap Yesus yang tidak menyarankan persepuluhan secara tersurat konsisten dengan surat-surat Paulus yang sama-sekali tidak berbicara mengenai persepuluhan. Ia berkali-kali berbicara mengenai uang dan tak satu kali pun berbicara mengenai persepuluhan. Bahkan di dalam perjalanan penginjilannya yang ketiga (Kis. 18:23-21:16), ia mengumpulkan uang bagi jemaat Yerusalem dan persembahan persepuluhan tak sekali pun disinggung, apalagi dipakai sebagai metode pengumpulan uang. Malah, metode yang dipakainya adalah meminta setiap anggota jemaat untuk mengumpulkan uang seperti menabung setiap hari Minggu, sebagaimana tercatat di dalam 1 Korintus 16:1-2:

Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing–sesuai dengan apa yang kamu peroleh–menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.

Prinsip yang diusung oleh Paulus sesungguhnya sama dengan semangat dari peraturan persepuluhan di dalam Perjanjian Lama, yaitu kepedulian pada mereka yang membutuhkan. Namun, keduanya berujung pada pengaturan teknis yang sama sekali berbeda. Yang satu mengajukan persepuluhan, yang lain penyisihan mingguan secara sukarela. Dari sini agaknya kita perlu memasuki konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru, yang secara mendasar membuat setiap pengharusan persepuluhan tampil sebagai pengabaian terhadap konsep persembahan tersebut.

Konsep Perjanjian Baru tentang Persembahan

Konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru sangat Kristosentris (berpusat pada Kristus), sebab Kristus diyakini sebagai pembaru seluruh hukum Taurat di dalam Perjanjian Lama. Surat Ibrani dengan amat tegas dan jelas menunjukkan pembaruan sistem persembahan yang selama ini dilakukan umat Israel. Pembaruan tersebut terjadi justru karena fokus iman yang bergeser pada Kristus sendiri. Dikatakan misalnya dalam Ibrani 9:9-10,

Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.

Jadi persembahan model Israel itu akan berlaku hanya “sampai tiba waktu pembaharuan”. Kapankah “waktu pembaharuan” itu tiba? Dijelaskan lebih lanjut, pembaharuan itu sudah terjadi di dalam Kristus (ay. 9-14),

Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia,–artinya yang tidak termasuk ciptaan ini,–dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Ide dasar dari Kitab Ibrani ini adalah bahwa Kristus adalah Imam Besar sekaligus domba persembahan, yang dipersembahkan “satu kali untuk selama-lamanya” (once and for all). Dengan jalan itu model persembahan Israel yang lama telah dibarui dengan persembahan tubuh Kristus sendiri (Ibr. 10:8-10). Persepuluhan sebagai bagian dari persembahan Israel dengan demikian dan dengan sendirinya turut dihapuskan. Semua tuntutan persembahan–termasuk persembahan persepuluhan–telah dilunaskan “sekali untuk selamanya” di dalam korban Kristus!

Bersamaan dengan penggantian konsep Imam dan korban, konsep bait Allah sebagai rumah Tuhan diganti pula menjadi hidup tiap-tiap orang percaya sebagai bait Allah (1 Kor. 3:16-17; 6:19-20), konsep imam yang dipegang segelintir orang juga diganti menjadi setiap orang percaya yang menjadi imamat am (1 Ptr. 2:9).

Bersamaan dengan itu, Paulus secara khusus menegaskan sebuah prinsip persembahan yang lebih radikal daripada persembahan persepuluhan. Yang harus kita persembahkan adalah seluruh “tubuh” (soma: hidup dalam keutuhannya), “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Dan itu berarti seluruh milik kita juga, termasuk uang kita. Jadi, 100% uang kita, bukan 10%, adalah milik Allah yang dipercayakan kepada kita dan harus kita persembahkan kepada-Nya.

