Penderitaan yang membawa kita dekat kepada Tuhan

Penderitaan yang membawa kita dekat kepada Tuhan

Belum ada komentar 61 Views

Di penghujung bulan Oktober kemarin, kita dikejutkan oleh berita gempa dan tsunami di Mentawai disusul dengan meletusnya gunung Merapi di Jawa Tengah/Yogyakarta. Tentu, kita turut berduka atas kejadian tersebut, kita mendoakan mereka yang terkena bencana dan kita juga memberikan bantuan kepada mereka. Namun apakah kita sungguh-sungguh merasakan penderitaan yang mereka rasakan?

Setiap manusia dalam perjalanan hidupnya tentu mengalami apa yang disebut dengan penderitaan, baik itu berupa rasa sakit, kesedihan, kehilangan, stress dan masalah-masalah lainnya termasuk bencana alam. Ketahanan setiap orang dalam menghadapi masalah dalam kehidupan mereka berbeda-beda, sehingga ada orang yang merasa sangat menderita ketika menghadapi suatu masalah yang oleh orang lain mungkin akan dianggap biasa saja. Namun, penderitaan yang kita rasakan, yang dirasakan orang lain, dan juga penderitaan mereka yang terkena bencana di Mentawai dan Jawa Tengah/Yogyakarta adalah sama. Dengan demikian maka paling tidak kita dapat mengatakan bahwa kita turut merasakan penderitaan orang lain karena kita mengetahui bagaimana rasanya mengalami penderitaan.

Ketika berada di dalam penderitaan, Tuhan seringkali menjadi oknum yang disalahkan: “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan hal ini terjadi (pada saya)?” – dan tidak jarang kemudian pengalaman penderitaan itu membuat orang marah dan meninggalkan Tuhan. Apalagi jika penderitaan itu bertubi-tubi dan berkepanjangan seperti yang dialami oleh Ayub. Penderitaan dapat membuat kita kehilangan iman kepada Tuhan, Tuhan terasa jauh dan tidak memedulikan kita.

Tidak demikian dengan Ayub. Meskipun dalam perjalanan menghadapi penderitaan ia sempat merasa putus asa, namun ia tidak pernah sekalipun meninggalkan Tuhan. Justru sebaliknya pengalaman penderitaan itu membawa Ayub kepada pengenalan yang lebih dalam akan Tuhan dan juga kedekatan kepadaNya. Iman Ayub membuatnya yakin bahwa Allah tetap berpihak kepadanya, dan akan tiba saatnya dimana ia akan melihat Allah yang hidup.

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya (Mzm 34:19). Masalahnya apakah kita akan membiarkan penderitaan yang kita alami membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, atau justru menjauhiNya?

[Aiko Widhidana Sumichan]

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Peace Maker or Peace Lover
    Saudara, ada banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini. Berbagai bencana alam yang baru-baru saja terjadi seolah menambah rangkaian permasalahan...
  • Ketika Iman Menuntut Bukti
    Kisah Para Rasul 4:32-35; Mazmur 133; 1 Yohanes 1:1 -2:2: Yohanes 20:19-31
    Saudara, manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa rasa percaya. Setiap hal yang kita lakukan, selalu berdasar pada...
  • Kebangkitan
    Yohanes 20:1-18
    Para murid dalam duka mendalam setelah melihat Sang Guru mati disalibkan, memilih jalan masing-masing, menyibukan diri demi menghilangkan rasa...
  • Pengosongan Diri
    Filipi 2:5-11, Markus 11:1-11
    Yesus memasuki Yerusalem dengan kesadarannya akan jalan sengsara-Nya, menyambut sengsara itu dengan tangan terbuka. Kesaksian penulis injil Markus, menunjukan...
  • Pemberitaan
    Yeremia 31:31-34; Mazmur 51:2-13; Ibrani 5:5-10; Yohanes 12:20-33
    Pemberitaan apa yang menurut Saudara paling heboh akhir-akhir ini? Vaksin? Varian baru Covid 19? Atau berita tentang KLB Partai...