Namanya Orpa

Namanya Orpa

Ruth 1:1-18

Belum ada komentar 256 Views

Namanya Orpa. Ia hanya muncul sekilas dalam kisah Ruth. Lazimnya malah disebut sekali dan lantas hilang dari percakapan. Pasalnya, setelah kedua anak Naomi wafat, salah satunya adalah suami Orpa, Naomi meminta kedua menantunya, Ruth dan Orpa, untuk kembali ke Moab, ke bangsa asal mereka. Keduanya menolak; namun Ruth memaksa. Akhirnya, sementara Ruth memilih untuk tetap mendampingi Naomi, Orpa memilih untuk kembali ke Moab, “kepada bangsanya dan kepada para allahnya” (1:15). Anak kalimat inilah yang tampaknya memberi kesan kuat kepada kita bahwa Orpa adalah seorang menantu yang tak setia, yang meninggalkan mertuanya yang sudah uzur itu. Sungguh berbeda dari Ruth yang setia, yang bahkan berseru, “ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana dan di sanalah aku dikuburkan” (1:16b-17a).

Akan tetapi, baik Ruth maupun Orpa sama-sama mengambil sebuah keputusan. Apa yang dipilih Orpa dan Ruth muncul dari rasa cinta mereka kepada Naomi, kepada mendiang suami mereka masing-masing. Dan lebih dari itu, Orpa memilih dan mengambil keputusan juga dengan rasa cintanya pada bangsanya. Dan tak ada yang keliru dengan itu. Ia mengklaim ulang identitasnya sebagai seorang Moab. Dengan pilihan itu, Orpa berbeda dari Ruth, yang justru kehilangan identitas sebagai seorang Moab dan terasimilasi ke dalam identitas baru yang dilekatkan padanya, yaitu Israel.

Sebagai seorang yang menjadi korban politik asimilasi pada masa Orde Baru, yang mengakibatkan saya kehilangan identitas saya sebagai seorang Tionghoa, langkah yang diambil Orpa sungguhlah luhur. Tak adil rasanya jika kita menuduhkan kepadanya sebuah stigma bahwa ia seorang yang tak setia. Orpa mengambil keputusan penting itu bukan karena ia tak mencintai Naomi; sebaliknya, ia memutuskan untuk kembali ke Moab karena cinta. Dan tak ada yang salah dengan itu semua.

Ja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu
  • Tidak Mengerti Namun Segan Menanyakannya
    Markus 9:30-37
    Bertanya adalah bagian dari proses belajar. Dengan bertanya kita membuka ruang untuk berdialog, membagi dan mendapat pengertian yang baru....
  • Memilih Menyuarakan Kebenaran
    Markus 8:27-38
    Siapa sih di dunia ini yang ingin mendengarkan kebohongan atau mendengarkan sesuatu yang tidak sebenarnya? Rasanya setiap kita ingin...
  • Iman Yang Membebaskan
    Markus 7: 24-37
    Kebebasan adalah hal yang mendasar dalam kehidupan manusia dan seharusnya mencirikan martabat manusia yang bertanggung jawab dalam menentukan dirinya...
  • Hidup Dalam Dia, Cukuplah
    Ulangan 4:1-2, 6-9; Mzmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8,14-15,21-23
    Mengenal firman dan menghidupi firman menjadi cara kita hidup di dalam Dia. Hidup di dalam Dia bukan hanya ditandai...
  • Pemeliharaan Allah, Cukuplah
    Yosua 24:1-2,14-18; Mazmur 34:16-23; Efesus 6:10-20; Yohanes 6:56-69
    Berjalan bersama, mengalami bersama adalah cara kita membuktikan kasih penyertaan Tuhan dalam hidup. Peristiwa demi peristiwa baik di saat...