Dalam perspektif itulah, maka persembahan diserahkan kepada kita untuk kita kelola atau tatalayani seluruhnya untuk kemuliaan Allah.  Amat menarik bahwa Paulus kemudian memberi petunjuk jelas mengenai makna persembahan seluruh hidup itu. Dalam 2 Korintus 8:1-15 ia menganjurkan jemaat Korintus untuk memberikan persembahan khusus kepada jemaat di Yerusalem. Ia menyebutnya sebagai “pelayanan kasih,” karena memang landasan utamanya adalah kasih (2Kor. 8:6, 7, 19-20, 9:12). Prinsipnya, persembahan kasih yang kita berikan kepada sesama itu adalah cerminan dari persembahan hidup kita untuk Allah sendiri.

Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. (2 Kor. 8:19)

Pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. (2Kor. 9:12).

Di atas itu semua, persembahan persepuluhan yang disikapi secara legalistis ternyata berlawanan dengan prinsip penatalayanan Kristen. Hidup ini harus ditata sebagai sebentuk pelayanan kepada Allah yang diwujudkan menjadi karya bagi sesama. Dengan demikian, penatalayanan memiliki roh yang sama dengan prinsip di balik persepuluhan di dalam Perjanjian Lama. Marvin E. Tate menegaskan (“Tithing: Legalism or Benchmark?,” Review & Expositor 70 [Spring 1973], 161),

Mungkin, aspek yang paling mengenaskan dari promosi berlebihan atas persepuluhan adalah kerusakan yang dilakukan terhadap konsep penatalayanan yang total. Kapan pun gereja meningkatkan kewajiban persepuluhan pada level hukum ilahi, nyaris tak terhindarkan ia akan menjadi bentuk dominan dari penatalayanan… Teologi penatalayanan dikubur di bawah legalisme persepuluhan.

Kesimpulan dan sikap praktis

  1. Kita menolak pemahaman bahwa orang Kristen yang telah ditebus oleh darah Kristus masih terikat pada kewajiban persembahan persepuluhan.
  2. Persepuluhan kepada orang-orang Lewi dan imam-imam pada zaman Perjanjian Baru dilangsungkan karena mereka adalah kelompok umat yang mengabdikan sepenuhnya hidup mereka bagi komunitas dan mereka tidak memperoleh bagian atas tanah perjanjian. Kini, para pendeta dapat saja ditopang secara baik melalui sistem Jaminan Kebutuhan Hidup (JKH), sehingga persepuluhan untuk mereka tidak lagi dibutuhkan.
  3. Kita juga menolak pemahaman bahwa segala bentuk persembahan, baik persepuluhan maupun persembahan lain, perlu kita berikan demi mendapatkan berkat Allah. Karena justru sebaliknya, kita memberi karena Allah sudah terlebih dahulu memberkati kita.
  4. Pernyataan bahwa 10% penghasilan kita adalah hak Allah benar, namun hanya sebagian, karena kita memahami juga bahwa 100% milik kita adalah milik Allah, yang kemudian dipercayakan kepada kita untuk kita tatalayani secara bertanggung jawab.
  5. Dalam rangka itu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi hamba atau penatalayan yang bertanggung jawab atas seluruh harta yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
  6. Kita juga menegaskan kembali pentingnya keseimbangan antara ibadah formal dan ibadah sosial, antara persembahan kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama. Dalam hal ini maka apa yang kita lakukan kepada sesama kita, termasuk pertolongan finansial, perlu dilihat sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan sendiri.
  7. Sekalipun kita meyakini bahwa hidup kita seluruhnya adalah persembahan yang hidup bagi Allah, namun kita tetap perlu mengungkapkan syukur kita melalui persembahan uang, baik melalui persembahan mingguan dalam ibadah, maupun pelayanan kasih kepada sesama, sejauh dilakukan dengan motivasi pengucapan syukur.
  8. Sekalipun kita menolak praktik persembahan persepuluhan sebagai kewajiban, namun tak berarti bahwa orang Kristen dilarang melakukannya. Kita tetap saja boleh memberikan persepuluhan, asal dengan tulus, sukarela dan disertai pemahaman yang benar, yaitu sebagai disiplin dan komitmen rohani dan pribadi, tanpa pemahaman bahwa semua itu adalah kewajiban.

