orpa

Namanya Orpa

Ruth 1:1-18

Belum ada komentar 121 Views

Namanya Orpa. Ia hanya muncul sekilas dalam kisah Ruth. Lazimnya malah disebut sekali dan lantas hilang dari percakapan. Pasalnya, setelah kedua anak Naomi wafat, salah satunya adalah suami Orpa, Naomi meminta kedua menantunya, Ruth dan Orpa, untuk kembali ke Moab, ke bangsa asal mereka. Keduanya menolak; namun Ruth memaksa. Akhirnya, sementara Ruth memilih untuk tetap mendampingi Naomi, Orpa memilih untuk kembali ke Moab, “kepada bangsanya dan kepada para allahnya” (1:15). Anak kalimat inilah yang tampaknya memberi kesan kuat kepada kita bahwa Orpa adalah seorang menantu yang tak setia, yang meninggalkan mertuanya yang sudah uzur itu. Sungguh berbeda dari Ruth yang setia, yang bahkan berseru, “ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana dan di sanalah aku dikuburkan” (1:16b-17a).

Akan tetapi, baik Ruth maupun Orpa sama-sama mengambil sebuah keputusan. Apa yang dipilih Orpa dan Ruth muncul dari rasa cinta mereka kepada Naomi, kepada mendiang suami mereka masing-masing. Dan lebih dari itu, Orpa memilih dan mengambil keputusan juga dengan rasa cintanya pada bangsanya. Dan tak ada yang keliru dengan itu. Ia mengklaim ulang identitasnya sebagai seorang Moab. Dengan pilihan itu, Orpa berbeda dari Ruth, yang justru kehilangan identitas sebagai seorang Moab dan terasimilasi ke dalam identitas baru yang dilekatkan padanya, yaitu Israel.

Sebagai seorang yang menjadi korban politik asimilasi pada masa Orde Baru, yang mengakibatkan saya kehilangan identitas saya sebagai seorang Tionghoa, langkah yang diambil Orpa sungguhlah luhur. Tak adil rasanya jika kita menuduhkan kepadanya sebuah stigma bahwa ia seorang yang tak setia. Orpa mengambil keputusan penting itu bukan karena ia tak mencintai Naomi; sebaliknya, ia memutuskan untuk kembali ke Moab karena cinta. Dan tak ada yang salah dengan itu semua.

Ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • allah menyesal
    Allah Menyesal
    Yun. 3:10-4:11; Mzm. 145:1-8; Flp. 1:21-30; Mat. 20:1-16
    Apabila ada salah seorang dari saudara kita yang berdosa kemudian bertobat dan Tuhan mengampuninya, bagaimana kah sikap kita, senang...
  • Mengampuni itu Indah
    Kejadian 50: 15-21, Mazmur 103: 1-13; Roma 14: 1-12; Matius 18: 21-35
    Seorang ibu dari Afrika Selatan, Joyce Ledwaba mengampuni pembunuh anaknya – Samuel yang berusia 17 tahun – Samuel menghilang...
  • besar hati
    Allah yang Besar Hati
    Yehezkiel 33:7-11; Mazmur 119:33-40; Roma 13:8-14; Matius 18:15-20
    Alih-alih menghendaki hal buruk (kematian) terjadi kepada orang berdosa, Allah lebih berkenan agar pertobatan terjadi dalam hidup mereka (Yehezkiel...
  • Kasih itu tidak Berpura-pura
    Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma. 12:9-21; Matius 16:21-28
    Kalimat ‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura’ (Roma 12:9). Dalam International Standard Version ditulis demikian: “Your love must be without...
  • Peduli : Mengutamakan Kepentingan Orang Lain
    Lukas 10:25-37
    Si ahli Taurat bertanya: ‘Siapa sesamaku’? Yesus bertanya: ‘Siapa sesamanya’? Kelihatannya sama, tetapi jauh berbeda. Yang satu tertutup (sesamaku)...
Kegiatan