Namanya Orpa

Namanya Orpa

Ruth 1:1-18

Belum ada komentar 224 Views

Namanya Orpa. Ia hanya muncul sekilas dalam kisah Ruth. Lazimnya malah disebut sekali dan lantas hilang dari percakapan. Pasalnya, setelah kedua anak Naomi wafat, salah satunya adalah suami Orpa, Naomi meminta kedua menantunya, Ruth dan Orpa, untuk kembali ke Moab, ke bangsa asal mereka. Keduanya menolak; namun Ruth memaksa. Akhirnya, sementara Ruth memilih untuk tetap mendampingi Naomi, Orpa memilih untuk kembali ke Moab, “kepada bangsanya dan kepada para allahnya” (1:15). Anak kalimat inilah yang tampaknya memberi kesan kuat kepada kita bahwa Orpa adalah seorang menantu yang tak setia, yang meninggalkan mertuanya yang sudah uzur itu. Sungguh berbeda dari Ruth yang setia, yang bahkan berseru, “ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana dan di sanalah aku dikuburkan” (1:16b-17a).

Akan tetapi, baik Ruth maupun Orpa sama-sama mengambil sebuah keputusan. Apa yang dipilih Orpa dan Ruth muncul dari rasa cinta mereka kepada Naomi, kepada mendiang suami mereka masing-masing. Dan lebih dari itu, Orpa memilih dan mengambil keputusan juga dengan rasa cintanya pada bangsanya. Dan tak ada yang keliru dengan itu. Ia mengklaim ulang identitasnya sebagai seorang Moab. Dengan pilihan itu, Orpa berbeda dari Ruth, yang justru kehilangan identitas sebagai seorang Moab dan terasimilasi ke dalam identitas baru yang dilekatkan padanya, yaitu Israel.

Sebagai seorang yang menjadi korban politik asimilasi pada masa Orde Baru, yang mengakibatkan saya kehilangan identitas saya sebagai seorang Tionghoa, langkah yang diambil Orpa sungguhlah luhur. Tak adil rasanya jika kita menuduhkan kepadanya sebuah stigma bahwa ia seorang yang tak setia. Orpa mengambil keputusan penting itu bukan karena ia tak mencintai Naomi; sebaliknya, ia memutuskan untuk kembali ke Moab karena cinta. Dan tak ada yang salah dengan itu semua.

Ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Luka di Hati, Bukan Prasasti
    Imamat 19:1-2, 15-18; Mazmur 1; 1 Tesalonika 2:1-8; Matius 22:34-46
    Siapa yang tidak tahu tentang luka? Kerusakan yang terjadi pada diri sendiri dan seringkali akan menimbulkan rasa sakit. Rasa...
  • Schooling Fish
    Yesaya 45:1-7; Mazmur 96:1-9; 1 Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
    Bayangkan saja kalau kita menjadi seekor ikan kecil. Kalau saja kita diberikan pilihan untuk hidup di akuarium atau di...
  • Rasa Haus
    Air menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak hal membutuhkan air. Mulai dari tubuh manusia sebagian besar terdiri...
  • Apa yang kita letakkan pertama?
    Yesaya 5:1-7; Mazmur 80:8-16; Filipi 3:4-14; Matius 21:33-46
    “Selalu ada yang pertama untuk segalanya.” Apa anda pernah mendengar kalimat tersebut? Ya, sebagian besar dari kita tentu akan...
  • Hidup Dalam Keramahan Dan Cinta
    Yehezkiel 18: 1-4, 25-32 Mazmur 25: 1-9 Filipi 2: 1-13. Matius 21: 23-32
    Perubahan ke arah yang lebih baik adalah dambaan semua orang. Saya yakin dan percaya bahwa semua orang, tanpa kecuali...
Kegiatan