Pdt. Joas Adiprasetya

17 Comments

  1. timoty.s

    Persepuluhan itu dapat dikatakan Disiplin Rohani,dalam pengertian rohnya sudah digantikan dengan roh yang baru ,yang mau taat dalam bimbingan Roh Kudus,dan tidak meresponi itu secara “Legalistic” sebagaimana kaum Pharisi melakukan Torah
    Karena Persepuluhan terasa berkat materinya maka banyak yang melakukannya
    Namun perlakuan ini (persepuluhan)ini sangat berbeda dengan 2(dua) ajaran Tuhan yang muncul juga sebelum Torah yaitu Sabat(Kej.2:3) dan Sunat(Kej.17:24), khususnya Sabath yang merupakan 1 dari 10 perintah Tuhan (Kej.20:8-11) yang jelas ditulis oleh jari Tuhan sendiri pada loh batu,tidak digubris apalagi Sunat pastinya juga terabaikan,ini dikarenakan pemahaman-pehaman yang keliru mengenai 2(dua) hal tersebut pada ayat-ayat yang lain.

    Harapan kedepannya ke-2 ajaran yang juga dari Tuhan yang tersebut di atas untuk “fair”nya diagendakan juga dalam gereja, setara dengan Persepuluhan dan semoga dr.Hendrawan Nadesul bisa menjelaskan sunat (sudah direkomendasikan oleh WHO)secara medis pada majalah KASUT.
    Banyak ajaran Tuhan secara logika tidak bisa dimengerti namun itu bisa dirasakan berkatNya kalo dimulai dari hati dan roh yang baru,dan banyak contoh kesaksian yang baik tentang Persepuluhan ini dan ke 2 (dua) ajaran Tuhan seperti yang disebutkan di atas.

    Tuhan Yesus memberkati bapak Pdt.Joas Adiprasetya.

  2. Ifer

    Pak Joas, terima kasih atas uraiannya, semoga membuka mata dan memberkati banyak orang.
    GBU

  3. tjen sufiiatno

    Salah satu pemikiran Pdt. JOAS yang erlu disosialisasikan kepada jemaat GKI.

  4. Johana

    Saya setuju kalau perpuluhan menjadi gerakan disiplin rohani dalam meresponse berkat Tuhan. Karena ia sebagai disiplin, maka juga sebaiknya digerakkan oleh spirit yg dibangun di atas pemahaman alkitabiah yg utuh dan komprehensif.

    trims untuk sharingnya, gbu

  5. enos eben ezer purba

    Saya sependapat dgn uraian pdt Joas. Hanya sj kata ‘ disiplin’, rasanya agak bernuansa keharusan jg. Sesuatu yg hrs dilakukan demi kebaikan. Atau cara didiikan utk menjadi lebih baik. Yang dlm uraian justru dihindari. Apalagi Jesus tdk menganjurkan maupun menolaknya. Jd biarkan sj ia tetap dlm konteks salah satu perwujuan ucapan syukur. Yg jg bs dilakukan dlm bentuk lain. Salam kasih utk P’ Pdt. Joas.

  6. Joas Adiprasetya

    Sdr. Enos, terima kasih untuk responsnya. Dalam tradisi Kristen, kata “disiplin” memang bermakna banyak. Namun apa yang saya maksud adalah disiplin sebagai olah kemuridan (Disciple). Dalam banyak hal kita perlu melatih diri secara displin. Jadi tidak boleh ada keharusan dari luar (eksternal). Persepuluhan dan yg lainnya sebagai disiplin rohani haruslah menjadi tekad batin (internal). Kita yang mengharuskan diri sendiri, bukan orang lain yang melakukannya terhadap kita. Namun, satu hal yang tak boleh hilang adalah bahwa ia merupakan sebuah keputusan bebas.

