Penderitaan yang membawa kita dekat kepada Tuhan

Penderitaan yang membawa kita dekat kepada Tuhan

Belum ada komentar 31 Views

Di penghujung bulan Oktober kemarin, kita dikejutkan oleh berita gempa dan tsunami di Mentawai disusul dengan meletusnya gunung Merapi di Jawa Tengah/Yogyakarta. Tentu, kita turut berduka atas kejadian tersebut, kita mendoakan mereka yang terkena bencana dan kita juga memberikan bantuan kepada mereka. Namun apakah kita sungguh-sungguh merasakan penderitaan yang mereka rasakan?

Setiap manusia dalam perjalanan hidupnya tentu mengalami apa yang disebut dengan penderitaan, baik itu berupa rasa sakit, kesedihan, kehilangan, stress dan masalah-masalah lainnya termasuk bencana alam. Ketahanan setiap orang dalam menghadapi masalah dalam kehidupan mereka berbeda-beda, sehingga ada orang yang merasa sangat menderita ketika menghadapi suatu masalah yang oleh orang lain mungkin akan dianggap biasa saja. Namun, penderitaan yang kita rasakan, yang dirasakan orang lain, dan juga penderitaan mereka yang terkena bencana di Mentawai dan Jawa Tengah/Yogyakarta adalah sama. Dengan demikian maka paling tidak kita dapat mengatakan bahwa kita turut merasakan penderitaan orang lain karena kita mengetahui bagaimana rasanya mengalami penderitaan.

Ketika berada di dalam penderitaan, Tuhan seringkali menjadi oknum yang disalahkan: “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan hal ini terjadi (pada saya)?” – dan tidak jarang kemudian pengalaman penderitaan itu membuat orang marah dan meninggalkan Tuhan. Apalagi jika penderitaan itu bertubi-tubi dan berkepanjangan seperti yang dialami oleh Ayub. Penderitaan dapat membuat kita kehilangan iman kepada Tuhan, Tuhan terasa jauh dan tidak memedulikan kita.

Tidak demikian dengan Ayub. Meskipun dalam perjalanan menghadapi penderitaan ia sempat merasa putus asa, namun ia tidak pernah sekalipun meninggalkan Tuhan. Justru sebaliknya pengalaman penderitaan itu membawa Ayub kepada pengenalan yang lebih dalam akan Tuhan dan juga kedekatan kepadaNya. Iman Ayub membuatnya yakin bahwa Allah tetap berpihak kepadanya, dan akan tiba saatnya dimana ia akan melihat Allah yang hidup.

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya (Mzm 34:19). Masalahnya apakah kita akan membiarkan penderitaan yang kita alami membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, atau justru menjauhiNya?

[Aiko Widhidana Sumichan]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • sekolah kehidupan
    Sekolah Kehidupan: Tuhanlah Gembalaku!
    Mazmur 23:1 Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
    Apakah saudara pernah merasa sendirian dan kesepian? Daud pernah mengalaminya. Hal yang paling tidak mudah dilalui oleh seorang adalah...
  • pulihkan
    Sekolah Kehidupan: Tuhan Pulihkanku!
    Mazmur 80:3
    Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat. Bagaimana mungkin wajah Tuhan bersinar kepada kita jika...
  • sekolah kehidupan
    Keluarga: SEKOLAH KEHIDUPAN
    Filipi 2:5
    hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Bagaimana mungkin kita dapat...
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
Kegiatan