Penderitaan yang membawa kita dekat kepada Tuhan

Penderitaan yang membawa kita dekat kepada Tuhan

Belum ada komentar 54 Views

Di penghujung bulan Oktober kemarin, kita dikejutkan oleh berita gempa dan tsunami di Mentawai disusul dengan meletusnya gunung Merapi di Jawa Tengah/Yogyakarta. Tentu, kita turut berduka atas kejadian tersebut, kita mendoakan mereka yang terkena bencana dan kita juga memberikan bantuan kepada mereka. Namun apakah kita sungguh-sungguh merasakan penderitaan yang mereka rasakan?

Setiap manusia dalam perjalanan hidupnya tentu mengalami apa yang disebut dengan penderitaan, baik itu berupa rasa sakit, kesedihan, kehilangan, stress dan masalah-masalah lainnya termasuk bencana alam. Ketahanan setiap orang dalam menghadapi masalah dalam kehidupan mereka berbeda-beda, sehingga ada orang yang merasa sangat menderita ketika menghadapi suatu masalah yang oleh orang lain mungkin akan dianggap biasa saja. Namun, penderitaan yang kita rasakan, yang dirasakan orang lain, dan juga penderitaan mereka yang terkena bencana di Mentawai dan Jawa Tengah/Yogyakarta adalah sama. Dengan demikian maka paling tidak kita dapat mengatakan bahwa kita turut merasakan penderitaan orang lain karena kita mengetahui bagaimana rasanya mengalami penderitaan.

Ketika berada di dalam penderitaan, Tuhan seringkali menjadi oknum yang disalahkan: “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan hal ini terjadi (pada saya)?” – dan tidak jarang kemudian pengalaman penderitaan itu membuat orang marah dan meninggalkan Tuhan. Apalagi jika penderitaan itu bertubi-tubi dan berkepanjangan seperti yang dialami oleh Ayub. Penderitaan dapat membuat kita kehilangan iman kepada Tuhan, Tuhan terasa jauh dan tidak memedulikan kita.

Tidak demikian dengan Ayub. Meskipun dalam perjalanan menghadapi penderitaan ia sempat merasa putus asa, namun ia tidak pernah sekalipun meninggalkan Tuhan. Justru sebaliknya pengalaman penderitaan itu membawa Ayub kepada pengenalan yang lebih dalam akan Tuhan dan juga kedekatan kepadaNya. Iman Ayub membuatnya yakin bahwa Allah tetap berpihak kepadanya, dan akan tiba saatnya dimana ia akan melihat Allah yang hidup.

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya (Mzm 34:19). Masalahnya apakah kita akan membiarkan penderitaan yang kita alami membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, atau justru menjauhiNya?

[Aiko Widhidana Sumichan]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Belalah Hakku!
    Hak dan kewajiban selalu menjadi satu rangkaian tak terpisahkan. Katakanlah anak memiliki hak untuk dididik dengan baik, pada saat...
  • Ruang
    Rangkullah dan Beri Ruang!
    Seorang teman berujar bahwa dunia ini semakin sempit. Sumber daya terbatas, pekerjaan terbatas, dan semua serba terbatas. Perkataannya itu...
  • Tanpa Pamrih
    Aksi Cinta Tanpa Pamrih
    Mungkinkah ada cinta tanpa pamrih? Beberapa orang mengatakan bahwa cinta yang tulus adalah cinta tanpa pamrih. Sebagian lainnya mengatakan...
  • Rasa cukup
    Rasa Cukup Dan Hidup Yang Kekal
    Amos 6:1, 4-7; Mazmur 146; I Timotius 6: 6-19; Lukas 16: 19-31
    Tidak ada yang menyangkal bahwa setiap manusia hanya memiliki kehidupan yang sementara di dunia ini, karena suatu ketika ia...
  • keselamatan
    Keselamatan Universal atau Partikular ?
    I Timotius 2: 1-7
    Keselamatan bagi semua orang terjadi ketika manusia Kristus Yesus menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia (ay.6). Rasul Paulus...
Kegiatan