  7. J. Sipayung

    Joas Adiprasetya, “…Jadi, Yesus memang tidak menolak persepuluhan, namun Ia juga tidak menganjurkannya. Yang dilakukan Yesus adalah mengajarkan bahwa penatalayanan kristiani bukan didasarkan pada praktik persepuluhan, namun pada “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan…”

    Saya tdk sependapat dengan uraian Anda yg saya kutip diatas. Anda justru melakukan manipulsi ayat yang Anda kutip sendiri dari Mateus 23;23. Anda mengabaikan kalimat penutup dari ayat itu. Saya kutip ulang di sini (kalimat penutup ayat itu saya buat huruf besar utk penekanan saja):

    “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. YANG SATU HARUS DILAKUKAN DAN YANG LAIN JANGAN DIABAIKAN. (Mat. 23:23; par. Luk. 11:42)”

    Kata “YANG SATU” dalam kalimat itu menunjuk kepada PERPULUHAN, sedangkan kata “YANG LAIN” menunjuk kepada KEADILAN DAN BELAS KASIHAN DAN KESETIAAN. Sekedar utk penjelasan (bukan bermaksud menambah apa yag tertulis di ayat itu) sya bisa membuat kalimat penutup Matius 23 ; 23 itu sebagai berikut : Yang satu (PERPULUHAN) harus dilakukan dan yang lain (KEADILAN DAN BELAS KASIHAN DAN KESETIAAN) jangan diabaikan.

    Jelas di sini Yesus sendiri mengharuskan perpuluhan. Dan juga dengan tegas mengatakan jangan mengabaikan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Kalau Perpuluhan saja yang Anda anggap tidak lebih penting dari kasih
    tetapi diharuskan oleh Tuhan Yesus utk dilakukan, apalagi Kasih itu sendiri. Artinya, menurut pemahaman saya semuanya harus dilakukan (perpuluhan di satau sisi, keadilan dan kasih dan kesetiaan di sisi lain).

  8. Joas Adiprasetya

    Sdr. Sipayung, terima kasih untuk respons Anda. Sekalipun saya memahami bahwa ekspresi “melakukan manipulasi” yang Anda katakan mungkin sedikit berlebihan, namun saya tidak ingin mempersoalkannya. Sebab yang menjadi soal sebenarnya adalah perbedaan cara membaca teks tersebut DALAM KONTEKS seluruh Perjanjian Baru.

    Jika kita baca konteksnya jelaslah bahwa Yesus tengah mengecam ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, yang sangat mementingkan tuntutan agamawi yang lahiriah dan melupakan roh dan semangat utama dari semua hukum tersebut. Itulah sebabnya Yesus yang tampil di Injil adalah Yesus yang sangat kritis terhadap hukum Taurat yang kerap membelenggu manusia, padahal seharusnya Taurat untuk manusia, bukan sebaliknya.

    Yang Anda sebutkan benar, jika kita sekadar memperhatikan kata “harus” (Yun. “dei”). Sayangnya, di dalam spirit penolakan Yesus pada legalisme Yahudi yang berlebihan saat itu, yang Anda sampaikan, “Yesus sendiri mengharuskan perpuluhan,” justru tampak mencerminkan spirit yang ditolak Yesus sendiri. Ironis bukan?

    Dalam spirit semacam itu, sesungguhnya yang Yesus hendak sampaikan adalah, kira-kira, “Silakan saja melakukan keharusan hukum Taurat itu (persepuluhan), namun yang terpenting yang harus diutamakan, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.”

    Untungnya, orang-orang Kristen Perjanjian Baru dan gereja mula-mula menangkap betul spirit Yesus ini dan karenanya Anda tidak menjumpai persepuluhan sebagai keharusan mutlak di dalam Perjanjian Baru. Paulus sama sekali tidak berbicara mengenai persepuluhan, bahkan ketika berbicara mengenai uang. Sebenarnya banyak peraturan semacam itu (selain persepuluhan) yang kemudian diangkat pada level yang lebih luhur: sunat, makanan haram-halal, dlsb. Sayanglah jika ada pengikut Kristus yang masih saja memiliki mentalisme legalisme, hanya karena cara pembacaan Alkitab yang tak tepat benar. Salam.

