Nyalakan Terang Kristus

Belum ada komentar 64 Views

Suatu malam, tiba-tiba kami merasa kepanasan. Rumah gelap gulita dan saya berpikir bahwa pasti mati lampu. Untuk memastikannya, saya melihat ke luar jendela. Ternyata lampu rumah tetangga menyala semua, berarti tidak mati lampu. Saya membangunkan suami saya untuk mengecek. Ternyata pulsa listrik rumah kami habis. Untunglah, segala sesuatu dimudahkan dengan sistem online sehingga dengan cepat rumah kami terang kembali.

Alat-alat penerang yang kita miliki mempunyai masa hidup. Suatu ketika, alat-alat itu akan mati, tidak mampu menyala lagi. Alat penerang yang tidak berfungsi, hanya dapat dibuang karena tidak berguna lagi. Lalu bagaimana dengan hidup kita sebagai anak-anak terang, khususnya pada masa Natal, ketika terang menjadi tema sentral perenungan kita?

Terang Natal selalu dikontraskan dengan keadaan bumi yang di dalam kegelapan. Kegelapan menjadi simbol dari kualitas hidup dunia yang diporak-porandakan oleh dosa dan berbagai kejahatan. Begitu jahat dan rusaknya keadaan itu sehingga digambarkan sebagai keadaan yang gelap, kelam, tanpa harapan dan tanpa kebaikan.

Berita Natal membalikkan semua itu dengan simbol terangnya. Terang adalah simbol kejelasan, kebaikan, dan kehangatan. Bila terang hadir, kegelapan pun menyingkir. Ketika terang menembus kehidupan yang gelap, maka pengharapan pun muncul, bertunas dan berbuah.

Terang itu berpusat pada berita kelahiran Yesus. Di sinilah letak bedanya. Terang manusia terbatas, kadang-kadang redup bahkan mati, kadang-kadang menyala dengan cerah. Terang manusia sesungguhnya bukan berasal dari dirinya, namun dari Sang Terang itu sendiri, yaitu Kristus. Mengapa terang manusia bisa kadang-kadang meredup atau bahkan mati? Terang Kristus tidak bekerja secara otomatis. Ia membutuhkan peran serta manusia untuk terus hidup di dalam terang melalui ketaatan pada kehendak-Nya.

Respons manusialah yang memengaruhi apakah terang itu dapat terus terpancar dalam hidupnya melalui perkataan, perbuatan, dan keputusan-keputusan yang diambilnya. Sementara itu, Terang Kristus terus bernyala tanpa batas, karena Dia adalah terang yang sejati. Itu artinya, kita hanya dapat menikmati dan tinggal di dalam Terang jika kita hidup di dalam Kristus.

Kristus adalah terang, sebab di dalam Dia ada kebenaran yang menelanjangi semua perbuatan dosa dan kebodohan. Kristus adalah terang karena di dalam Dia ada pengharapan yang memberi kita semangat untuk memperjuangkan hidup dengan karya-karya kebaikan. Di dalam terang Kristus ada kehangatan, karena terang itu memulihkan relasi yang dingin dan rusak. Terang Kristus menjadi sumber pembaharuan di alam kehidupan yang hampir binasa. Terang Kristus menjadi jawaban bagi kondisi pemulihan yang sempurna.

Setiap orang yang menyambut Kristus berarti menyambut terang itu di dalam hidupnya. Menyambut terang Kristus membawa konsekuensi, yaitu perubahan yang diawali dengan pertobatan. Perubahan ini tidak saja bersifat personal, tapi juga komunal, sebab terang Kristus memancar ke semua orang.

Natal dan terang memang menjadi simbol yang identik dan saling berkaitan. Namun sering kali kita hanya terpaku pada pernak-pernik Natal. Terang berhenti pada simbol pohon Natal yang kelap-kelip, atau penyalaan lilin yang syahdu dan mengharukan. Namun bagaimana dengan perubahan perilaku kita di tengah kehidupan yang membutuhkan pemulihan ini?

Kegelapan masih meliputi bumi, menenggelamkan pengharapan, merusak relasi, mengipasi kecurigaan dan kebencian. Situasi ini ada di sekitar kita, dan kita alami. Kejahatan dipertontonkan, ketidakadilan dianggap wajar, per-sekongkolan jahat merajalela. Yang jahat makin berjaya, yang salah menyikut yang benar dan menggilas yang baik. Bukankah kondisi ini amat memprihatinkan? Bukankah kondisi ini menggetarkan dan menggelisahkan kita di tengah perayaan Natal tahun ini?

Natal harus meriah, harus heboh, tapi… jangan salah paham. Kemeriahan ini harus merupakan tindakan-tindakan kebenaran, keadilan, dan pembelaan. Kehebohan ini mesti mengusir kegelapan dengan perjuangan kasih, kebaikan dan ketulusan. Ya, Natal mesti meriah dengan semua tindakan dan karya yang mengubah kehidupan ini menjadi lebih baik sebagai respons terang Kristus yang kita sambut. Di dalam terang Kristus ada kegembiraan dan harapan baru untuk terus memperjuangkan yang baik di dalam kehidupan ini.

Perjuangan ini belum selesai. Pengharapan ini tidak pupus sebab berita Natal memberikan kekuatan dan pengharapan baru kepada kita. Mari kita rayakan Natal tahun ini dengan kesiapan untuk menyalakan terang Kristus di dalam setiap aspek hidup kita.

Selamat merayakan Natal yang mengubah kehidupan. Selamat menghidupi semangat Natal dalam perjuangan kita untuk melakukan apa yang baik dan benar dalam kehidupan bersama ini. Biarlah terang Kristus terus menyala dalam tutur kata, perbuatan dan perjuangan kita. Semangat Natal tahun ini kiranya menggerakkan semangat setiap umat Tuhan untuk menjadi pelaku-pelaku kasih, kebenaran, dan keadilan. Semoga semangat Natal ini dirasakan oleh seluruh ciptaan-Nya, menggetarkan dan menghangatkan kehidupan yang beku dan dingin.

Selamat Natal, selamat memancarkan terang Kristus.•

»Pdt. Dahlia Vera Aruan

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Teologia
  • adalah sahabat
    Kamu adalah sahabat-Ku…!
    Dewasa ini, akibat kemajuan teknologi yang menghasilkan media sosial, email, WA, Line dan seterusnya, kita punya teman di mana-mana:...
  • hidup kita
    Rahasia Keberhasilan Hidup Kita
    “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!” (Mazmur 84:6) Pada abad ke-15, di sebuah desa...
  • Mari Mencinta!
    Masa Raya Paska 2018
    Karena Dicinta Yesus berkata, ”Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16). Ketika Tuhan Yesus...
  • Pikiran yang Ramai
    Hati yang Gelisah & Pikiran yang Ramai
    WASPADAI TIPU DAYA KESIBUKAN
    Pada tahun 1900-an, Frederick Wilson Taylor membawa sebuah stopwatch ke pabrik Midvale Steel di Philadelphia untuk mengukur kemampuan produktivitas...
  • Dengan Roh Yang Menyala Layanilah Tuhan
    Mengacu pada Roma 12:11-12, kita memperoleh petunjuk praktis dan sangat berguna bagi kita dalam kiprah berjemaat. “Janganlah hendaknya kerajinanmu...
Kegiatan