  9. J. Sipayung

    Pdt. Joas Adiprasetya, Yth.
    Mohon maaaf kalau kata manipulasi yg saya gunakan menurut anda kurang tepat. Yang saya maksud adalah bahwa Anda telah menyetir ayat itu (kayaknya sama saja ya?) dengan mengatakan, “…Yesus memang tidak menolak persepuluhan, namun Ia juga tidak menganjurkannya”. Inilah yg saya tdk sependapat dengan Anda sementara jelas Alkitab mencatat bahwa Yesus mengharuskan perpuluhan seperti yg sya sudah uraikan, tapi dengan catatan jangan karena sudah bayar pepuluhan hal lain (keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan) diabaikan. Jadi, yang benar menurut pemahaman saya atas apa yang diucapkan Tuhan Yesus adalah: Harus lakukanlah perpuluhan, lakukan juga keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.

    Kalau Anda mengatakan perkataan Yesus itu konteksnya adalah mengecam ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, SAYA SETUJU, tetapi pesan dari pada perkataan-Nya adalah utk semua pengikut-Nya. Artinya, saya tidak sependapat kalau keharusan melakukan perpuluhan itu hanya utk ahli Taurat dan orang-orang Farisi saja. Mari kita simak kembali kutipan berikut: “…Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, HAI kamu orang-orang MUNAFIK…”.

    Jelas, Tuhan Yesus tdk membatasi tujuan ayat itu hanya kepada ahli Taurat dan orang-orang Farisi saja karena sikap hidup yg munafik bukan monopoli ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tapi orang lain juga bisa berperilaku demikian. Pengertian secara sederhana, kalau kita munafik kita juga ikut jadi alamat kecaman itu. Perhatikan kata “hai” (dalam kutipan sya tulis huruf besar) diulang lagi oleh Tuhan Yesus dan ini berarti sudah menuju kepada pihak lain (selain ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yaitu org munafik yg belum tentu ahli Taurat dan orang-orang Farisi). Kalau ayat itu secara konteks dan pesan hanya utk ahli Taurat dan orang-orang Farisi, saya setuju kalau ditulis demikian, “…Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang MUNAFIK…”.
    Beda kan?

    Kalau kita anggap ayat itu hanya ditujukan kepada org Farisi dan ahli taurat, apakah kita setuju ada satu ajaran kekristenan (dlm hal ini perpuluhan) hanya dan harus berlaku bagi orang tertentu saja? Bukankah ajaran kebenaran yg dibawa Tuhan Yesus berlaku utk semua yg mengaku pengikut-Nya? Kalau kita setuju berlaku utk semua pengikut-Nya, berarti kita setuju PESAN ayat itu bukan hanya utk org Farisi dan Ahli Taurat saja.

    Kalau kita baca Lukas Luk.18:9-14, yang TIDAK dibenarkan Tuhan Yesus di sini bukan PERSEPULUHANNYA, MELAINKAN SIKAP org farisi itu yg membenar-benarkan diri dan menyalahkan org lain. Simak kutipan Lukas 18 ayat 11-12: “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan SEPERSEPULUH dari segala penghasilanku.”

  10. Joas Adiprasetya

    Sdr. Sipayung, terima kasih untuk responsnya. Bagi saya, peraturan persepuluhan adalah ekspresi kontekstual dari hukum yang lebih fundamental, yaitu belas kasihan, keadilan, dan pengucapan syukur. itu semua yang terpenting, bukan persepuluhan. itu sebabnya, seperti yang saya tulis di paper itu, pasca universalisasi injil, banyak sekali peraturan detil (termasuk persepuluhan, makanan haram, sunat, dll) yang tidak lagi menjadi keharusan dalam pengertian legalistik. maka tak heran jika PB tidak mencantumkan persepuluhan lagi secara ekstensif. paulus sama sekali tidak mencantumkannya, bahkan ketika ia berbicara mengenai persembahan. jadi, sekali lagi, yang saya kuatirkan adalah ketika kita melegalisasi kembali persepuluhan dan jika itu terjadi kita justru tidak menangkap pesan utama teologi persembahan di dalam seluruh alkitab. terima kasih banyak.

  11. Liga

    Menurut saya simpel saja. Coba jawab pertanyaan ini.

    Persepuluhan itu berarti memberikan untuk Tuhan atau tidak? Memberikan kan. 10% jangan dijadikan atap, tapi sebagai dasar, artinya sebagai rasa syukur kita, kita memiliki “patokan” yang Alkitabiah adalah 10%. Karena itu dasar, artinya lebih juga tidak apa2, malah sangat disarankan. Daripada bermain ayat, lebih baik balik lagi ke iman kita di dalam Tuhan dan berkata seperti ini, “Tuhan, aku yakin perpuluhan yang tulus adalah pemberian untukMu dan menyenangkanMu serta wujud rasa syukurku setiap bulan, selama ini baik untukMu dan menyenangkanMu, aku akan menantang iman aku untuk wajib memberinya setiap bulan”. Simpel dan fokusnya tetap ke kemuliaan Tuhan. Daripada memutar2 ayat dan tidak mewajibkannya, berarti kita gak kasih 10% donk? (tidak wajib kadang berarti ya tidak usah, apalagi Anda menggunakan dasar Alkitab, nanti orang berpikir “ya memang tidak usah, Alkitab aja bilang gitu). Jadi kembali ke iman dan hati kita saja, jangan berdebat soal Alkitab. Alkitab itu cukup, benar, adil, dst. kadang pikiran dan penafsiran kita yang tidak sampai. Terima kasih.

  12. junita

    menurut saya, Yesus bukannya tidak menganjurkannya, tetapi Ia menegaskan, kalau tidak dilandasi kasih, kesetiaan dan keadilan, maka hal itu menjadi tidak berarti.
    krn yg Tuhan kehendaki adalah kasih dan kesetiaan,
    dan Yesus sendiri berkata kpd murid-murid-Nya, hidup keagamaan mereka harus lebih benar dari hidup keagamaan orang farisi, dalam arti, selain benar dalam tindakan, harus benar dalam hal motivasi.
    Tuhan berkati..

  13. Angie

    Pak Joas, terima kasih atas uraiannya.
    Saya sangat setuju dengan kesimpulan Bapak, khususnya poin 3-8.

    Dari gereja Kristen di Indonesia, mungkin hanya GKI yang tidak mengharuskan perpuluhan.
    Selama ini saya salut dengan pengaturan di gereja Katolik, mereka tidak mewajibkan perpuluhan (bahkan mungkin tidak ada per puluhan), tetapi pelayanan kasih terhadap sesama itu berwujud nyata dalam banyaknya panti jompo, sekolah, panti asuhan, kerja bakti dan sebagainya. Dan nama Tuhan dipermuliakan.

    Sebaliknya, di beberapa gereja besar sekarang, khususnya yang sangat menekankan pentingnya Perpuluhan. Dengan penekanan persembahan untuk Tuhan, menyenangkan hati Tuhan (?), akan mendapat berkat berlipat ganda dll, tetapi tidak ada penjelasan kemana dana tersebut dipergunakan. Yang ada adalah, makin banyaknya perpecahan dan masing-masing mengusung nama denominasi sendiri. Dan kehidupan para ‘hamba’ Tuhan yang tidak mencerminkan diri pengikut Kristus Yesus. Yang ada adalah kecaman publik, dengan bbrp kasus di media massa.
    Dan umumnya, jemaat-jemaat merasa sudah menunaikan kewajiban pada Tuhan dengan menyetor ‘upeti’ 10%. :D

    Harta, tahta, wanita, konon merupakan godaan terbesar. Mungkin gereja pun tidak luput dari godaan harta, apalagi dengan jumlah uang yang sangat sangat sangat banyak :D
    Gereja Katolik, yang tidak mewajibkan per puluhan, yang terbukti nyata dalam pelayanan sosial dll, masih memiliki banyak kelebihan dana (yang juga terkadang dikorupsi), bagaimana dengan gereja Kristen? Biarlah itu menjadi tanggung jawab masing-masing individu dengan Tuhan.

    Sangat setuju dengan uraian Bapak, bahwa 100% uang kita, bukan hanya 10%, adalah milik Allah, yang dipercayakan kepada kita, yang harus kita persembahkan kepadaNya. Bukan hanya uang, tetapi dalam semua aspek kehidupan kita.
    Tuhan memberkati.

  14. Ronny

    Bp. Joas, apakah perpuluhan itu harus diserahkan ke gereja lokal, atau bisa disalurkan ke yang lain, misalnya utk pelayanan misionaris, panti asuhan, atau membantu saudara yang sedang membutuhkan?

  15. Joas Adiprasetya

    Dear Pak Rony,
    Jika Anda memutuskan untuk memakai persepuluhan sebagai cara olah spiritual, maka tentu tak perlu diatur diberikan ke mana persepuluhan itu. Siapa pun yang membutuhkan akan menjadi wahana yang baik untuk menerima berkat Allah melalui hidup ANda.

  16. Seniman Laowo

    Pdt Joas yang terhormat,

    Terima kasih atas pemaparan pandangan pdt Joas ttg perpuluhan. Ada beberapa tanggapan sekaligus pertanyaan yang membutuhkan pencerahan dari bpk:
    1. Pernyataan bahwa GKI tidak mewajibkan persembahan perpuluhan. Apakah ada Dokumen keputusan Sinode tentang hal tersebut? kalau ada, boleh disharingkan nomor keputusannya? kalau belum ada, berarti pernyataan Bpk Pdt tsb belum benar.

    2. kesimpulan Bpk Pdt nomor 1 sangat saya ragukan. dasar alkitabnya adalah tafsiran Ibrani Bpk sendiri yang tidak ada hubungannya dengan perpuluhan. kenapa Tuhan Yesus tidak memberikan pernyataan yang tegas saja kalau umat kristen PB tidak terikat lagi ttg persembahan perpuluhan.

    3. kayaknya pandangan pdt Joas ini tidak mewakili pandangan para pendeta GKI kan? Tolong jangan bawa bawa GKI..Kecuali, ada Konsensus seluruh Pendeta GKI tentang Penolakan persembahan perpuluhan.

  17. Joas Adiprasetya

    Sdr. Seniman yth.
    Terima kasih untuk respons Anda. Saya sangat menghargainya. Izinkan saya memeberikan respons balik.

    1. Jika saya tidak salah, Anda memberikan tanggapan atas satu kalimat saya yang berbunyi, “Di lain pihak, GKI ternyata tidak mewajibkannya [persepuluhan].” Lalu Anda menanyakan apakah ada dokumen keputusan sinode tentang hal tersebut. Maka jawaban saya sederhana saja: TIDAK ADA. Kita harus memahami cara kerja bergereja di GKI, yang secara sadar sangat tidak ingin mengeluarkan dokumen-dokumen legalistis (harus ini-itu dan jangan ini-itu). Itu sebabnya, dengan sangat mudah, jika ingin memakai pendekatan legalistis, saya bisa membalik pertanyaan Anda, “Bisakah Anda menunjukkan dokumen GKI mana dan nomor berapa yang mewajibkan persepuluhan?” Saya bias menjamin TIDAK ADA! Karena itu, tidak ada yang keliru dengan mengatakan bahwa memang GKI tidak mewajibkan persepuluhan, karena tak seorang pun yang bias menunjukkan di mana GKI mewajibkannya. Akan berbeda seandainya saya menulis, “GKI memutuskan untuk melarang persepuluhan.” Maka setiap orang dapat mendesak saya untuk menunjukkan bukti pelarangan tersebut. Dengan kata lain, kalimat yang saya tulis bermaksud menegaskan bahwa memang tidak ada dokumen apa pun dari GKI yang mewajibkan persepuluhan.

    2. Terima kasih untuk keraguan Anda atas kesimpulan no. 1. Saya cukup terkejut bahwa Anda hanya meragukan kesimpulan no. 1. Namun, saya ragu bahwa Anda membaca dengan cukup teliti tuilisan saya. Pertama, saya tidak hanya mendasarkan kesimpulan tersebut dari Ibrani namun beberapa kitab lain. Tulisan ini dapat saja diperluas dengan mempertimbangkan banyak teks lain, namun tulisan ini aslinya memang dimaksudkan sebagai paper dari sebuah pembinaan di GKI Pondok Indah dan karenanya tidak mungkin menjadi sangat exhaustive. Kedua, sila membaca ulang Perjanjian Baru yang dengan sangat jelas memang tidak mewajibkan persepuluhan. Malah, konsep persembahan yang muncul sangat berbeda. Dan pertanyaan Anda justru menjadi clue: “kenapa Tuhan Yesus tidak memberikan pernyataan yang tegas saja kalau umat kristen PB tidak terikat lagi ttg persembahan perpuluhan.” Tepat! Justru di situlah persoalannya. Sekali lagi, saya sangat kuatir bahwa banyak orang Kristen selalu menjadikan Alkitab sebagai rujukan HUKUM dengan kacamata legalistis dan karenanya gagal menemukan pesan utama yang ingin disampaikan.

    3. Apakah saya mewakili pandangan pendeta-pendeta GKI? Jelas tidak. Tidak ada kalimat mana pun yang mengindikasikan hal tersebut. Tetapi himbauan Anda, “Tolong jangan bawa bawa GKI” menjadi sangat muskil untuk saya nalar. Sejauh ini saya masih pendeta GKI, dan tentu saya perlu berbicara sebagai seorang GKI. Lagi-lagi kacamata legalistis saya kuatir muncul dari respons ketiga ini. Di GKI tidak ada mekanisme yang melarang setiap anggota dan pendetanya untuk berteologi dan memberikan pandangan HANYA setelah ada consensus hasil muktamar, atau fatwa dari para pendeta GKI. Saya tentu tidak bisa menulis dari kacamata, misalnya, GPIB atau GBI, setepatnya karena saya adalah pendeta GKI. Lalu mengapa saya Anda himbau untuk tidak membawa-bawa GKI? Akhirnya, perlulah menjadi jelas bahwa tulisan ini saya tulis secara pribadi sebagai pendeta GKI. Tulisan ini bukan dokumen GKI. Dengan sangat jelas nama saya tercantum di sana. Dengan itu saya sedang menjalankan tugas pastoral dan pengajaran saya sebagai seorang pendeta GKI.

    Salam

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
  • Kelahiran yang Paling Dinantikan
    Kelahiran yang Paling Dinantikan
    Konon ada seorang maharaja yang ingin berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Namun...
  • Mematikan Diri untuk Menghasilkan Banyak Buah
  • Ketika Kebangkitan KRISTUS Diragukan
    Ketika Kebangkitan KRISTUS Diragukan
    Pilihan yang Sulit Kepada setiap orang ditawarkan untuk menjadi orang beriman atau tidak. Dan sesungguhnya hal ini merupakan pilihan...
  • Pengharapan Dalam Kristus Bersinar Terus
  • Mengaktualisasi Pelayanan Pendamaian
    Mengaktualisasi Pelayanan Pendamaian
    Ada suatu penelitian yang membuktikan pengaruh kata-kata terhadap manusia. Dua kelompok mahasiswa diminta menjawab empat puluh dua pertanyaan. Kelompok...
Kegiatan